Jakarta, CNN Indonesia --
Tingginya nilai bahan bakar minyak (BBM) sebagai akibat perang di Timur Tengah memicu peningkatan penjualan mobil listrik secara global. Fenomena menarik justru terjadi di Amerika Serikat (AS), ketika mobil listrik jejak menjadi semakin diminati setelah insentif pajak dicabut pemerintah.
Sebagai informasi, nilai BBM jenis bensin di Uni Eropa rata-rata telah mencapai EUR1,87 alias senilai Rp37,4 ribu per liter (kurs Rp20.027,61) terhitung akhir Maret 2026. Angka ini melonjak 14 persen dari bulan sebelumnya menurut Komisi Eropa.
CEO SEAT, produsen otomotif Spanyol di bawah Volkswagen, Markus Haupt, mengatakan kenaikan nilai BBM dalam waktu lama dapat mendorong permintaan terhadap kendaraan listrik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika nilai bensin naik dan itu berjalan lama, ini bisa menjadi pendorong (bagi permintaan kendaraan listrik)," kata Markus di aktivitas peluncuran model listrik baru pada Kamis (9/4).
Dorongan pada penjualan kendaraan listrik telah terlihat di Jerman sebagai pasar otomotif terbesar Eropa dengan capaian penjualan 70.633 unit pada Maret, menandakan peningkatan 66 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebaliknya, penjualan mobil bensin dan diesel di negara ini menurun sehingga berkontribusi pada peningkatan pangsa pasar kendaraan listrik sebesar 7 poin menjadi 24 persen. Adapun pangsa pasar mobil hybrid juga ikut tumbuh sebanyak 16 persen.
Nikkei Asia menjelaskan di Prancis, lonjakan penjualan mencapai sebesar 69 persen dan segmen kendaraan listrik sukses menguasai 28 persen pangsa pasar nasionalnya. Angka ini diperkirakan bakal tetap tinggi pada April, mengingat jarak waktu antara pemesanan dan pendaftaran kendaraan.
Sementara itu, di AS, mobil listrik menjadi lebih mahal bagi konsumen sejak pemerintahan Trump mencabut insentif pajak pada September 2025. Data dari Cox Automotive menunjukkan penjualan kendaraan listrik pada periode Januari-Maret tahun ini ambruk 27 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Meski begitu, penjualan mobil listrik jejak di AS justru meningkat 20 persen selama kuartal I 2026. Segmen mobil listrik jejak memang menawarkan nilai lebih terjangkau sekaligus tetap mengatasi ketergantungan pada BBM.
Peralihan konsumen ke mobil listrik jejak berisiko menekan penjualan mobil listrik baru, terlebih jika pertumbuhannya melampaui pertumbuhan pasar mobil listrik baru. Akibatnya, produsen mobil terpaksa menggempur strategi pemasaran untuk mempertahankan keahlian penjualan.
Di Jepang, produsen kendaraan listrik mencoba memanfaatkan ketidakpastian nilai BBM untuk mendorong penjualan mobil mereka. Pada Rabu (1/4), Tesla meluncurkan kampanye menawarkan pengisian daya cuma-cuma di Jepang selama tiga tahun.
Di saat bersamaan, BYD menawarkan jasa pengisian daya cuma-cuma selama satu tahun di tengah pengurangan subsidi oleh pemerintah. Presiden anak perusahaan BYD di Jepang Atsuki Tofukuji mengatakan perusahaan mau meningkatkan kesadaran tentang biaya kepemilikan kendaraan listrik ekonomis.
"Kami mau orang-orang tahu sungguh terjangkaunya kepemilikan kendaraan listrik," ujar Tofukuji.
(iqb/fea)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
7 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·