Jakarta, CNN Indonesia --
Kejaksaan Agung (Kejagung) mengungkap akibat kasus korupsi pengadaan minyak mentah Pertamina Energy Trading Limited (Petral) periode 2015-2018.
Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Syarief Sulaeman Nahdi menyebut tindakan korupsi itu menyebabkan panjangnya proses rantai pasokan BBM hingga ke masyarakat.
Kondisi ini, kata dia, berakibat pada nilai BBM Premium (88) dan Pertamax (92) nan beredar di masyarakat pada periode tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Proses tender alias pengadaan minyak mentah dan produk kilang tersebut menyebabkan rantai pasokan nan lebih panjang dan nilai nan lebih tinggi," ujarnya dalam konvensi pers, Kamis (9/4).
"Terutama untuk produk Gasoline 88 alias kita kenal dengan Premium 88 dan Gasoline 92. Sehingga menimbulkan kerugian bagi PT Pertamina," imbuhnya.
Syarief menjelaskan kasus ini bermulai ketika pejabat Petral membocorkan informasi-informasi rahasia dari internal perusahaan mengenai kebutuhan minyak mentah dan gasoline.
Informasi itu kemudian dimanfaatkan oleh saudagar minyak Mohammad Riza Chalid (MRC) melalui anak buahnya IRW untuk mempengaruhi proses pengadaan alias tender minyak mentah, produk kilang dan pengangkutan.
"Saudara MRC melalui kerabat IRW melakukan komunikasi dengan pejabat pengadaan baik di Petral maupun di Pertamina," jelasnya.
Ia menjelaskan komunikasi itu dilakukan oleh IRW kepada tersangka BBG, MLY dan TFK. Lewat komunikasi itu, kata dia, terjadi pengkondisian tender dan info nilai HPS (Harga Perkiraan Sendiri).
Pengkondisian itu kemudian menimbulkan kemahalan nilai lantaran pengadaan menjadi tidak kompetitif. Untuk memuluskan rencana Riza Chalid, Syarief menyebut para pejabat Petral kemudian mengeluarkan pedoman nan bertentangan dengan risalah rapat direksi.
Akibatnya tender sukses dilakukan dan terdapat MoU antara Petral dengan perusahaan Riza Chalid untuk memasok produk kilang minyak tahun 2012 sampai 2014.
Dalam kasus ini, Kejagung menetapkan total tujuh orang tersangka ialah BBG selaku Manager Niaga Direktorat Pemasaran dan Niaga PT Pertamina nan sempat menjabat sebagai Managing Director Pertamina Energy Service (PES).
Kemudian AGS nan menjabat selaku Head Of Trading PES periode 2012-2014; MLY selaku Senior Trader PES periode 2009- 2015; NRD selaku Crude Trading Manager PES; TFK selaku VP ISC PT Pertamina dengan kedudukan terakhir Direktur Utama PT Pertamina International Shiping.
Selanjutnya Riza Chalid selaku Beneficialy Ownership alias penerima faedah dari perusahaan Gold Manor, VeritaOil dan Global Energy Resources. Terakhir IRW selaku Direktur di perusahaan milik Riza Chalid tersebut.
(tfq/ugo)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·