Jakarta, CNN Indonesia --
Belakangan etanol ramai dibicarakan sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM). Sebenarnya apa itu etanol dalam BBM?
Etanol dikenal sebagai bahan bakar pengganti nan dapat dicampurkan dengan bensin untuk mengurangi emisi karbon. Saat ini penggunaan etanol banyak dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa itu etanol dalam BBM?
Dilansir dari laman Pertamina, etanol adalah senyawa kimia nan dikenal dengan nama lain etil alkohol alias alkohol. Senyawa ini mempunyai rumus kimia C₂H₅OH nan merupakan salah satu jenis alkohol nan paling umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Ada pula bioetanol, ialah etanol nan dihasilkan melalui proses fermentasi gula dari bahan alami seperti tebu, jagung, ubi jalar, kentang, alias jerami. Tidak hanya glukosa nan bisa difermentasi, tetapi juga fruktosa dan beberapa jenis gula lain.
Proses fermentasi ini melibatkan pemecahan molekul gula menjadi etanol dengan support daya dari sinar mentari nan diperoleh melalui fotosintesis.
Peran etanol sebagai bahan bakar alternatif
Etanol banyak digunakan sebagai bahan campuran dalam bahan bakar kendaraan bermotor. Campuran ini dikenal dengan istilah gasohol, ialah campuran antara bensin (gasoline) dan alkohol (etanol).
Umumnya, etanol dicampurkan dalam kadar tertentu, seperti E5 (5% etanol, 95% bensin), E10, hingga E85 pada kendaraan nan mendukung sistem flex fuel.
Mengutip dari laman Departemen Energi AS, lebih dari 98% bensin di Amerika Serikat sudah mengandung etanol untuk membantu mengoksigenasi bahan bakar dan mengurangi polusi udara.
Campuran E10, misalnya, bisa menurunkan kadar emisi rawan sekaligus meningkatkan nomor oktan bahan bakar. Etanol mempunyai nomor oktan nan lebih tinggi dibandingkan bensin sehingga bisa mencegah terjadinya engine knocking alias ketukan mesin, serta membantu mesin bekerja lebih efisien.
Namun, lantaran etanol mempunyai kandungan daya sekitar 30% lebih rendah dibandingkan bensin, maka efisiensi bahan bakar bisa sedikit berkurang tergantung pada kadar etanol nan digunakan.
Meski begitu, secara keseluruhan, etanol dalam BBM tetap dianggap lebih bersih dan berkepanjangan dibandingkan bahan bakar fosil murni.
Manfaat penggunaan etanol dalam BBM
Masih melansir dari laman Pertamina, penggunaan etanol dalam BBM mempunyai beragam faedah penting, terutama dalam konteks lingkungan dan ekonomi energi. Beberapa faedah utamanya adalah sebagai berikut.
1. Mengurangi emisi gas rumah kaca
Etanol dapat menurunkan emisi karbon dioksida (CO₂) nan dihasilkan kendaraan bermotor. Hal ini membuatnya menjadi solusi untuk mengurangi akibat pemanasan global.
2. Mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil
Dengan memanfaatkan sumber daya terbarukan seperti tanaman penghasil gula dan pati, negara dapat menekan impor minyak bumi dan meningkatkan kemandirian energi.
3. Ramah lingkungan
Proses pembakaran etanol menghasilkan emisi nan lebih bersih dibandingkan bensin alias solar, sehingga membantu menekan polusi udara dan air.
4. Meningkatkan permintaan hasil tani
Produksi bioetanol membuka kesempatan bagi petani lokal untuk menyuplai bahan baku seperti tebu, singkong, dan jagung, nan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah.
5. Bisa digunakan pada kendaraan nan sudah ada
Campuran etanol dalam kadar rendah seperti E5 alias E10 bisa digunakan tanpa perlu memodifikasi mesin kendaraan secara signifikan.
