Jakarta, CNN Indonesia --
Secara umum, sistem mobilitas pada makhluk hidup terbagi menjadi dua, ialah perangkat mobilitas aktif dan perangkat mobilitas pasif. Keduanya melibatkan dua organ utama, ialah otot serta tulang.
Nah, salah satu pertanyaan nan sering muncul mengenai tulang adalah kenapa tulang disebut perangkat mobilitas pasif? Simak penjelasannya!
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setiap makhluk hidup, terutama hewan dan manusia, mempunyai sistem mobilitas nan dijalankan oleh beberapa organ nan saling bekerja sama.
Kerja sama antarorgan ini membikin makhluk hidup sanggup melakukan beragam aktivitas. Sistem mobilitas mempunyai peran nan sangat krusial lantaran fungsinya krusial dalam kehidupan sehari-hari.
Bayangkan, jika tak bisa bergerak, manusia mungkin tak bisa beranjak dari satu tempat ke tempat lainnya. Bahkan, melakukan perihal sederhana pun mungkin tak mampu.
Mengapa tulang disebut perangkat mobilitas pasif?
Tulang disebut perangkat mobilitas pasif lantaran tulang tidak bisa bergerak sendiri. Ia hanya bakal bergerak ketika digerakkan oleh otot.
Otot berkedudukan aktif lantaran mempunyai keahlian untuk memanjang dan memendek (berkontraksi dan relaksasi) sehingga bisa menggerakkan tulang. Maka itu, tulang disebut perangkat mobilitas pasif, sedangkan otot disebut perangkat mobilitas aktif.
Mengutip buku Fisiologi dan Anatomi Manusia Sebuah Pengantar ditulis oleh Fidunya Maharani Putri, dalam tubuh manusia, sistem mobilitas pasif terdiri dari beberapa organ krusial nan saling bekerja sama agar tubuh dapat bergerak dengan baik.
Bagian sistem mobilitas pasif lainnya
Bagian-bagian sistem mobilitas pasif selain tulang antara lain sendi, ligamen, saraf, dan bursae. Berikut penjelasan mengenai masing-masing organ.
1. Sendi
Sendi adalah tempat pertemuan antara dua tulang nan menghasilkan sebuah gerakan. Berdasarkan kemampuannya bergerak, sendi dibagi menjadi tiga jenis:
- Sendi meninggal (sinartrosis): tidak bisa digerakkan, seperti pada tulang tengkorak.
- Sendi kaku (amfiartrosis): dapat bergerak tapi terbatas, misalnya di tulang belakang.
- Sendi hidup (diartrosis): bisa bergerak bebas, seperti pada lutut, siku, dan bahu.
Bentuk-bentuk sendi pun beragam, seperti:
- Sendi engsel (gerak satu arah, contohnya siku),
- Sendi putar (tulang berputar pada poros, contohnya leher),
- Sendi peluru (gerak bebas ke segala arah, contohnya bahu dan panggul),
- Sendi luncur (gerak ke depan, belakang, dan memutar, contohnya pergelangan tangan),
- Sendi pelana (gerak dua arah, contohnya pangkal ibu jari), dan
- Sendi kondiloid/elipsoid (gerak ke segala arah tapi terbatas, contohnya pergelangan tangan).
2. Ligamen
Ligamen merupakan jaringan elastis nan menghubungkan tulang dengan tulang pada sendi. Fungsi ligamen untuk menjaga kestabilan sendi agar tak bergeser dari tempatnya, tetapi tetap memungkinkan pergerakan.
Setidaknya terdapat dua jenis ligamen, yakni:
- Ligamen tipis fungsinya menjaga tulang agar bisa bergerak dengan aman, dan
- Ligamen elastis kuning nan condong lebih kuat serta membantu memperkuat sendi, seperti di bahu dan lutut.
3. Saraf
Ssaraf termasuk ke dalam sistem mobilitas pasif. Secara umum saraf berkedudukan mengatur pergerakan tubuh dengan mengirim sinyal dari otak ke otot.
Kemudian, otak mini dan sumsum tulang belakang bekerja sama untuk mengoordinasikan gerakan. Saat tubuh menerima rangsangan, contohnya menyentuh barang panas, saraf segera mengirim perintah ke otot untuk bergerak secara refleks tanpa perlu berpikir lama.
4. Bursae
Lalu nan terakhir ada nan namanya bursae. Simpelnya, bursae adalah kantung mini berisi cairan pelumas nan terletak di antara tulang, otot, alias tendon.
Fungsinya untuk mengurangi gesekan dan tekanan saat tubuh bergerak. Keberadaan bursae sangat krusial lantaran aktivitas menjadi lebih lembut dan tidak menimbulkan rasa nyeri.
Itulah jawaban dari pertanyaan kenapa tulang disebut perangkat mobilitas pasif. Tulang disebut perangkat mobilitas pasif lantaran tulang tidak bisa bergerak sendiri. Semoga bermanfaat!
(san/juh)
5 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·