CNN Indonesia
Selasa, 24 Feb 2026 16:00 WIB
Ifan Seventeen menjelaskan maksud dan tujuan bioskop negara Sinewara setelah dibombardir beragam komentar skeptis netizen. (Arsip Istimewa via Detikcom)
Jakarta, CNN Indonesia --
Direktur Utama PT Produksi Film Negara (PFN), Riefian Fajarsyah alias dikenal sebagai Ifan Seventeen, menjelaskan maksud dan tujuan bioskop negara Sinewara setelah dibombardir beragam komentar skeptis netizen.
Dalam sebuah video nan diunggah di media sosial pada Senin (23/2), Ifan menjelaskan bahwa Sinewara nan merupakan bioskop negara pertama Indonesia itu dibangun didasarkan lantaran ketimpangan sebaran bioskop.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun di sisi lain, minat publik terhadap movie Indonesia terus bertumbuh. Ifan mengutip info pada 2025, bahwa sebesar 70 persen movie nan tayang di bioskop adalah movie lokal dan total penonton mencapai 80,27 juta orang.
"Itu berarti, kita sudah menjadi tuan rumah di negara kita sendiri," kata Ifan.
Ifan mengatakan Indonesia saat ini hanya mempunyai sekitar 2.400 layar dan terpusat di kota-kota besar. Sementara untuk negara dengan populasi sebanyak dan seluas Indonesia, idealnya mempunyai sekitar 10 ribu layar lebar.
"Karena itu kami di PFN menginisiasi Sinewara. Sinewara adalah bioskop negara nan konsentrasi memutar film-film lokal saja, dan bakal dibangun di kabupaten maupun kota nan selama ini belum punya bioskop. Cuma nanti, pilot project bakal dibangun pertama kali di PFN, Otista," kata Ifan.
Ifan juga menepis dugaan bahwa proyek Sinewara ini bakal menghabiskan banyak biaya negara. Ia menyebut bioskop unik movie lokal ini bakal dibangun "melalui kerjasama dengan kepala daerah, biaya CSR, dan juga private sector."
"Karena kembali lagi, tujuannya bukan hanya membangun bioskop, tapi juga menciptakan creative hub agar industri movie dan ekonomi imajinatif tidak hanya tumbuh di kota besar saja tapi juga teman-teman nan ada di wilayah bisa merasakannya," kata Ifan.
Namun dalam video tersebut, Ifan belum menegaskan kapan proyek ini bakal dibangun, bujet anggarannya, dan kapan ditargetkan untuk beroperasi.
Sudah sejak lama organisasi perfilman lokal menyuarakan kebutuhan Indonesia untuk mempunyai bioskop lebih banyak, nan dipandang idealnya adalah 10 ribu layar.
Dengan situasi jumlah bioskop nan ada saat ini sementara produksi movie lokal sudah mencapai 200 titel dalam setahun, maka seringkali movie tidak dapat mencapai jumlah sasaran penonton akibat persaingan nan sangat ketat apalagi terbilang kanibal.
Persaingan tersebut semakin ketat dengan keputusan upaya jaringan bioskop untuk penayangan film, ialah movie nan tak sanggup mendatangkan penonton --misalnya minimal 10 persen dari jumlah bangku per layar di hari kedua tayang-- berisiko langsung diturunkan.
Hal itu disebut pengamat movie Hikmat Darmawan mendorong para produser dan sineas melakukan "apa saja" agar filmnya tetap memperkuat untuk bisa berjumpa penonton nan biasanya datang ke bioskop pada akhir pekan, termasuk membeli sendiri tiket filmnya demi tidak diturunkan oleh bioskop.
"Masalah sebenarnya adalah infrastruktur: menambah jumlah layar dan memperbaiki sistem pemutaran. Mengenai poin tentang programming (penjadwalan), perihal itu memang menjadi kunci masalahnya," kata Hikmat dalam kesempatan terpisah beberapa waktu lalu.
"Infrastruktur nan dimaksud adalah akses nan lebih luas, jumlah layar bioskop nan lebih banyak, serta sistem nan tidak dikuasai oleh satu alias dua pemain besar saja, dan perbaikan-perbaikan lainnya," katanya.
[Gambas:Instagram]
(end)
[Gambas:Video CNN]
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·