slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Malam 1 Suro: Pengertian, Tanggal, Dan Mitosnya Di Masyarakat

Sedang Trending 9 bulan yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Malam 1 Suro adalah malam nan kental dalam tradisi budaya Jawa. Waktu ini menjadi penanda awal bulan Suro atau Sura.

1 Suro juga bertepatan dengan tanggal 1 Muharram dalam penanggalan Hijriyah alias penanggalan Islam. Bedanya, Suro berasal dari penanggalan almanak Jawa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dirangkum dari beragam sumber, berikut penjelasan mengenai apa itu malam 1 Suro alias bulan Sura dalam Islam dan masyarakat Jawa, kapan malam 1 Suro 2025, serta mitosnya.

Apa itu malam 1 Suro?

Malam 1 Suro adalah malam menjelang tanggal 1 Suro dalam penanggalan Jawa, nan secara umum bertepatan dengan malam 1 Muharram dalam almanak Islam.

Sebenarnya tidak ada perbedaan signifikan dari 1 Suro dan 1 Muharram. Keduanya sama-sama bulan pertama pada tahun baru dan jatuh di tanggal nan bersamaan.

Namun, 1 Suro erat kaitannya dengan peringatan Tahun Baru Jawa. Penanggalan pada almanak Jawa sendiri mempunyai sistem nan sama dengan almanak Islam.

Pada almanak Jawa dan almanak Islam, penanggalannya dimulai setelah mentari terbenam alias pada waktu Magrib. Hal ini berbeda dengan almanak Masehi nan pergantian tanggalnya terjadi pada pukul 00.00.

Tanggal malam 1 Suro 2025

Bulan Suro alias Muharam tahun ini jatuh pada akhir bulan Juni hingga pertengahan Juli. Tepatnya, malam 1 Suro dimulai sejak Kamis, 26 Juni 2025 malam.

Sementara itu, awal Muharram tersebut ditetapkan berasas Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2025, tanggal 1 Muharram 1447 H jatuh pada Jumat, 27 Juni 2025 dan ditetapkan sebagai libur nasional dalam memperingati Tahun Baru Islam.

Bulan Suro dalam Islam

Dalam Islam, bulan Suro sama dengan bulan Muharram nan menandai pergantian tahun. Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram alias mulia.

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan suci. Itulah [ketetapan] kepercayaan nan lurus, maka janganlah Anda menganiaya diri Anda dalam bulan nan empat itu." (QS At Taubah ayat 36)

Islam juga memandang Muharam sebagai syahrullah alias bulan Allah. Bulan ini sangat spesial apalagi disandarkan dengan lafaz Allah nan tidak ditemui pada bulan lainnya.

Bulan Muharram juga merupakan bulan nan mempunyai banyak pahala. Umat Islam dianjurkan menjalani ibadah puasa sunah di bulan ini.

Bulan Suro bagi masyarakat Jawa

Sementara itu, tanggal 1 Suro nan dikenal sebagai hari sakral masyarakat Jawa merupakan hari pertama pada almanak Jawa. Tentu tidak jauh berbeda dengan pemaknaan 1 Muharam bagi umat Islam.

Dilansir dari NU Online, kata 'suro' berasal dari kata 'asyura' dalam bahasa Arab. Hal ini pertama kali diinisiasi oleh Sultan Agung, pemimpin Kerajaan Mataram Islam. Ia menggabungkan penanggalan Hijriah dengan tarikh Saka.

Dinamakan Suro lantaran tujuannya agar seremoni tahun baru umat Islam dapat digelar secara berbarengan dan menjadi langkah untuk mempersatukan masyarakat Jawa nan terpecah.

Mitos malam 1 Suro

Mitos-mitos mengenai malam 1 Suro pun begitu terkenal di tengah masyarakat. Terdapat sejumlah larangan untuk melakukan aktivitas krusial di bulan Suro, khususnya pada tanggal tersebut.

Meskipun tidak ada landasan dalam kepercayaan Islam mengenai malam 1 Suro, tetapi tetap ada sebagian masyarakat nan memercayai mitos mengenai dengan malam tersebut. Beberapa larangan nan kerap dikaitkan dengan mitos malam 1 Suro, sebagai berikut.

1. Larangan keluar di malam hari

Pada malam 1 Suro, masyarakat dianjurkan tetap di rumah lantaran keluar malam dipercaya membawa kesialan.

2. Larangan mengadakan pesta alias hajatan

Menggelar aktivitas seperti pernikahan alias sunatan di bulan Suro dianggap pamali lantaran diyakini mendatangkan musibah.

Dalam Islam, tidak ada larangan menikah di bulan Muharram, tetapi masyarakat Jawa menghindarinya lantaran nilai sosial dianggap lebih utama di bulan ini.

3. Dilarang ribut alias bicara

Ritual tapa bisu dilakukan di malam 1 Suro, biasanya di tempat sakral seperti sekitar Keraton Yogyakarta, dengan tidak berbincang alias bersuara.

4. Larangan berbicara kasar

Ucapan jelek diyakini bisa menjadi realita di malam 1 Suro. Masyarakat juga percaya makhluk lembut lebih aktif saat itu dan mencari orang nan tidak waspada.

5. Larangan pindahan alias membangun rumah

Memulai pindahan alias pembangunan rumah di malam Suro dipercaya membawa apes sehingga dihindari oleh banyak orang Jawa.

Percaya alias tidak mengenai tradisi dan mitos malam 1 Suro ini, sepenuhnya kembali pada budaya dan kepercayaan masing-masing. Selama larangan tersebut tidak bertentangan dengan akidah, maka menjalankannya tidak menjadi masalah.

Hal nan terpenting adalah tetap menjaga sikap saling menghargai. Bagi nan memilih mengikuti tradisi, perihal itu bisa menjadi langkah untuk memperkuat identitas budaya. Bagi nan tidak mempercayainya, cukup bersikap bijak dan tidak meremehkan kepercayaan orang lain.

Itulah penjelasan mengenai malam 1 Suro dalam almanak Jawa nan bertepatan dengan 1 Muharram sebagai Tahun Baru Islam.

(avd/juh)

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru