Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan kondisi pangan dan daya nasional tetap kondusif saat periode Lebaran ini meski bentrok di Timur Tengah masih memanas.
"Kita untuk Lebaran ini kondusif dari segi pangan dan kemudian dari segi daya juga relatif tetap aman," katanya di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Rabu (4/3).
Menurut dia, kebutuhan energi, termasuk LPG, telah diamankan melalui diversifikasi sumber pasokan, salah satunya dari Amerika Serikat (AS). Pengalihan sumber impor tersebut merupakan bagian dari kesepakatan dalam Agreement on Reciprocal Tariff (ART) antara Indonesia dan AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk kebutuhan daya kita sudah mencari sumber lain seperti dalam agreement on reciprocal tariff, kita mendapatkan pengganti daripada daya termasuk LPG dari Amerika," ucap Airlangga.
Pertamina juga telah menandatangani nota kesepahaman alias Memorandum of Understanding (MoU) dengan mitra di AS sebagai tindak lanjut kerja sama tersebut. Melalui kesepakatan itu, Indonesia mempunyai pengganti pasokan andaikan suplai dari Timur Tengah terganggu akibat perang.
"Pertamina sudah membikin MoU, sehingga dengan demikian sumber lain juga sebetulnya secara paralel dipersiapkan seandainya suplai dari Timur Tengah betul-betul terganggu lantaran perang berkepanjangan," ujar Airlangga.
Pemerintah terus memonitor perkembangan bentrok di Timur Tengah untuk memastikan stabilitas pangan dan daya nasional tetap terjaga.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pun telah memutuskan mengalihkan sebagian impor minyak mentah (crude) dari Timur Tengah ke AS di tengah memanasnya perang Iran melawan keroyokan AS-Israel.
"Sekarang ini untuk crude nan kita ambil dari Timur Tengah, sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika. Supaya apa? Ada kepastian kesiapan crude kita," ucap Bahlil, Selasa (3/3).
Untuk BBM jenis RON 90, RON 93, 95, dan RON 98, Bahlil memastikan pasokan tidak berjuntai pada Timur Tengah lantaran selama ini diimpor dari area lain, termasuk Asia Tenggara.
Sementara untuk LPG, Indonesia mengimpor sekitar 7,3 juta ton per tahun dan tahun ini meningkat menjadi 7,8 juta ton. Sebanyak 70 persen dipasok dari Amerika Serikat dan 30 persen dari Timur Tengah, termasuk Saudi Aramco.
Namun, memandang dinamika konflik, pemerintah juga menyiapkan opsi pengalihan pasokan LPG dari negara nan tidak terdampak penutupan Selat Hormuz.
"Maka alternatifnya adalah kita switch lagi agar kita tidak mau ambil risiko, sebagiannya kita switch lagi untuk kita shopping di negara nan tidak ada kaitannya dengan selat Hormuz," ujar Bahlil.
[Gambas:Video CNN]
(dhz/pta)
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·