Dampak penggunaan etanol pada BBM
Berdasarkan hasil kajian ilmiah berjudul Effect of Ethanol-Gasoline Blend on SI Engine Performance and Emissions dalam Science Direct serta A Review On The Effects of Ethanol/Gasoline Fuel Blends on NOx Emissions in Spark-Ignition Engines karya Paolo Iodice, pencampuran etanol dalam bahan bakar bensin (BBM) juga dapat menimbulkan beberapa akibat pada kendaraan. Berikut penjelasannya.
1. Konsumsi bahan bakar lebih boros
Energi nan dilepaskan saat bahan bakar dibakar disebut lower heating value (LHV). Etanol mempunyai nilai LHV sekitar 27 megajoule per kilogram (MJ/kg), sedangkan bensin murni berkisar antara 43-44 MJ/kg.
Karena kandungan energinya lebih rendah, satu liter bensin nan dicampur etanol menyimpan daya lebih sedikit dibandingkan bensin biasa. Akibatnya, mesin memerlukan volume bahan bakar nan lebih besar untuk menghasilkan tenaga nan sama.
Bagi pengguna kendaraan, perihal ini tampak pada jarak tempuh per liter nan sedikit berkurang, terutama pada campuran etanol tinggi seperti E20 alias lebih. Untuk campuran rendah (misalnya E5-E10), selisihnya tidak terlalu besar, namun tetap membikin konsumsi bahan bakar sedikit lebih royal secara keseluruhan.
2. Mesin susah dinyalakan saat cuaca dingin
Agar mesin mudah menyala, bahan bakar kudu sigap menguap agar bisa bercampur dengan udara secara merata. Kemampuan bahan bakar untuk menguap diukur dengan nilai Reid Vapor Pressure (RVP).
Bensin mempunyai RVP nan tinggi, sekitar 53-60 kilopascal, sedangkan etanol jauh lebih rendah, sekitar 17 kilopascal. Pada suhu dingin, bahan bakar nan mengandung etanol menjadi susah menguap, sehingga campuran udara dan bahan bakar menjadi terlalu miskin.
Akibatnya, mesin lebih susah dinyalakan, terutama di wilayah bersuhu rendah alias saat pagi hari. Kondisi ini dikenal dengan istilah cold start problem.
3. Penurunan efisiensi volumetrik
Dampak lainnya adalah penurunan volumetric efficiency, ialah ukuran seberapa efisien silinder mesin dapat menarik udara dan bahan bakar ke dalam ruang bakar. Semakin tinggi nilainya, pembakaran menjadi semakin sempurna.
Namun, pada bahan bakar dengan campuran etanol nan tinggi, efisiensi ini dapat menurun. Salah satu penyebabnya adalah perbedaan sifat bentuk antara etanol dan bensin.
Etanol mempunyai densitas dan titik penguapan nan berbeda, sehingga proses pengabutan bahan bakar tidak seideal bensin murni. Akibatnya, campuran udara dan bahan bakar tidak selalu optimal, nan berpotensi menurunkan performa mesin.
4. Emisi NOx nan tidak konsisten
Gas NOx (oksida nitrogen) terbentuk akibat suhu pembakaran nan tinggi. Etanol sebenarnya mempunyai pengaruh pendinginan alami saat menguap, nan secara teori dapat menurunkan suhu pembakaran dan menekan pembentukan NOx.
Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh ini tidak selalu konsisten. Pada campuran etanol rendah seperti E5-E10, peningkatan kecepatan pembakaran terkadang justru menyebabkan suhu puncak ruang bakar naik sehingga emisi NOx menjadi lebih tinggi.
Artinya, tidak semua campuran etanol otomatis lebih ramah terhadap emisi gas buang tersebut.
Nah, itulah penjelasan dari apa itu etanol dalam BBM. Semoga bermanfaat.
(gas/fef)
[Gambas:Video CNN]
5 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·