slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Lari Dari Bayang-bayang Phk, Peluh Kelas Menengah Mencari Nafkah

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Lesunya pasar kerja Tanah Air tahun ini membikin kejadian "putar otak" menjadi strategi memperkuat hidup bagi kelas menengah. Kondisi tersebut juga bertindak bagi para lulusan muda seperti Ajeng, Faris, dan Rahajeng yang terpaksa ikut memutar otak demi memperkuat hidup.

Ajeng sarjana komunikasi berumur 23 tahun memilih jalan wirausaha dengan menyewakan handy talkie dan membuka jasa komisi gambar (art commission), setelah capek menghadapi tipu daya lowongan kerja, serta proses rekrutmen nan tak kunjung membuahkan hasil.

Sebelumnya, dia kerap berselancar di bumi maya mulai dari LinkedIn, Jobstreet, hingga Glints pernah dia jajal untuk mencari pekerjaan nan sesuai latar belakang ilmunya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbekal pengalaman organisasi di TV kampus serta magang di perusahaan e-commerce, Ajeng mencoba melamar ke beragam sektor. Mulai dari media, agensi periklanan, hingga industri fast-moving consumer goods (FMCG), tetapi belum ada nan merespons lamarannya.

"Banyak saya apply-nya, lumayan random (sektornya)," katanya ketika berbincang berbareng CNNIndonesia.com.

Tak jarang, wanita lulusan 2025 itu menemukan lowongan kerja nan menuntut beban pekerjaan di luar posisi nan ditawarkan.

Dengan langkah berani, Ajeng membuka upaya penyewaan HT berkah pengalaman nan diperolehnya saat bekerja di upaya milik temannya. Lewat upaya itu, dia berpotensi memperoleh bagi hasil sekitar 15 persen hingga 20 persen

"Jadi kelak persenannya ada, misalnya saya kebagian 15 persen alias 20 persen," ujarnya.

[Gambas:Youtube]

Jurus Ajeng memperkuat dari gempuran kondisi ekonomi saat ini tidak hanya mengandalkan penyewaan HT. Ia juga melirik opsi lain seperti membuka jasa komisi gambar.

Ajeng percaya upaya ini lebih menjanjikan baginya nan punya kegemaran menggambar. Terlebih, kesempatan upaya tersebut dinilai cukup menjanjikan setelah tren komisi ilustrasi ramai di media sosial.

"Kayaknya nan art itu sih saya buka kayak komisi aja. Soalnya lagi era kan kayak (tren menggambar) kucing jelek (di media sosial). Jadi kayaknya bisa di situ," ujar Ajeng.

Langkah serupa diambil Faris (nama samaran) di Jakarta. Sebagai programmer, dia mengandalkan pekerjaan lepas (freelance) setahun terakhir untuk menyambung hidup. Ia memilih memperkuat dengan pekerjaan lepas setelah kontraknya tidak diperpanjang oleh perusahaan sebelumnya.

Menjadi pekerja lepas dia biasa mengerjakan proyek dari rekannya dan melangkah sekitar dua bulan, kemudian jarak sebelum proyek berikutnya datang.

"Dia (teman Faris) selalu ada proyek sih. Mungkin dua alias tiga bulan ada proyek, lampau selesai. Sebulan enggak ada, lampau ada lagi proyek lain," kata laki-laki berumur 27 tahun tersebut.

Namun, menyadari ketidakpastian bayaran nan diperoleh, Faris meningkatkan kemampuan diri dengan mempelajari Kecerdasan Buatan (AI). Tujuannya agar dia bisa menjadi sosok nan lebih kompetitif di mata perusahaan besar.

Maklum, kebanyakan perusahaan milik negara kerap menetapkan persyaratan pelamar kerja nan cukup ketat, termasuk kesesuaian latar belakang pendidikan. Sebagai lulusan teknik mesin, Faris mengaku kesulitan memenuhi kriteria tersebut, meski telah mempunyai pengalaman dan mengikuti bootcamp sebagai programmer.

