CNN Indonesia
Rabu, 04 Mar 2026 16:00 WIB
Ilustrasi. Turis asal AS menceritakan pengalaman mencekamnya terjebak di Dubai, UEA saat terjadi serangan udara di wilayah Timur Tengah. (REUTERS/Ahmed Jadallah)
Jakarta, CNN Indonesia --
Turis asal Amerika Serikat (AS) menceritakan pengalaman mencekam terjebak di Dubai saat terjadi serangan udara di Timur Tengah pada awal Maret lalu. Banyak turis nan terjebak di Uni Emirat Arab (UEA) lantaran penerbangan nan dibatalkan.
Sebelumnya, Iran meluncurkan rudal dan drone sebagai jawaban setelah mendapat serangan campuran dari Amerika Serikat dan Israel. Serangan jawaban dari Iran ini berakibat ke area nan berdekatan dengan pangkalan alias sekutu AS, termasuk UEA.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Sabtu (28/2), serangan udara dari Iran menghantam Bandara Internasional Dubai, Hotel Burj Al Arab, dan Palm Jumeirah. Penerbangan sontak dibatalkan, sehingga banyak turis asing nan terjebak di Dubai dan tak bisa pulang ke negara asalnya.
Salah satunya adalah seorang turis asal New Hampshire, AS, Kristy Ellmer. Ia adalah seorang konsultan nan sedang melakukan perjalanan upaya sekalian liburan berbareng suaminya, Matt Carwell, di Dubai.
Ellmer bercerita kepada Fox News, hari itu menjadi hari nan mencekam dan penuh ketakutan ketika tiba-tiba terjadi ledakan di Dubai. Dengan jelas dia mendengar bunyi kencang dan merasakan getaran dahsyat ketika ledakan itu terjadi.
"Anda bisa mendengar dan merasakan ledakannya. Rasanya seperti gelombang kejut, Anda bisa merasakan getaran melalui tubuh Anda," ungkap Ellmer.
Awal mulanya pada hari Sabtu, Ellmer dan Carwell berencana untuk bersantai dan jalan-jalan di pantai. Kemudian mereka mendengar bunyi ledakan keras untuk pertama kalinya dan merasakan guncangan dahsyat nan dia gambarkan seperti 'gelombang kejut'.
"Kami hanya duduk di pantai, kami tidak menonton buletin alias apapun dan hanya menikmati waktu di pagi hari. Tiba-tiba, kami merasakan ledakan," ceritanya.
Ketika bunyi sirine terdengar di mana-mana, pasangan itu segera mengemas tas jinjing, memasukkan air dan makanan ringan ke dalamnya. Setelah tahu ada ledakan terjadi, mereka langsung berhati-hati jika kudu bergerak dengan cepat.
Ledakan, menurut Ellmer, semakin memburuk hingga Sabtu malam dan Minggu pagi. Mereka sendiri telah mendapatkan pesan imbauan dari pemeritah setempat dan AS untuk berlindung dan tetap berada di dalam hotel.
"Pada hari pertama, kami mempunyai kekhawatiran tentang banyak hal. Saya belum pernah berada di suatu tempat dengan peledak melayang-layang di atasnya," ujar Ellmer.
Keadaan jauh lebih membaik dan mulai tenang setelah 24 jam kemudian.
Ilustrasi. Turis asal AS menceritakan pengalaman mencekamnya terjebak di Dubai, UEA saat terjadi serangan udara di wilayah Timur Tengah. (REUTERS/Johannes P. Christo)
Meskipun sangat mengerikan, tetapi dia mengungkapkan bahwa mereka merasa kondusif berada di Dubai. Mereka tetap tak bersuara di dalam hotel nan berlokasi di area Dubai Marina, sembari menunggu kesempatan untuk pulang.
"Saya sangat terkesan dengan gimana UEA menanganinya," katanya.
Seharusnya Ellmer dan suami dijadwalkan untuk pulang pada Minggu (1 /3) malam. Namun, lantaran bandara-bandara di Dubai, Abu Dhabi, dan Doha terganggu oleh kekacauan ini, akhirnya penerbangan Ellmer dibatalkan untuk hari Minggu.
Sekarang dia sedang memesan penerbangan dan berambisi dapat berangkat pada hari Rabu, Kamis, alias Jumat.
Ellmer juga menambahkan, sekarang orang-orang di Dubai telah kembali menjalani hari dengan normal setelah terjadi kepanikan di hari-hari sebelumnya.
(ana/asr)
[Gambas:Video CNN]
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·