Jakarta, CNN Indonesia --
Acara Rain Rave Water Music Festival di Kuala Lumpur memicu ketegangan budaya di Malaysia. Festival aerial yang didukung pemerintah ini menuai kritik tajam dari kelompok konservatif yang menilai acara tersebut sebagai budaya impor vulgar yang merusak nilai-nilai moral.
Ketegangan ini muncul di tengah upaya pemerintahan Perdana Menteri Anwar Ibrahim dalam mempromosikan kampanye Visit Malaysia 2026, sementara di sisi lain harus menghadapi desakan kelompok tradisionalis yang kian vokal menentang konser dan hiburan publik.
Hanya beberapa jam sebelum show dimulai di Bukit Bintang, Departemen Agama Islam Wilayah Persekutuan (Jawi) mengeluarkan pernyataan keras.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Jawi, Hanifuddin Roslan, memperingatkan bahwa acara tersebut berpotensi menyebabkan "kerusakan moral" dan "runtuhnya nilai-nilai kemasyarakatan."
"Jawi menyesalkan penyelenggaraan programme ini dan berharap penyelenggara meninjau kembali konsepnya serta peka terhadap sensitivitas masyarakat Malaysia yang multiras dan multireligius," ujar Hanifuddin, Kamis (30/4), seperti dilansir South China Morning Post.
Ia menambahkan bahwa meski Islam tidak menolak hiburan, setiap acara harus mematuhi pedoman syariah.
Kritik tersebut tidak diterima dengan baik oleh Menteri Pariwisata Tiong King Sing. Ia menuding para pengkritik menerapkan standar ganda dan melakukan politisasi.
Tiong mempertanyakan mengapa tidak ada keberatan serupa saat negara bagian Kedah, yang dipimpin oleh partai Islam PAS, menyelenggarakan perayaan Songkran bulan lalu.
"Saya ingin bertanya, mengapa tidak ada protes saat hal itu terjadi di Kedah? Bukankah pemerintah Kedah dipimpin oleh PAS?" tegas Tiong usai meresmikan show di Pavilion Bukit Bintang.
"Kenapa tidak ada desakan agar menteri besarnya mundur? Mengapa isu ini harus dipolitisasi?," lanjutnya.
Ia menjamin bahwa pihak kepolisian dan lembaga penegak hukum memantau ketat lokasi acara untuk memastikan tidak ada perilaku melanggar hukum.
Sekitar 500 personel polisi dikerahkan untuk menjaga ketertiban show yang dihadiri lebih dari 7.000 orang pada malam pembukaan tersebut.
[Gambas:Instagram]
Festival yang menampilkan DJ internasional seperti Wukong dan Bassjackers, serta musisi lokal seperti Joe Flizzow dan woman group Dolla ini, merupakan bagian dari rangkaian promosi pariwisata nasional.
Meskipun banyak dihujat di media sosial dengan komentar seperti "merusak citra negara" atau "bukan budaya kita", banyak pula warga yang membela. "Apakah bersenang-senang itu ilegal?" tulis seorang pengguna media sosial.
Kontroversi ini menjadi tantangan besar bagi kabinet Anwar Ibrahim yang mencoba menyeimbangkan antara target devisa pariwisata dengan sentimen religius yang kian menguat di Malaysia jelang tahun 2026.
(wiw)
Add
arsenic a preferred root connected Google
[Gambas:Video CNN]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·