slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Cegah Dipakai Ai, Taylor Swift Daftarkan Sapaannya Jadi Hak Merek

Sedang Trending 2 jam yang lalu

CNN Indonesia

Selasa, 28 Apr 2026 19:00 WIB

Tiga identitas Taylor Swift nan mau dipatenkan meliputi dua bunyi dari sapaan ikonis musisi tersebut dan visualnya di atas panggung Eras Tour. Tiga identitas Taylor Swift nan mau dipatenkan meliputi dua bunyi dari sapaan ikonis musisi tersebut dan visualnya di atas panggung Eras Tour. (Getty Images via AFP/FRAZER HARRISON)

Jakarta, CNN Indonesia --

Taylor Swift memutuskan untuk mengusulkan kewenangan merek ke Kantor Paten dan Merek Dagang Amerika Serikat. Hal itu dilakukan demi melindungi gambaran dan identitasnya dari penyalahgunaan kepintaran buatan (AI).

Perusahaan Taylor Swift telah mengusulkan tiga permohonan merek jual beli ke Kantor Paten dan Merek Dagang Amerika Serikat pada 24 April.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tiga identitas Taylor Swift nan mau dipatenkan meliputi dua bunyi dari sapaan ikonis pelantun All Too Well ini, nan bersuara "Hey, it's Taylor Swift," dan "Hey, it's Taylor."

Sedangkan, merek jual beli ketiga nan didaftarkan adalah visual Taylor Swift nan tengah memegang gitar merah muda, dengan tali hitam dan mengenakan bodysuit warna-warni berbinar-binar dengan boots silver.

Berdasarkan laporan Variety pada Senin (27/4), visual itu adalah salah satu foto ikonis Taylor Swift saat membawakan album Lover di konser The Eras Tour.

Visual itu menampilkan Swift berdiri di atas panggung berwarna merah muda di depan mikrofon warna-warni dengan background flash light dari para penonton.

Pengajuan kewenangan merek itu diajukan atas nama TAS Rights Management milik Taylor Swift. Pengajuan arsip tersebut pertama kali diketahui oleh seorang pengacara ahli kekayaan intelektual berjulukan Josh Gerben dari firma norma Gerben IP.

Menurut Gerben, permohonan merek jual beli nan diajukan Taylor Swift berasal dari kekhawatiran nan kian meningkat mengenai potensi penyalahgunaan AI, nan dapat mencuri keahlian artis untuk mengontrol bunyi dan penampilan mereka tanpa persetujuan.

Pendapat itu selaras dengan pengalaman tidak menyenangkan Taylor Swift ketika wajahnya digunakan tanpa izin dalam beragam gambar hasil tiruan AI, termasuk oleh chatbot AI Meta dan dalam gambar pornografi nan beredar di internet.

Selain itu, menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat pada 2024, Donald Trump sempat membagikan gambar Taylor Swift nan dihasilkan AI nan merekayasa Taylor Swift mendukung Trump.

Namun, belum ada info dari perwakilan Taylor Swift maupun firma norma nan menangani pengajuan merek mengenai argumen resmi Taylor Swift mengusulkan tiga permohonan merek jual beli tersebut.

Taylor Swift bukan satu-satunya artis nan mengusulkan merek jual beli mengenai dirinya. Sebelumnya, tokoh Matthew McConaughey telah mengusulkan merek jual beli serupa.

Pada 2025, Kantor Paten dan Merek Dagang AS memberikan delapan merek jual beli untuk tokoh tersebut. Salah satunya adalah bunyi ikonis McConaughey dalam movie Dazed and Confused (1993), nan mengatakan, "Alright, alright, alright!"

Secara historis, merek jual beli tidak dirancang untuk melindungi kemiripan umum, suara, alias kepribadian seseorang.

Namun teori nan diusung oleh tim norma McConaughey adalah bahwa perlindungan merek jual beli semacam itu bakal memberikan solusi norma tambahan di luar klaim kewenangan publisitas tradisional untuk melawan konten nan dihasilkan AI nan menyalahgunakan kemiripan seseorang.

(van/end)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru