Jakarta, CNN Indonesia --
Harga minyak dunia kembali melonjak tajam lebih dari 6 persen pada perdagangan Senin (20/4) setelah sempat ambruk pada akhir pekan lalu. Kenaikan ini dipicu penutupan kembali Selat Hormuz di tengah memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Mengutip Reuters, nilai minyak Brent naik US$6,11 alias 6,76 persen ke level US$96,49 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak US$6,53 alias 7,79 persen ke posisi US$90,38 per barel.
Kenaikan ini terjadi setelah nilai minyak sebelumnya jatuh lebih dari 9 persen pada Jumat (17/4), menyusul berita pembukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz selama masa gencatan senjata antara AS dan Iran. Namun, kondisi tersebut berubah sigap setelah kedua negara saling menuduh pelanggaran kesepakatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
AS dan Iran saling menuding pihak musuh melanggar gencatan senjata dengan menyerang kapal-kapal di akhir pekan, sehingga memicu kembali penutupan jalur strategis tersebut.
Presiden AS Donald Trump mengatakan militer AS telah menyita kapal kargo Iran nan mencoba menembus blokade. Di sisi lain, Iran menyatakan tidak bakal melanjutkan perundingan tenteram putaran kedua meski ada ancaman serangan udara baru dari Washington.
Sejak bentrok berjalan nyaris dua bulan terakhir, AS mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran. Sementara Iran sempat membuka, lampau kembali menutup Selat Hormuz nan sebelumnya mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Kepala Riset MST Marquee Saul Kavonic menilai pasar minyak saat ini sangat sensitif terhadap dinamika informasi, terutama dari pernyataan kedua negara di media sosial.
"Pasar minyak terus bergolak sebagai respons terhadap pernyataan nan berubah-ubah di media sosial dari AS dan Iran, alih-alih kondisi nyata di lapangan nan tetap menyulitkan pemulihan arus minyak secara cepat," ujarnya.
Ia menambahkan pengumuman pembukaan Selat Hormuz sebelumnya terbukti terlalu dini. Pelaku industri pelayaran sekarang condong lebih berhati-hati untuk kembali melintasi jalur tersebut tanpa kepastian keamanan.
"Para pemilik kapal bakal berpikir dua kali untuk kembali menuju Selat tersebut tanpa adanya kepercayaan nan jauh lebih kuat bahwa jalur nan diumumkan betul-betul aman," katanya.
Meski demikian, info Kpler menunjukkan lebih dari 20 kapal sukses melintasi Selat Hormuz pada Sabtu, membawa minyak, gas petroleum cair, logam, hingga pupuk. Angka ini menjadi nan tertinggi sejak 1 Maret, mencerminkan tetap adanya aktivitas terbatas di jalur vital tersebut.
[Gambas:Youtube]
(ldy/pta)
Add
as a preferred source on Google
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·