Menurut dia, perusahaan swasta condong lebih elastis dalam menilai latar belakang pendidikan. Namun, pelamar tetap kudu melalui tahapan lanjutan seperti uji keahlian sebelum diterima.

Berbekal pembelajaran berdikari dari YouTube dan beragam konten di internet, Faris mulai memahami banyak perihal mengenai AI.

"Kalau (perusahaan) swasta bisa (melihat) AI jadi nilai plus. Mereka lebih menghargai itu. Kalau memahami AI ini mempermudah banget sih," ujar Faris.

Faris memandang keahlian di bagian AI dapat membuka kesempatan baru. Dengan memanfaatkan teknologi tersebut, dia dapat membikin sebuah website secara lebih sigap dan efisien. Ia juga semakin pede jika daya tariknya di mata perusahaan swasta bakal semakin besar.

Tak hanya di Jakarta, jauh di Purwokerto sana ada Rahajeng yang tengah berjibaku mencari pekerjaan. Lulusan Universitas Jenderal Soedirman pada September 2025 itu sempat berkesempatan magang di salah satu media nasional melalui program magang nasional pemerintah.

Enam bulan Rahajeng merasakan dinamika kerja di Ibu Kota, hingga akhirnya kudu berpamitan dengan tebalnya polusi Jakarta saat masa magangnya selesai. Ia tak mendapatkan tawaran lanjut di media nasional tersebut dan kembali ke kampung halamannya.

Rahajeng juga dihadapkan pada realita pahit saat mencari kerja, mulai dari diputusnya komunikasi oleh perusahaan lantaran hambatan domisili di Purwokerto, hingga tingginya syarat pengalaman (2-3 tahun) nan susah dipenuhi oleh lulusan baru.

"Aku sebagai fresh graduate itu kayak merasa kesulitan lantaran ada syarat minimum dari lowongan pekerjaan nan disediakan misalnya kayak pengalaman sekitar 2-3 tahun sesuai pekerjaan nan ada," ujarnya.

Selain itu, minimnya lowongan nan relevan dengan latar belakang pendidikannya di bagian Hubungan Internasional memaksa Rahajeng untuk memutar otak.

Alhasil, muncullah buahpikiran menghidupkan kembali upaya penjualan busana jejak (thrifting) nan sempat dia jalankan saat kuliah. Ia mengaku sempat menjual busana preloved miliknya sejak 2024 hingga awal 2025. 

Menurutnya, upaya tersebut cukup menjanjikan mengingat tren thrifting kini tetap diminati masyarakat.

"Kebetulan saya agak jago marketing juga sih. Aku jualin dan lumayan pendapatannya selama seminggu," cerita Rahajeng kepada CNNIndonesia.com.

Dengan mengandalkan keahlian pemasaran dan memanfaatkan organisasi di media sosial X, dia menargetkan untuk membuka upaya kembali akhir Mei ini.

Kisah Rahajeng, berbareng Ajeng dan Faris, menegaskan bahwa di tengah pasar kerja nan ketat, memperkuat hidup sekarang tak bisa lagi hanya mengandalkan satu pintu. Beralih ke pekerjaan lepas (freelance) alias merintis upaya berdikari menjadi pilihan realistis untuk tetap bergerak di tengah ketidakpastian ekonomi.

Kisah Ajeng, Faris, hingga Rahajeng menggambarkan satu perihal nan sama: memperkuat sekarang tak lagi berjuntai pada satu pintu. Khususnya di tengah ketatnya pasar kerja dan ekonomi nan belum sepenuhnya pulih.

Dari melamar pekerjaan tanpa henti, beranjak ke freelance, hingga merintis upaya mini dari pengalaman dan hobi, para pejuang muda Tanah Air terus mencari celah di tengah keterbatasan.

Pilihan-pilihan itu mungkin belum memberi kepastian, tetapi menjadi langkah realistis untuk tetap bergerak, sembari menunggu kesempatan nan lebih stabil datang di kemudian hari.

(dhz/ins/bac)

Add as a preferred
source on Google

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru