CNN Indonesia
Jumat, 13 Mar 2026 19:30 WIB
Ilustrasi. Perilaku orang nan dianggap fake alias tidak tulus sering susah dikenali dalam hubungan sehari-hari. (iStockphoto/Husam Cakaloglu)
Jakarta, CNN Indonesia --
Perilaku orang nan dianggap fake alias tidak tulus sering kali susah dikenali dalam hubungan sehari-hari. Namun, sejumlah penelitian ilmu jiwa menunjukkan ada beberapa tanda nan dapat membantu seseorang mengenali perilaku tidak autentik tersebut.
Orang nan terlihat ramah, karismatik, alias mudah menemukan kesamaan dengan orang lain belum tentu betul-betul tulus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Orang fake dapat menyebabkan banyak kerugian, terutama jika kita salah mengira kepura-puraan mereka sebagai ketulusan.
Dalam banyak kasus, mereka hanya bisa membangun hubungan di tingkat permukaan dan kesulitan menjalin hubungan nan lebih dalam.
Merangkum dari beragam sumber, berikut beberapa ciri-ciri orang nan dianggap fake.
1. Tidak konsisten dalam sikap dan ucapannya
Salah satu tanda paling jelas dari orang nan tidak tulus adalah sikap nan tidak konsisten. Penelitian dalam Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa perilaku tidak konsisten sering muncul pada orang nan terbiasa menutupi kebenaran alias membangun gambaran diri tertentu.
Mengutip dari Geediting, menurut psikolog salah satu tanda klasik adalah ketika tindakan seseorang tidak sejalan dengan kata-katanya.
Ketidakkonsistenan ini dapat terlihat dari kebiasaan melanggar janji, sering mengubah cerita, alias tidak menepati komitmen nan sebelumnya telah disepakati.
2. Kepribadian berubah tergantung situasi
Ilustrasi. Ada beberapa ciri-ciri orang fake yang bisa dilihat dari sikap seseorang. (iStockphoto)
Banyak orang menyesuaikan perilaku sesuai lingkungan sosial, seperti tempat kerja alias berbareng keluarga. Namun, pada orang nan dianggap fake, perubahan ini bisa terjadi secara ekstrem.
Mereka condong mengubah kepribadian hanya untuk disukai alias diterima oleh orang tertentu. Akibatnya, identitas mereka tampak tidak stabil dan lebih berjuntai pada penilaian orang lain.
3. Hubungan terasa seperti transaksi
Orang nan tidak tulus sering memandang hubungan sebagai sesuatu nan berkarakter transaksional. Mereka condong mengharapkan hadiah dari setiap tindakan baik nan dilakukan.
Dalam hubungan seperti ini, kebaikan alias perhatian bukan diberikan secara tulus, tetapi sebagai langkah untuk mendapatkan untung tertentu.
4. Empati terlihat dibuat-buat
Empati merupakan salah satu kunci hubungan nan sehat. Namun, pada orang nan tidak autentik, empati sering ditampilkan secara performatif alias sekedar untuk menjaga gambaran diri.
Alih-alih betul-betul memahami emosi orang lain, mereka lebih konsentrasi pada gimana mereka terlihat di mata orang lain.
5. Sulit berubah alias melakukan refleksi diri
Orang nan munafik seringkali kurang mempunyai kepintaran emosional dan kesadaran diri untuk merenungkan perilakunya. Dengan begitu, maka tidak heran jika mereka betul-betul tidak pernah berubah.
Mengutip dari Your Tango, penelitian dari Europe Journal of Psychology menunjukkan, orang fake biasanya tidak menghargai waktu tenang dan sendiri untuk refleksi. Mereka juga kesulitan menerima diri sendiri dan melakukan perubahan pribadi nan baik untuk memperbaiki hidup mereka.
6. Terlalu peduli dengan penilaian orang lain
Psikolog Bonnie Zucker mengatakan bahwa sebagian orang sangat berjuntai pada pengesahan orang lain untuk membangun rasa percaya diri.
Akibatnya, mereka lebih konsentrasi pada gimana terlihat di mata orang lain dibandingkan memahami diri sendiri secara jujur.
7. Nilai dan prinsip mudah berubah
Ciri lain dari orang nan tidak tulus adalah nilai alias prinsip hidup nan sering berubah. Mereka condong menyesuaikan pendapat dan sikap hanya untuk menyenangkan orang di sekitarnya.
Perubahan nilai nan terlalu sering dapat membikin seseorang terlihat tidak mempunyai prinsip nan jelas.
8. Jarang meminta bantuan
Orang nan tampak 'sempurna' di hadapan orang lain seringkali justru jarang meminta bantuan. Hal ini bisa terjadi lantaran mereka takut terlihat lemah alias tidak kompeten.
Padahal, dalam hubungan nan sehat, meminta support merupakan bagian dari proses belajar dan membangun hubungan nan lebih sehat.
Mengenali tanda-tanda tersebut dapat membantu seseorang menjaga batas dalam hubungan sosial. Dengan memahami perilaku fake, seseorang juga dapat lebih selektif dalam membangun relasi nan sehat dan tulus.
(nga/asr)
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·