Makassar, CNN Indonesia --
Bencana banjir bandang hingga yang serentak terjadi di tiga wilayah provinsi di Sumatra--Aceh, Sumatera Barat (Sumbar), Sumatera Utara (Sumut)--akhir November lampau tetap menyisakan pekerjaan rumah besar. Pasalnya, tetap banyak wilayah nan terisolasi dan prasarana nan rusak.
Per Kamis (4/12), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total sebanyak 776 korban meninggal bumi dan 564 orang tetap lenyap akibat musibah tersebut.
Walaupun skalanya cukup besar dan jumlah korban serta nan terdampak banyak, pemerintah pusat sejauh ini tak menetapkannya berstatus tanggap darurat musibah nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, support datang dari daerah-daerah lain ke wilayah terdampak, termasuk dari luar Pulau Sumatra.
Operasi medis darurat
Salah satunya, Tim medis dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Sulawesi Selatan, nan mengirimkan relawan kesehatan ke letak terdampak. Bantuan medis mereka lakukan, termasuk operasi caesar darurat terhadap ibu-ibu mengandung nan memerlukan penanganan segera di RSUD Pidie Jaya, Aceh.
Dalam kondisi darurat, salah satu pasien datang ke rumah sakit dengan kondisi ketuban pecah awal selama lebih dari 24 jam, sehingga memerlukan operasi sigap untuk menyelamatkan ibu dan bayinya.
"Ibu pertama kami tangani lantaran Preeklampsia Berat (PEB), obesitas, dan ketuban pecah dini. Ibu kedua memerlukan operasi lantaran riwayat SC sebelumnya dan posisi janin letak lintang. Sementara ibu ketiga juga mengalami PEB," kata tim medis Unhas, Bahrul Fikri dalam rilisnya, Kamis (4/12).
Bahrul menuturkan seluruh bayi nan lahir dalam kondisi selamat dengan Apgar Score 7/9, menunjukkan kondisi stabil setelah kelahiran.
"Dua bayi berjenis kelamin laki-laki, sementara satu bayi perempuan. Satu bayi lainnya tetap dalam proses pemeriksaan lebih lanjut saat dibawa ke ruang perawatan," ungkapnya.
Bahrul mengungkapkan bahwa sebagian master kandungan dan master anak di RSUD setempat ikut terdampak banjir sehingga kelelahan.
Oleh lantaran itu, sambungnya, support tim medis termasuk dari Unhas kemudian mengambil peran untuk mendukung pelayanan kegawatdaruratan obstetri dan pediatri di rumah sakit.
"Kami meminta mereka beristirahat lantaran mereka pun terdampak musibah. Untuk sementara, sejumlah pasien Obsgin dan anak kami bantu tangani," jelasnya.
Tim medis Unhas dikirim ke sejumlah titik terdampak banjir di Sumatra untuk membantu penanganan sekaligus menghadirkan angan baru bagi family korban di tengah situasi krisis.
Kapal pengangkut support logistik dari Kepri
Sementara itu dari Kepulauan Riau (Kepri), dua kapal pengangkut support logistik ialah KN Sarotama dan KN Rantos, dilayarkan dari Bintan untuk menuju Aceh.
Dua Kapal Negara dari Pangkalan Pengawas Laut dan Pelayaran (PLP) Tanjung Uban, Bintan Kepulauan Riau (Kepri) itu kudu menempuh perjalanan laut selama 44 jam alias kurang lebih 2 hari untuk pengedaran logistik support korban musibah di Aceh, pada Rabu malam (3/12).
KN Sarotama dan KN RAntos mengangkut kebutuhan logistik hasil bantuan sumbangan, nan dikumpulkan melalui unit pelaksana teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perhubungan berbareng stakeholder di Provinsi Kepri.
Kapal ini bertolak dari pelabuhan 99 Batu Ampar Batam dengan tujuan Langsa dan Lhokseumawe Aceh.
"Diperkirakan perjalanan kita, kurang lebih sekitar 44 jam alias 2 hari kurang 4 jam,"Kata Kapten Kapal KN. Sarotama Nico Morris Selayar, saat diwawancara wartawan, Rabu malam.
Dia menyebut beragam jenis peralatan seperti mi instan, beras, air mineral, dan lainnya sudah dimuat ke kapal sejak Selasa (2/12) lampau oleh petugas dari Pangkalan Pengawas Laut dan Pelayaran (PLP) Tanjung Uban dan KSOP Batam.
Dua kapal pengangkut logistik support itu berlayar dengan kecepatan rata-rata 12-13 knot, dan turut 27 personel.
Terpisah, usai melepas keberangkatan dua Kapal Negara KN. Sarotama dan KN. Rantos di pelabuhan 99 Batu Ampar Batam, Direktur Perkapalan dan Kepelautan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Samsuddin mengatakan, ada 150 ton logistik beragam jenis peralatan nan dikirim ke Aceh.
Menurutnya, pengiriman logistik dari Batam untuk kebutuhan korban musibah di Aceh merupakan pengiriman pertama kali dari Kepri menggunakan kapal negara dan nan terjauh sehingga menempuh perjalanan panjang.
"Total 150 ton, tujuan ke Aceh paling jauh. Iya ini pertama kali baru berangkat dari pangkalan sini untuk memberikan bantuan," Ujarnya kepada wartawan Rabu malam.
Lebih lanjut dia mengatakan, sudah 8 kapal nan dikerahkan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan untuk mengirimkan support logistik ke letak korban musibah banjir dan longsor Sumatra.
Dia menyebut, kapal negara ini hanya bekerja mengirimkan support untuk korban musibah lampau kembali lagi ke pangkalan masing-masing.
Menurutnya, andaikan tetap ada peralatan hasil bantuan nan dikumpulkan oleh masyarakat umum pihak Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan siap mengirimkan kebutuhan logistik untuk korban bencana di Sumatra menggunakan kapal negara tersebut.
"Terbuka untuk umum, jika terkumpul dengan jumlah tertentu kita siap memberangkatkan lagi," jelasnya.
(kid/mir/arp/kid)
[Gambas:Video CNN]
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·