Jakarta, CNN Indonesia --
Paparan bunyi bising dalam jangka waktu tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran, baik sementara maupun permanen.
Namun, sebagian orang mungkin tetap belum memahami apa ancaman bunyi nan keras terhadap telinga. Dengan memahami dampaknya, kita dapat mempunyai kesadaran untuk menjaga indra pendengar ini.
Bahaya tersebut tidak hanya berasal dari mesin, lampau lintas, alias perangkat berat. Kebiasaan sehari-hari seperti mendengarkan musik dengan volume tinggi menggunakan earphone atau pengeras bunyi (speaker) berkekuatan besar juga bisa berisiko.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menggunakan pelindung telinga, mengurangi paparan bunyi keras, serta memberi waktu rehat bagi telinga adalah langkah efektif untuk mencegah kerusakan permanen.
Bahaya bunyi keras terhadap telinga
Apa ancaman bunyi nan keras terhadap telinga? Jika dibiarkan, kondisi ini dapat merusak kualitas pendengaran secara permanen.
Melansir penjelasan dalam buku Ergonomi Partisipatori Implementasi Bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja karya Bambang Suhardi, bunyi keras dapat memengaruhi sistem pendengaran secara langsung.
Bagian telinga seperti ossicular, tympanic membrane, oval window, hingga cochlear sangat rentan rusak jika terpapar bising terus-menerus.
Dampaknya bukan hanya pada pendengaran, tetapi juga pada komunikasi, performa kerja, hingga kesehatan mental.
Gangguan akibat kebisingan
Gangguan akibat kebisingan terbagi menjadi beberapa kategori. Berikut masing-masing penjelasannya.
1. Gangguan fisiologis
Gangguan fisiologis nan muncul dalam corak peningkatan tekanan darah, metabolisme, serta penyempitan pembuluh darah kecil. Kondisi ini bisa memicu pucat, rasa lelah, hingga gangguan sensoris nan mengganggu aktivitas sehari-hari.
2. Gangguan psikologis
Kebisingan juga dapat menimbulkan gangguan psikologis. Suara keras membikin seseorang mudah merasa tidak nyaman, susah berkonsentrasi, hingga mudah stres.
Bila berjalan lama, kondisi ini dapat memicu gangguan tidur, psikosomatis seperti maag, apalagi penyakit jantung koroner.
3. Gangguan komunikasi
Lingkungan nan bising sering membikin orang kesulitan mendengar instruksi, percakapan, alias tanda bahaya. Hal ini dapat menimbulkan salah paham, meningkatkan akibat kecelakaan, dan menurunkan efektivitas komunikasi sehari-hari.
4. Gangguan keseimbangan
Gangguan berikutnya adalah gangguan keseimbangan. Kebisingan nan terlalu keras bisa memengaruhi sistem sensorik sehingga menimbulkan indikasi seperti pusing, mual, hingga hilangnya stabilitas tubuh.
Dampak paling serius dari paparan bunyi keras adalah gangguan pendengaran alias ketulian. Pada tahap awal, gangguan ini berkarakter sementara, tetapi jika seseorang terus terpapar kebisingan, akibat kehilangan pendengaran secara permanen semakin besar.
Jenis-jenis ketulian
Ketulian terbagi menjadi dua jenis. Pertama adalah tuli sementara (Temporary Threshold Shift/TTS) dan jenis kedua adalah tuli menetap (Permanent Threshold Shift/PTS).
1. Tuli sementara
Tuli sementara terjadi akibat paparan singkat dengan intensitas tinggi, misalnya setelah menonton konser alias berada di area bising. Pendengaran biasanya bisa pulih setelah telinga mendapat waktu istirahat.
2. Tuli menetap
Kondisi ini muncul akibat paparan lama dan berulang, dipengaruhi oleh intensitas suara, durasi, pola kebisingan, hingga kondisi kesehatan individu. Kerusakan ini berkarakter permanen dan susah dipulihkan.
Faktor lain nan memperbesar akibat ketulian antara lain usia, riwayat gangguan pendengaran, lamanya terpapar bunyi bising, serta jarak dari sumber suara.
Bahkan style hidup sehari-hari, seperti mendengarkan musik terlalu keras dengan earphone, juga dapat memperparah kerusakan.
Sebagai info tambahan, menurut penjelasan dalam buku Dasar-Dasar Kesehatan dan Keselamatan Kerja: Edisi 1 karya Drs. Irzal, standar OSHA menyebut bahwa paparan bunyi di atas 85 dB secara terus-menerus dapat merusak sistem pendengaran.
Jika tingkat kebisingan mencapai 95 dB dan didengar lebih dari 4 jam, akibat gangguan pendengaran semakin besar. Bahkan pada gelombang 115 dB, hanya 15 menit paparan sehari sudah cukup untuk menghilangkan keahlian mendengar.
Itu dia jawaban atas pertanyaan apa ancaman bunyi nan keras terhadap telinga. Semoga dapat menambah pengetahuan untuk menjaga kesehatan indra pendengar.
(han/juh)
6 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·