Jakarta, CNN Indonesia --
Komisi XI DPR RI memanggil jejeran Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) dalam rapat kerja untuk membahas laporan keahlian bank sentral tahun 2025.
Laporan itu disampaikan di tengah tekanan nilai tukar rupiah nan sempat menembus level Rp17 ribu per dolar AS pekan ini.
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengatakan rapat tersebut merupakan bagian dari pertimbangan tahunan DPR terhadap keahlian BI, termasuk dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan sistem finansial nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Laporan triwulanan dan tahunan nan disampaikan dievaluasi DPR dan digunakan sebagai bahan penilaian tahunan keahlian BI," ujar Misbakhun dalam rapat di Jakarta, Rabu (8/4).
Ia menilai secara umum BI bisa menjaga stabilitas nilai tukar dan ketahanan sistem finansial di tengah ketidakpastian global, meski belakangan rupiah mengalami tekanan signifikan.
Dalam rapat tersebut, Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan langkah lanjutan untuk menstabilkan rupiah, salah satunya dengan meningkatkan publikasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Kebijakan ini ditempuh untuk merespons gejolak pasar finansial dunia nan dipicu bentrok geopolitik serta arus keluar modal asing.
Menurut Perry, peningkatan publikasi SRBI dilakukan untuk menyeimbangkan upaya intervensi nilai tukar sekaligus menjaga likuiditas dan menarik aliran modal masuk.
"Oleh lantaran itu, kenapa sekarang untuk 2026 ini untuk SRBI mulai bakal naik ini agar kami kudu juga balance keperluan stabilkan nilai tukar rupiah, intervensi, dan gimana outflow tidak terlalu buruk," ujarnya.
Di sisi lain, DPR menilai pelemahan rupiah hingga menembus Rp17 ribu per dolar AS tidak bisa hanya ditangani oleh BI. Anggota Komisi XI DPR RI Habib Idrus Salim Aljufri menegaskan perlunya keterlibatan aktif pemerintah melalui kebijakan fiskal dan penguatan sektor riil.
"Pelemahan rupiah hingga menembus Rp17 ribu per dolar AS ini kudu menjadi sirine serius. Pemerintah perlu memastikan langkah stabilisasi melangkah efektif dan tidak setengah-setengah," kata Idrus.
Ia juga mengingatkan bahwa tekanan terhadap rupiah berpotensi memicu kenaikan nilai peralatan impor, inflasi, hingga menekan daya beli masyarakat.
Oleh lantaran itu, dia meminta langkah kebijakan nan terkoordinasi serta komunikasi publik nan transparan untuk menjaga kepercayaan pasar.
"Faktor dunia memang di luar kendali, tapi daya tahan ekonomi nasional ada di tangan kita. Penguatan industri dalam negeri dan peningkatan ekspor berbobot tambah kudu jadi prioritas," pungkas Idrus.
Sementara itu, pada perdagangan Rabu (8/4), rupiah dibuka menguat ke level Rp16.970 per dolar AS setelah sehari sebelumnya sempat melemah ke Rp17.090 per dolar AS. Penguatan ini terjadi seiring pelemahan indeks dolar AS di pasar global.
[Gambas:Youtube]
(lau/sfr)
Add
as a preferred source on Google
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·