slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Hdanm Bakal Tutup 160 Gerai Tahun Ini, Ini Alasannya

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Perusahaan ritel fesyen asal Swedia, H&M berencana menutup 160 gerai pada 2026. Langkah ini merupakan bagian dari rencana besar perusahaan untuk memprioritaskan upaya e-commerce dan mengoptimalkan gerai-gerai unggulan.

Perusahaan sebelumnya telah menutup 163 gerai di seluruh bumi dan menggeser konsentrasi upaya ke e-commerce dan investasi di lokasi-lokasi nan paling menguntungkan.

Sepanjang kuartal pertama tahun ini, raksasa ritel itu dilaporkan mencatat penurunan untung saat tengah menyesuaikan upaya ke daring dan memangkas sebagian toko mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Optimalisasi portofolio toko memberikan akibat nan agak negatif terhadap penjualan kuartal pertama 2026, akibat penutupan dan pembangunan kembali toko," ungkap pihak H&M dalam laporan pendapatan mereka mengutip The Sun pada Kamis (9/4).

"Namun, untuk tahun penuh 2026, pengaruh penjualan dari optimasi toko diperkirakan bakal sedikit positif," tambahnya.

Perusahaan menjelaskan, upaya optimasi toko bermaksud untuk mendapatkan keuntungan lebih tinggi sekaligus mengurangi biaya nan mengenai dengan staf dan kelebihan inventaris.

[Gambas:Youtube]

Adapun aspek besar yang melandasi restrukturisasi H&M adalah penekanan pada upaya e-commerce. Belanja online menyumbang 30 persen dari total pendapatan peritel tersebut.

"Pelanggan terinspirasi dan mempunyai produk nan tersedia sehingga mereka dapat berbelanja dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun langkah nan mereka pilih (di toko,situs web, pasar digital, dan media sosial)," ujar manajemen.

Di sisi lain, para mahir menilai penurunan drastis mengenai rencana H&M untuk menutup 160 gerai merupakan bagian dari tren industri.

"Pembeli lebih mementingkan nilai, lebih sering berbelanja daring, dan kurang loyal terhadap toko bentuk tradisional," kata Dominick Miserandino, CEO Retail Tech Media Nexus kepada The U.S. Sun. "Itulah sebabnya kita memandang begitu banyak perusahaan goyah. Kondisi ekonominya memang sulit."

Pada Kamis (25/3) lalu, manajemen perang Timur Tengah nan berkepanjangan dapat memberikan "dampak signifikan" pada belanja konsumen. Hal itu berpotensi menyulitkan upaya peritel fesyen untuk mengejar pesaingnya seperti Zara, dan merek-merek potongan nilai asal China.

Saham grup ritel fesyen asal Swedia ini merosot hingga 6,6 persen setelah penjualan Maret nan lesu, sekaligus menutupi kenaikan untung periode Desember-Februari nan sedikit lebih besar dari perkiraan berkah kontrol biaya nan ketat, mengutip Reuters.

Lonjakan nilai daya sejak dimulainya perang Iran telah memicu kekhawatiran bakal inflasi dan menahan permintaan konsumen, nan berpotensi menekan bisnis peritel.

CEO H&M Daniel Erver mengatakan sejauh ini perusahaan belum memandang akibat langsung pada permintaan secara keseluruhan, namun memperingatkan bahwa krisis nan berkepanjangan dapat memberikan "dampak signifikan" pada perilaku konsumen.

"Konflik nan terus berlanjut, seperti nilai daya nan terus tinggi bakal menciptakan tekanan inflasi pada konsumen nan sebelumnya sudah mengalami tekanan inflasi berat," katanya kepada Reuters dalam sebuah wawancara.

"Konflik panjang juga dapat menciptakan tekanan biaya tambahan," tambahnya.

Peritel pesaing asal Inggris, Next sebelumnya menyatakan bahwa perang kemungkinan bakal meredam permintaan sekaligus meningkatkan biaya dan nilai jual.

H&M melaporkan kenaikan untung operasional kuartal pertama sebesar 26 persen dibanding tahun lampau menjadi 1,51 miliar crown alias sekitar US$162 juta. Angka tersebut, melampaui rata-rata perkiraan ialah 1,39 miliar dalam jajak pendapat analis LSEG. Ini menandai kuartal ketiga berturut-turut di mana untung meningkat, meskipun penjualan sedang lesu.

"Menjelang akhir kuartal, koleksi musim semi kami diterima dengan baik dan berkontribusi pada tren penjualan positif, nan juga bersambung hingga Maret," ujar Erver.

Meskipun begitu, nomor penjualan turun 1 persen saat H&M memprediksi kenaikan 1 persen pada Maret.

"Hanya 1 persen, agak mengecewakan mengingat komentar manajemen bahwa koleksi musim semi telah diterima dengan baik," kata analis Alphavalue Jie Zhang.

Erver mengatakan akibat perang terhadap H&M tetap terbatas lantaran eksposur penjualan nan mini di Timur Tengah, di mana toko-toko dijalankan oleh pewaralaba (franchisee). Perusahaan juga sedikit terdampak akses pengiriman jalur udara lantaran sebagian besar peralatan diangkut melalui laut dan darat.

Analis Inderes Lucas Mattsson mengatakan tetap terlalu awal untuk memperkirakan tentang pengaruh potensial perang, namun perihal itu tetap perlu diwaspadai.

"Kami tidak melihat pertumbuhan penjualan nan kuat di 2026, justru lantaran mereka belum menunjukkan tren alias pola nan jelas mengenai perihal itu," katanya.

(ins/sfr)

Add as a preferred
source on Google

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru