#USTAZTANYADONG
CNN Indonesia
Rabu, 11 Mar 2026 15:30 WIB
Ilustrasi. Hukum suntik saat puasa, bikin batal alias tetap bisa dilakukan?. (iStock/nikom1234)
Jakarta, CNN Indonesia --
Puasa Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga diri dari hal-hal nan dapat membatalkan ibadah tersebut. Di tengah perkembangan bumi medis, muncul pertanyaan baru nan sering ditanyakan umat Muslim, apakah menggunakan suntikan alias infus saat berpuasa bikin puasa auto batal?
Pertanyaan ini sering muncul, terutama ketika seseorang memerlukan perawatan medis, seperti suntikan vitamin alias obat di siang hari saat menjalankan puasa.
Dalam program Ramadan spesial #UstazTanyaDong, CNNIndonesia.com menghadirkan sesi tanya jawab langsung berbareng Anggota MUI Kota Bandung sekaligus FKUB Kota Bandung, KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi, untuk menjawab beragam persoalan ibadah nan kerap muncul di masyarakat selama Ramadan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut penjelasan para ulama, penggunaan suntikan alias infus sebenarnya mempunyai beberapa pandangan norma nan berbeda dalam fiqih.
Mayoritas ustadz beranggapan bahwa tindakan menyuntik obat alias injeksi tidak membatalkan puasa. Alasannya, cairan alias obat nan dimasukkan ke dalam tubuh tidak melalui lubang tubuh nan terbuka, seperti mulut, hidung, telinga, dubur, alias kemaluan.
Dalam fiqih puasa, sesuatu umumnya dianggap membatalkan puasa andaikan masuk ke dalam tubuh melalui saluran terbuka tersebut. Karena itu, injeksi nan diberikan melalui kulit alias pembuluh darah tidak termasuk dalam kategori tersebut.
"Artinya, suntikan obat nan bermaksud untuk pengobatan pada dasarnya tidak membatalkan puasa," kata Ustaz Wahyul.
Berbeda dengan suntikan obat biasa, penggunaan infus alias suntikan vitamin sering menjadi bahan perdebatan di kalangan ulama.
Infus dilakukan dengan memasukkan cairan alias nutrisi ke dalam tubuh melalui pembuluh darah. Tujuan medisnya adalah sebagai resusitasi cairan, ialah proses penggantian cairan tubuh ketika seseorang berada dalam kondisi kritis alias kehilangan banyak cairan.
Setelah mendapatkan infus, tubuh biasanya terasa lebih segar dan tidak mudah lapar, meskipun sebenarnya tidak membikin seseorang merasa kenyang seperti makan.
"Karena pengaruh inilah, sebagian ustadz memandang infus berpotensi menyerupai kegunaan makan alias minum sehingga dinilai lebih kondusif untuk dihindari saat berpuasa," katanya.
Dalam kitab Fatawa Mu'ashirah, ustadz kontemporer Yusuf al-Qaradawi menjelaskan bahwa infus memang tidak secara langsung membatalkan puasa lantaran cairannya tidak masuk melalui lubang tubuh nan terbuka.
Namun, beliau lebih menyarankan agar penggunaan infus dihindari ketika seseorang sedang berpuasa. Alasannya, meskipun tidak mengenyangkan, infus dapat membikin tubuh terasa lebih segar dan mengurangi rasa lapar maupun dahaga.
Dari sisi kehati-hatian dalam beribadah, meninggalkan hal-hal nan berpotensi meragukan dianggap sebagai pilihan nan lebih aman.
Ada pula pendapat nan menyatakan bahwa semua corak injeksi, baik obat maupun nutrisi, dapat membatalkan puasa. Pendapat ini diambil sebagai langkah kehati-hatian agar seseorang tidak melakukan perihal nan dapat merusak ibadah puasanya.
"Karena adanya perbedaan pandangan ini, banyak ustadz menyarankan untuk menghindari infus alias suntikan vitamin saat berpuasa jika tidak betul-betul diperlukan," jelasnya.
Dalam Islam, orang nan sedang sakit sebenarnya mendapat keringanan untuk tidak berpuasa. Mereka diperbolehkan mengganti puasa tersebut di hari lain ketika kondisi tubuh sudah memungkinkan.
Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Baqarah 286 nan menegaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.
Karena itu, jika seseorang memerlukan perawatan medis seperti infus alias suntikan nutrisi, maka boleh saja tidak berpuasa terlebih dulu dan menggantinya di waktu lain setelah sembuh.
Punya pertanyaan lain seputar puasa? Selama bulan Ramadan, CNNIndonesia.com menghadirkan program #UstazTanyaDong. Anda bisa langsung mengirimkan pertanyaan melalui akun media sosial CNN Indonesia dan mendapatkan jawaban langsung dari KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi.
Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tapi juga belajar lebih tenang, bijak, dan penuh pengetahuan dalam menjalani ibadah.
(tis/tis)
[Gambas:Video CNN]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·