Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah menyiapkan insentif bagi perusahaan nan mengembangkan industri bioetanol di Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk mendukung kebijakan mandatori bioetanol secara bertahap.
Pemerintah menyusun peta jalan pengembangan bioetanol sebagai campuran bensin dan etanol, dimulai dari E5 alias 5 persen etanol pada 2026-2027, meningkat menjadi E10 pada 2028-2030, hingga sasaran jangka panjang menuju E20.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu mengatakan insentif bakal diberikan seperti saat pemerintah mendorong program biodiesel B40 hingga B50.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Khusus untuk ini pun kelak bakal kita running (insentif) lantaran seperti program kita dulu masuk ke biofuel B40 sampai B50 itu ada penetrate-penetrate nan dilakukan," ujar Todotua di instansi Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta Selatan, Senin (20/4).
Todotua belum merinci corak insentif nan bakal diberikan. Namun, dia mengungkap pemerintah biasanya menawarkan akomodasi seperti tax holiday kepada investor.
Ia menekankan sasaran penerapan E10 pada 2028 kudu dipersiapkan secara serius lantaran waktunya relatif singkat. Pemerintah perlu memastikan kesiapan industri dalam negeri.
Saat ini, pembangunan pabrik bioetanol di Lampung juga sedang disiapkan melalui kerja sama Pertamina New & Renewable Energy dan Toyota Motor Asia. Proyek tersebut diharapkan mendukung pasokan bioetanol domestik menjelang penerapan E10.
Pertamina New & Renewable Energy berbareng Toyota Motor Asia bakal membangun pabrik bioetanol di Lampung tahun ini. Pembangunan direncanakan dimulai pada kuartal III alias IV 2026.
Todotua menyambut baik rencana ini lantaran sejalan dengan sasaran pengembangan bioetanol pemerintah melalui kebijakan mandatori pencampuran biofuel E10 pada 2028.
"Dalam rangka persiapan itu, tentunya kita kudu menyiapkan industri dalam negeri. Ini (pembangunan pabrik bioetanol Pertamina dan Toyota) semakin memperkuat dan meyakinkan kita," ujar Todotua.
Todotua menjelaskan Lampung dipilih lantaran mempunyai pasokan bahan baku alias feedstock nan kuat untuk produksi bioetanol. Bahan baku tersebut bisa berasal dari tebu, ubi, singkong, sorgum, aren, dan komoditas lainnya.
Ia mengatakan proyek ini juga mencakup pengembangan lahan bahan baku seperti ubi dan sorgum. Selain itu, proyek bakal menggandeng Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels (RA-BIT) dari Jepang.
RA-BIT merupakan lembaga riset bioetanol nan didukung Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI). Todotua menyebut kerja sama ini juga membuka kesempatan pembangunan akomodasi riset di Indonesia.
"D sana ada research development-nya nan kita sudah pernah langsung memandang pabriknyanya di sana. Kita harapkan juga kelak ada rencananya dibangun di Indonesia," ujar Todota.
Ia mengatakan pembangunan pabrik ditargetkan dimulai pada kuartal III alias IV 2026, berbarengan dengan pengembangan perkebunan bahan baku seperti sorgum.
Kapasitas awal pabrik diperkirakan mencapai 60 ribu kiloliter per tahun. Proyek ini difokuskan pada pengembangan bioetanol teknologi generasi kedua alias second generation (2G) berbasis multi-feedstock.
Teknologi 2G memungkinkan penggunaan limbah pertanian sebagai bahan baku, seperti limbah tebu, ubi, dan singkong. Limbah tersebut diolah untuk menghasilkan etanol.
Sementara itu, nilai investasi proyek tetap dalam tahap perhitungan. Studi kepantasan sedang dilakukan oleh konsultan.
"Untuk running cost investment-nya tetap berjalan, tetapi (sudah ada) rencana pembangunan pabrik etanolnya dan juga untuk penanaman feedstock supporting tambahannya, salah satunya itu adalah sorgum," ujar Todotua.
[Gambas:Youtube]
(dhz/sfr)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·