CNN Indonesia
Rabu, 04 Mar 2026 08:16 WIB
Ilustrasi. Apakah boleh cuci darah saat puasa? Simak penjelasannya berikut ini. (Freepik)
Jakarta, CNN Indonesia --
Cuci darah atau hemodialisis biasanya diperlukan pada pasien dengan masalah ginjal. Apakah boleh cuci darah saat puasa?
Saat ginjal tidak bisa membuang unsur sisa dan kelebihan cairan, seseorang perlu rutin melakukan cuci darah. Cuci darah diperlukan pada pasien kandas ginjal kronis alias kandas ginjal akut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip dari Alodokter, kandas ginjal dapat dikenali dari beberapa tanda berikut.
- Gejala uremia, penumpukan urea (racun) dengan indikasi gatal, mual, muntah, tidak nafsu makan, dan kelelahan.
- Asidosis, kadar masam darah sangat tinggi.
- Bengkak di beberapa bagian tubuh lantaran ginjal tidak bisa membuang kelebihan cairan.
- Hiperkalemia, kadar kalium darah sangat tinggi.
Apakah boleh cuci darah saat puasa?
Seperti dilansir dari laman RS Universitas Indonesia, rekomendasi International Diabetes Federation and Diabetes and Ramadan International Alliance (IDF-DAR) menyebut pasien kandas ginjal nan menjalani cuci darah masuk dalam kategori sangat berisiko tinggi. Kelompok ini tidak dianjurkan untuk berpuasa.
Kemudian dari sisi agama, tindakan cuci darah dapat membatalkan puasa. Saat hemodialisis, terdapat proses memasukkan kembali darah dengan komponen nan berkarakter nutrisi. Nutrisi ini jumlahnya besar seperti diinfus cairan dan makanan.
Cuci darah dapat membatalkan puasa karena terdapat perubahan nutrisi dan cairan selama prosesnya.
Meski tidak dianjurkan, pasien kandas ginjal nan menjalani cuci darah tetap dapat berpuasa di luar agenda cuci darah. Artinya, saat agenda cuci darah, pasien tidak dianjurkan berpuasa.
Apakah boleh cuci darah saat puasa? Keputusan untuk berpuasa alias tidak perlu dikonsultasikan dengan dokter.
Lewat konsultasi ini, master bakal mengevaluasi kondisi pasien, mempersiapkan, mengatur konsumsi obat, dan memantau kondisi pasien selama puasa.
Pasien kandas ginjal nan mau berpuasa perlu memperhatikan beberapa perihal berikut.
1. Pasien mendapat izin dari master untuk berpuasa. Konsultasi dilakukan berkala untuk memantau kondisi.
2. Pasien segera membatalkan puasa saat kreatinin plasma naik 30 persen. Kenaikan kreatinin plasma ditandai tubuh lemas, mual, muntah, urine berwarna gelap, pembengkakan, kram, kulit gatal, dan gangguan tidur.
3. Pasien dimonitor dua kali seminggu.
4. Buka puasa menghindari makanan tinggi kalium seperti, pisang, nangka, alpukat, gorengan, kacang-kacangan, singkong, keju, minuman soda, kopi, dan teh.
5. Konsumsi cairan 1-2,5 liter secara bertahap.
6. Konsumsi obat rutin.
7. Tidak berpuasa saat agenda cuci darah.
(els)
[Gambas:Video CNN]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·