CNN Indonesia
Rabu, 04 Mar 2026 17:00 WIB
Dana pembelian Warner Bros. Discovery (WBD) oleh Paramount Skydance disebut juga melibatkan biaya dari Timur Tengah. (MARIO TAMA / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --
Dana pembelian Warner Bros. Discovery (WBD) oleh Paramount Skydance disebut juga melibatkan biaya dari Timur Tengah. Hal ini kemudian menjadi perdebatan soal independensi media nan ada di bawah jaringan WBD, seperti CNN.
Sejumlah lembaga asal Timur Tengah nan disebut jadi penanammodal pembelian WBD adalah Public Investment Fund (PIF) dari Arab Saudi, L'imad Holding Company dari Abu Dhabi, dan the Qatar Investment Authority (QIA).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka disebut menginvestasikan US$24 miliar alias Rp405,6 triliun (US$1=Rp16.903) ke megatender Paramount dan Warner Bros. Discovery, dan dianggap sebagai langkah strategis nan sejalan dengan upaya membangun industri intermezo lokal di seluruh Timur Tengah.
Variety menyebut pada Selasa (3/3), dalam pengajuan ke The U.S. Securities and Exchange Commission (SEC), Paramount mengatakan para penanammodal tidak bakal menerima kewenangan tata kelola, termasuk bangku majelis alias kewenangan suara, sehingga keterlibatan mereka tidak memerlukan persetujuan dari Komite Investasi Asing AS (CFIUS).
Meski begitu, keberadaan lembaga-lembaga ini menimbulkan sejumlah pertanyaan apakah mereka bakal betul-betul pasif di perusahaan nan bisa mengendalikan CNN, HBO, dan studio dengan arsip kekayaan intelektual nan kaya di Hollywood.
Salah satunya datang dari CEO Netflix, Ted Sarandos. Sarandos sempat mengatakan setelah BAFTA Film Awards di London bahwa biaya dari Timur Tengah itu adalah "ide nan buruk."
"Menurut saya sangat asing dengan tingkat investasi nan kita bicarakan, mereka tidak mempunyai pengaruh alias kendali editorial atas media di negara lain," tambah Sarandos.
Sejumlah analis juga skeptis bahwa para penanammodal asal Timur Tengah itu bakal betul-betul pasif, mengingat jumlah biaya nan mereka tanam dalam megatender ini.
"Mereka mungkin mitra pasif. Tetapi mungkin bakal tiba saatnya mereka bakal bangun dan mau menggunakan pengaruh mereka," kata analis Timur Tengah, Neil Quilliam, mitra di Azure Strategy di London.
"Apakah Anda bakal menghabiskan duit sebanyak itu hanya untuk menjadi mitra pasif? Saya ragu," kata konsultan media nan berbasis di Dubai, Mazen Hayek.
"Mereka mengincar bingkisan nan lebih besar," kata Quilliam. "Hadiah itu adalah bahwa ketiga negara Arab mau menempati posisi utama di ruang media global."
"Mereka sedang mencari langkah untuk melakukan diversifikasi dari ekonomi berbasis minyak mereka," kata ahli ekonomi politik Universitas Georgetown, Robert Mogielnicki. "Memasuki bagian intermezo merupakan bagian krusial dari strategi diversifikasi ekonomi mereka nan lebih luas."
Warner Bros. Discovery (WBD) sebelumnya secara resmi telah sepakat untuk menjual perusahaannya kepada Paramount dengan nilai US$31 per saham dalam sebuah transaksi tunai nan berbobot total US$110 miliar alias sekitar Rp1.700 triliun.
Pengumuman umum nan dirilis pada Jumat (27/2) ini menandai kemenangan besar bagi CEO Paramount David Ellison melalui persaingan berbulan-bulan, terutama setelah WBD menolak tawaran Netflix lantaran menganggap proposal Paramount jauh lebih unggul.
Netflix sendiri segera menarik diri dari persaingan setelah menolak mengusulkan tawaran nan lebih tinggi dari Ellison. Hal itu memuluskan langkah Paramount menguasai salah satu studio paling legendaris di Hollywood.
Dalam kesepakatan tersebut, seperti diberitakan Deadline pada Jumat (27/2), perusahaan campuran ini berkomitmen untuk memproduksi minimal 30 movie bioskop per tahun, alias 15 movie per studio setiap tahunnya.
Mereka juga menjanjikan bahwa setiap movie bakal mendapatkan rilis bioskop penuh dengan jendela eksklusif minimal 45 hari di seluruh bumi sebelum tersedia di jasa streaming.
(end/end)
[Gambas:Video CNN]
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·