slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Dokter Jiwa: Trauma Mengintai Anak Korban Kasus Daycare Yogyakarta

Sedang Trending 2 jam yang lalu

CNN Indonesia

Senin, 27 Apr 2026 17:45 WIB

Kekerasan di daycare bisa picu trauma anak. Kenali indikasi dan langkah mendampingi pemulihannya. Ilustrasi. Dokter Jiwa sebut ada trauma psikologis nan bisa dialami anak korban daycare di Yogyakarta. (CNN Indonesia/Tunggul)

Jakarta, CNN Indonesia --

Kasus dugaan penganiayaan di tempat penitipan anak (daycare) Little Aresha di Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, menyita perhatian publik. Di kembali luka bentuk nan tampak, para mahir mengingatkan adanya akibat nan tak kalah serius, ialah gangguan kesehatan mental pada anak.

Dokter ahli kejiwaan, Lahargo Kembaren, menegaskan bahwa kekerasan di daycare bukan sekadar persoalan fisik. Peristiwa semacam ini berpotensi meninggalkan luka psikologis mendalam, terutama pada anak usia dini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Secara psikologis, kasus kekerasan di daycare seperti nan terjadi di Yogyakarta sangat serius lantaran daycare semestinya menjadi tempat kondusif pertama di luar rumah," ujar Lahargo kepada CNNIndonesia.com, Senin (27/4).

Menurutnya, pada anak usia batita hingga balita, trauma tidak selalu muncul dalam corak cerita nan bisa diungkapkan secara verbal. Justru, tanda-tandanya kerap terlihat dari perubahan perilaku.

"Pada balita dan anak usia dini, trauma sering tidak muncul dalam corak cerita nan bisa disampaikan dengan bahasa verbal nan jelas, tetapi melalui perubahan perilaku," katanya.

Ia memaparkan sejumlah indikasi nan perlu diwaspadai orang tua, antara lain:

• Anak menjadi lebih takut, mudah menangis, alias sangat lengket pada orang tua

• Sulit tidur, mengalami mimpi buruk, sering terbangun di malam hari, alias takut ditinggal

• Regresi perkembangan, seperti kembali mengompol, menjadi lebih rewel, alias keahlian bicara menurun

• Mudah kaget, agresif, alias justru sangat tak bersuara dan menarik diri

• Takut pada orang, seragam, alias tempat tertentu, termasuk daycare

• Gangguan makan serta menurunnya rasa kondusif dasar (basic trust)

Jika tidak ditangani dengan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan nan lebih serius.

"Jika berat, anak dapat mengalami trauma psikologis nan menetap, termasuk indikasi mirip PTSD pada anak," jelas Lahargo.

Ia menekankan bahwa akibat terbesar dari peristiwa ini adalah rusaknya rasa kondusif anak. Anak bisa kehilangan kepercayaan terhadap lingkungan di sekitarnya, sesuatu nan krusial dalam proses tumbuh kembang.

"Anak belajar bahwa tempat nan semestinya melindungi justru menyakiti. Ini bisa memengaruhi kelekatan (attachment), rasa percaya, apalagi perkembangan emosi jangka panjang," ujarnya.

Dalam proses pemulihan, orang tua diimbau untuk tidak memaksa anak melupakan kejadian traumatis. Sebaliknya, nan dibutuhkan adalah kehadiran nan tenang, konsisten, dan penuh kehangatan.

Validasi emosi anak juga menjadi kunci agar mereka merasa didengar dan dipahami. Lahargo turut mengingatkan agar orang tua tidak menginterogasi anak secara berlebihan, lantaran perihal itu justru bisa memperparah kondisi psikologisnya.

Apabila indikasi seperti ketakutan berlebih, gangguan tidur, alias perubahan perilaku berjalan selama beberapa minggu, orang tua disarankan segera berkonsultasi dengan psikolog alias psikiater anak.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat krusial bagi orang tua untuk lebih selektif dalam memilih daycare. Menurut Lahargo, aspek utama nan perlu diperhatikan bukanlah tampilan fasilitas, melainkan keamanan emosional anak.

Beberapa perihal nan bisa menjadi pertimbangan antara lain rasio pengasuh dan anak, transparansi sistem pengasuhan, serta langkah pengasuh berinteraksi dengan anak.

"Memilih daycare bukan hanya soal tempat menitipkan anak, tetapi menitipkan rasa percaya. Anak tidak butuh tempat nan paling mewah, melainkan tempat nan membikin jiwanya merasa aman," ujarnya.

Ia menambahkan, jika orang tua merasakan ada perihal nan tidak beres, intuisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.

"Karena ketika tempat nan semestinya melindungi justru melukai, nan rusak bukan hanya hari itu, tetapi langkah anak memandang bumi di kemudian hari," pungkasnya.

(nga/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru