Jakarta, CNN Indonesia --
Ketua Umum Keluarga Besar Putra Putri (KBPP) Polri Periode 2015-2021, AH. Bimo Suryono mengklaim Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah memberikan reward (penghargaan) dan punishment (hukuman) terhadap anggotanya nan bermasalah dan nan berprestasi secara adil.
Menurut Bimo, penghargaan dan penindakan kudu melangkah seimbang di sebuah lembaga penegak hukum, dalam perihal ini Korps Bhayangkara.
"Anggota nan menunjukkan profesionalitas, keberanian, dan keahlian menahan diri dalam situasi susah kudu mendapatkan penghargaan nan layak. Sebaliknya, mereka nan menyalahgunakan kewenangan kudu ditindak tegas tanpa kompromi," kata dia dalam keterangan tertulis, Rabu (4/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bimo memandang Polri adalah lembaga kehormatan. Karenanya, ketika seorang personil bisa menahan diri dari provokasi di jalanan, sikap personil tersebut sedang menjaga martabat negara.
Selain itu, lanjut dia, ketika seorang ketua tetap memimpin meski terluka, perihal tersebut menunjukkan makna pengabdian nan sesungguhnya. Namun, dia menegaskan kehormatan lembaga kudu dijaga dari dalam.
"Kesalahan segelintir oknum tidak boleh dibiarkan merusak kepercayaan publik terhadap Polri. Justru di sinilah pentingnya sistem punishment ditegakkan secara tegas, agar lembaga tetap berdiri di atas integritas," ujarnya.
Bimo memandang keberhasilan sistem reward dan punishment bakal menentukan masa depan kepercayaan publik terhadap Polri.
Kata dia, jika personil nan berprestasi betul-betul dihargai, dan pelanggaran ditindak secara transparan serta konsisten, maka masyarakat bakal memandang bahwa Polri adalah lembaga nan terus berbenah.
"Sebaliknya, jika penghargaan dan penindakan tidak melangkah dengan jelas, maka publik bakal kesulitan membedakan antara pengabdian dan penyimpangan," ucap dia.
Bimo pun turut menyoroti sejumlah peristiwa melibatkan personil Polri nan menjadi perhatian publik dalam beberapa waktu terakhir.
Salah satunya Kapolres Tual Polda Maluku nan memimpin langsung pengamanan berantem antar dua desa di wilayah tersebut. Bahkan, nan berkepentingan kudu menjadi korban lantaran tertancap anak panah.
"Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa tugas kepolisian tidak hanya menghadapi kritik alias tekanan sosial, tetapi sering kali menghadapi ancaman keselamatan nan nyata," kata Bimo.
Tak hanya itu, Bimo juga menyinggung soal keterlibatan eks Kapolres Bima Kota AKBP Didik Putra Kuncoro nan terseret kasus narkoba. Bimo menyebut perihal ini menjadi tamparan bagi lembaga nan selama ini berada di garis depan pemberantasan narkoba.
"Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa di dalam lembaga sebesar Polri selalu ada dua sisi nan melangkah bersamaan, ialah pengabdian nan tulus dari kebanyakan anggota, dan penyimpangan nan dilakukan segelintir oknum," ujarnya.
Atas dasar itu, Bimo menekankan bahwa momentum dari beragam peristiwa nan terjadi belakangan ini semestinya menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa Polri bukan semata lembaga penegak hukum. Melainkan, simbol kehadiran negara dalam menjaga ketertiban dan keadilan.
"Karena itu, memastikan bahwa sistem reward dan punishment melangkah secara setara dan konsisten bukan hanya krusial bagi internal Polri, tetapi bagi masa depan kepercayaan publik terhadap lembaga penegak norma di negeri ini. Bravo Polri," pungkasnya.
(dis/dal)
[Gambas:Video CNN]
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·