CNN Indonesia
Rabu, 15 Apr 2026 09:00 WIB
Ilustrasi. Pria bisa mengalami puber kedua, kenali gejalanya. (iStockphoto/Galina Kiseleva)
Jakarta, CNN Indonesia --
Banyak laki-laki mengira perubahan tubuh dan emosi hanya terjadi saat remaja. Padahal, ada fase lain nan kerap disebut sebagai 'puber kedua'. Fase ini biasanya muncul pada usia 30 hingga 50 tahun, ketika hormon, terutama testosteron mulai menurun secara bertahap.
Meski tidak seintens masa pubertas remaja, perubahan ini nyata dan dapat memengaruhi kondisi fisik, mental, hingga kualitas hidup. Istilah nan digunakan untuk menggambarkan kondisi ini adalah andropause, ialah fase penurunan hormon testosteron secara perlahan seiring bertambahnya usia.
Menukil dari Biology Insights, setelah usia 30 tahun, kadar testosteron laki-laki dapat menurun sekitar 1 persen setiap tahun. Penurunan ini memicu beragam perubahan biologis, mulai dari energi, komposisi tubuh, hingga suasana hati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir dari beragam sumber, perubahan ini sering terjadi secara perlahan sehingga banyak laki-laki tidak menyadarinya. Berikut tanda-tanda nan paling umum:
Mengutip dari His Health Mag, laki-laki usia 30 hingga 40-an sering mulai merasa sigap lelah, apalagi setelah aktivitas ringan. Hal ini dipicu oleh turunnya testosteron dan hormon pertumbuhan nan berkedudukan menjaga stamina dan vitalitas.
2. Massa otot berkurang dan lemak bertambah
Salah satu perubahan paling terlihat adalah tubuh nan mulai berubah. Massa otot berkurang, sementara lemak, terutama di area perut lebih mudah menumpuk. Kondisi ini juga meningkatkan akibat penyakit metabolik seperti diabetes.
3. Perubahan suasana hati
Perubahan suasana hati, mudah marah, hingga emosi resah alias depresi bisa muncul. Perubahan hormon memengaruhi unsur kimia di otak seperti serotonin dan dopamin nan berkedudukan dalam mengatur emosi.
4. Gangguan tidur
Testosteron juga berkedudukan dalam siklus tidur. Ketika kadarnya menurun, laki-laki bisa mengalami insomnia, tidur tidak nyenyak, alias sering terbangun pada malam hari.
5. Penurunan antusiasme seksual
Penurunan libido menjadi salah satu tanda nan paling sering disadari. Selain itu, beberapa laki-laki juga mengalami gangguan kegunaan seksual, nan dapat berakibat pada kepercayaan diri dan hubungan.
6. Sulit fokus
Beberapa laki-laki melaporkan kesulitan berkonsentrasi, mudah lupa, alias merasa pikirannya 'berkabut'. Hal ini berangkaian dengan perubahan hormon nan turut memengaruhi kegunaan kognitif.
Penurunan testosteron juga dapat memengaruhi kesehatan jantung, meningkatkan tekanan darah, hingga memperbesar akibat penyakit kardiovaskular. Selain itu, kepadatan tulang dapat menurun, sehingga laki-laki lebih rentan terhadap osteoporosis.
Perubahan hormon ini juga dapat menyebabkan resistensi insulin nan berangkaian dengan glukosuria jenis 2 dan obesitas.
Meski demikian, perubahan ini dapat dikelola dengan style hidup sehat. Olahraga rutin, terutama latihan beban dapat membantu menjaga massa otot dan keseimbangan hormon. Pola makan seimbang, tidur cukup, serta manajemen stres juga berkedudukan penting.
Dalam beberapa kasus, terapi hormon seperti testosterone replacement therapy (TRT) dapat menjadi pilihan. Namun, terapi ini kudu dilakukan di bawah pengawasan medis lantaran mempunyai akibat tertentu.
Banyak laki-laki menganggap perubahan ini sebagai perihal nan wajar seiring bertambahnya usia. Padahal, mengenali tanda-tanda puber kedua bisa menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan jangka panjang.
(nga/tis)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·