CERITA DI BALIK LAYAR
CNN Indonesia
Minggu, 15 Mar 2026 17:20 WIB
Sutradara Upie Guava blak-blakan mengenai jalan panjang menghadirkan teknologi untuk Pelangi di Mars. (Mahakarya Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sutradara Upie Guava blak-blakan bahwa membangun Planet Merah di dalam studio bukan perkara mudah. Jalan panjang dia tempuh untuk menggarap movie Pelangi di Mars hingga bisa ditayangkan di bioskop mulai 18 Maret.
Dalam wawancara berbareng CNNIndonesia.com, Upie mengungkapkan movie itu memerlukan waktu pengerjaan hingga 5,5 tahun. Sebagian besar digunakan untuk untuk memboyong teknologi mutakhir ke industri film Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejak movie ini digagas pertama kali sampai movie ini dirilis, menghabiskan waktu sekitar 5,5 tahun. Tapi memang waktu terlama itu bukan diproduksinya. Tapi dari kita menghadirkan teknologinya," ungkap Upie Guava.
"Jadi selama sekitar 3,5 tahun pertama kami mempelajari teknologinya, pengetahuannya, kami bawa ke Indonesia," tuturnya.
"Nah, jika produksinya sendiri secara intens itu mungkin hitungannya ya, mungkin sekitar dua tahun kurang."
[Gambas:Video CNN]
Langkah berani Upie terlihat dari keputusannya meninggalkan metode green screen tradisional. Sebagai gantinya, dia menggunakan teknik produksi hybrid melalui teknologi Extended Reality (XR).
Dengan layar LED raksasa sebagai latar, semesta Mars dihadirkan secara real-time, memungkinkan para tokoh berinteraksi langsung dengan lingkungan digital nan tampak sangat nyata.
Namun, kecanggihan teknologi ini membawa tantangan tersendiri bagi jejeran pemeran untuk membangun emosi dan khayalan sebagai manusia nan lahir di Mars. Untuk menjembatani perihal tersebut, Upie sudah memperkenalkan studio kepada para tokoh sejak masa reading.
"Salah satu aspek nan sering saya pakai adalah kami selalu menghadirkan TV besar di depan set mengarah ke mereka (para pemeran)," jelas Upie.
"Jadi setiap mereka tuh berdiri, take, mereka bisa memandang diri mereka sendiri. Setidaknya untuk awalan agar mereka bisa membayangkan, oh kayak gini nih suasananya," tuturnya.
Pelangi di Mars juga dipastikan mempunyai napas lokal nan kental. Film ini sepenuhnya dikerjakan talenta Indonesia, mulai dari animator dari Jakarta, Jogja, Solo, hingga Bali.
Bahkan, urusan music scoring pun dipercayakan kepada anak bangsa nan berkarier di Amerika Serikat.
"Jadi movie ini dikerjakan 100 persen, full, orang Indonesia," dia menegaskan.
Berlatar tahun 2100, movie ini mengisahkan Pelangi (Keinaya Messi Gusti), gadis berumur 12 tahun nan menjadi manusia pertama nan lahir dan besar di Mars.
Tanpa pernah mengenal Bumi, Pelangi berjuang mencari Zeolith Omega, mineral langka nan menjadi angan terakhir bagi krisis air bersih umat manusia, didampingi sekelompok robot tua nan terbengkalai.
Film nan juga dibintangi Lutesha, Rio Dewanto, dan Livy Renata ini siap membuktikan taji produktivitas lokal dalam bebatan teknologi masa depan.
Pelangi di Mars tayang 18 Maret di bioskop.
[Gambas:Youtube]
(gis/chri)
Add
as a preferred source on Google
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·