CNN Indonesia
Kamis, 05 Feb 2026 20:45 WIB
Ilustrasi. Kentut bisa mencerminkan kesehatan tubuh dan usus. (Getty Images/iStockphoto/RealPeopleGroup)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kentut kerap dianggap memalukan, bahan candaan, alias sesuatu nan sebaiknya disembunyikan rapat-rapat. Seiring bertambahnya usia, banyak orang berakhir menertawakannya, tapi rasa malu itu tetap ada, terutama jika kentut datang terlalu sering, berisik, alias berbau menyengat.
Padahal, kentut adalah proses tubuh nan sepenuhnya normal. Hampir 100 persen manusia mengalaminya. Lebih dari itu, pola kentut, mulai dari bau, bunyi, frekuensi, hingga sensasi di perut bisa memberi petunjuk krusial tentang kondisi kesehatan usus dan pencernaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan memahami apa nan tergolong normal, Anda bisa lebih peka saat tubuh mulai memberi sinyal ada nan tidak beres. Berikut apa nan tubuh coba sampaikan melalui kentut, melansir EatingWell.
1. Kentut aroma ini nan disampaikan tubuh
Pernah bertanya-tanya kenapa sebagian kentut nyaris tak tercium, sementara nan lain begitu menyengat? Menurut mahir gizi dan peneliti pencernaan Shy Vishnumohan, sebagian besar gas sebenarnya tidak berbau.
Aroma muncul dari senyawa sulfur dalam jumlah mini nan dihasilkan selama proses pencernaan.
Saat kuman usus memfermentasi makanan nan Anda konsumsi, gas dilepaskan sebagai produk sampingan. Bau kentut bisa bervariasi, tergantung jenis makanan dan komposisi kuman di saluran cerna.
Perubahan aroma sesekali tetap tergolong wajar. Namun, jika aroma tidak biasa muncul terus-menerus, apalagi disertai kembung, sembelit, alias diare, ini bisa menandakan gangguan pencernaan alias ketidakseimbangan mikrobiota usus.
Ahli gizi Ava Safir menyebut aroma nan kuat dan menetap dapat mengarah pada malabsorpsi karbohidrat, pertumbuhan kuman berlebih di usus lembut (SIBO), alias masalah pencernaan lain nan perlu diperiksa tenaga medis.
2. Bunyi kentut
Soal bunyi, berita baiknya kentut nan keras alias nyaris tak terdengar tidak berangkaian langsung dengan kesehatan usus. Bunyi kentut lebih berkarakter mekanis, dipengaruhi jumlah gas, kecepatan keluarnya, serta kondisi otot nan dilewatinya.
Meski begitu, beberapa kondisi seperti sembelit, ketegangan otot dasar panggul, alias wasir dapat memengaruhi langkah gas keluar dan membikin bunyinya lebih susah dikendalikan. Namun, selama tidak disertai nyeri alias keluhan lain, bunyi kentut bukan perihal nan perlu dikhawatirkan.
Seberapa sering kentut tetap normal?
Kentut beberapa kali sehari hingga sekitar 20 kali tetap dianggap normal. Perbedaan gelombang dari hari ke hari biasanya sangat dipengaruhi oleh makanan.
Konsumsi karbohidrat nan mudah difermentasi, seperti kacang-kacangan, makanan tinggi FODMAP, gula alkohol, alias intoleransi laktosa dan fruktosa, sering membikin produksi gas meningkat.
Jika Anda baru meningkatkan asupan serat, jangan panik. Peningkatan gas umumnya berkarakter sementara. Penelitian menunjukkan, dalam dua hingga enam minggu, gelombang kentut biasanya kembali normal seiring penyesuaian tubuh.
Namun, gas berlebihan nan menetap dan disertai diare alias penurunan berat badan tanpa karena jelas sebaiknya segera dikonsultasikan ke tenaga kesehatan.
Sensasi di perut juga penting
Rasa di perut sebelum alias sesudah kentut juga menyimpan petunjuk. Sedikit tidak nyaman tetap tergolong normal. Namun, nyeri hebat, kram berkepanjangan, alias sensasi gas seperti 'terjebak' bisa menandakan pencernaan nan melambat, sembelit, sensitivitas usus berlebih, alias kesulitan mencerna jenis karbohidrat tertentu.
Mendengarkan sinyal tubuh, termasuk hal-hal nan sering dianggap sepele seperti kentut, dapat membantu Anda mengenali kondisi pencernaan lebih dini. Jadi, alih-alih sekadar merasa malu, mungkin sudah waktunya memberi sedikit perhatian pada apa nan coba disampaikan tubuh melalui gas nan keluar.
(tis/tis)
[Gambas:Video CNN]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·