Jakarta, CNN Indonesia --
Mudik menjadi sebuah tradisi tahunan masyarakat Indonesia nan erat kaitannya dengan hari raya Idul Fitri, Natal, dan tahun baru. Saat mudik, para pekerja di kota-kota besar alias perantau bakal beramai-ramai kembali lagi ke wilayah asalnya.
Namun tahukah kamu, apa makna kata mudik sebenarnya? Ternyata, asal-usul penggunaan kata mudik sudah ada sejak era dulu sekali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyak orang mengira mudik diambil dari akronim bahasa Jawa, ialah mulih dilik atau pulang sebentar. Namun ternyata, pegiat bahasa Ivan Lanin dalam cuitannya menyebut bahwa arti tersebut merupakan keratabasa alias menerangkan makna sebuah kata berasas suku katanya.
""Mudik" berasal dari kata "udik" (hulu) dan bukan hanya dipakai dalam bahasa Jawa. Penyamaan mudik = mulih dilik itu keratabasa," tulisnya dalam X.
Contoh keratabasa nan umum muncul di masyarakat adalah tidak suka nan diinterpretasikan sebagai 'benar-benar cinta'.
Di sisi lain, ada nan beranggapan jika kata mudik diambil dari bahasa Melayu, ialah udik nan mempunyai makna hulu alias ujung. Hal ini sesuai dengan kebiasaan masyarakat Melayu silam nan banyak tinggal di bagian hulu sungai. Setelah urusannya selesai di hilir, maka mereka bakal pulang kembali ke hulu pada sore hari dengan menggunakan perahu.
Ada juga nan beranggapan jika mudik ini berasal dari bahasa Betawi, udik nan artinya kampung alias desa. Jadi mudik adalah sebuah tradisi para perantau kembali pulang ke desa dari perantauan.
Arti kata mudik dan asal-usul penggunaannya
Berbagai sumber menyebut, makna kata mudik rupanya sudah digunakan pada sebuah naskah nan berjudul Hikayat Raja Pasai tahun 1390. Pada naskah tersebut, mudik mempunyai makna pergi menuju hulu sungai.
Arti ini mirip dengan apa makna mudik nan diterangkan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam KBBI online, mudik diartikan (berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman) alias pulang ke kampung halaman.
Ini alasannya, kata mudik digunakan untuk merujuk aktivitas tradisi nan dilakukan oleh para perantau untuk kembali lagi ke kampung halamannya untuk dapat kembali berjumpa dengan family dengan memanfaatkan momen libur panjang, seperti menjelang Idul Fitri, Natal, alias tahun baru.
Dilansir dari laman Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB), tradisi mudik ini sudah dimulai sejak era kerajaan dulu, tepatnya pada era Kerajaan Majapahit. Kegiatan mudik pada saat itu tentu tidak ada hubungannya dengan seremoni Idul Fitri lantaran kepercayaan Islam belum berkembang luas.
Pada saat itu, para petinggi kerajaan, pedagang, alias pekerja nan bekerja di pusat kerajaan alias kota raja bakal kembali lagi ke kampung halamannya untuk dapat berjumpa dan berkumpul lagi dengan family dan sanak saudara. Selain itu, mereka biasanya juga bakal mengunjungi makam leluhur dan meminta keselamatan saat kembali bekerja di perantauan.
Kemudian, istilah mudik identik dengan Hari Raya Idul Fitri diperkirakan dimulai pada tahun 1970-an ketika kebanyakan masyarakat Indonesia telah memeluk kepercayaan Islam. Banyaknya perantau nan mengadu nasib di kota-kota besar, khususnya Ibu Kota, memanfaatkan waktu libur untuk pulang ke kampung halaman.
Momen inilah nan membikin istilah mudik ini identik dengan Lebaran. Akan tetapi, kejadian mudik ini tidak hanya dilakukan oleh kalangan muslim saja, tetapi meluas menjadi sebuah tradisi tahunan masyarakat Indonesia.
Mudik sendiri tak sekadar rutinitas pulang kampung bagi para perantau. Namun mudik mempunyai tujuan nan sangat luas. Selain untuk menjalin tali silaturahmi dengan family dan sanak saudara, mudik juga merupakan sebuah pengingat bagi para perantau agar tidak lupa dengan asal-usul mereka.
Itulah makna kata mudik dan asal-usul penggunaannya nan telah menjadi sebuah tradisi bagi para perantau di tanah air.
(ahd/fef)
[Gambas:Video CNN]
10 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·