Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang bakal memperkuat struktur manufaktur di dalam negeri sejalan dengan peningkatan kontribusi industri pengolahan nonmigas ke perekonomian dalam negeri.
Berdasarkan info Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi industri pengolahan ke PDB pada kuartal I-2024 hanya sebesar 17,47 persen dan pada kuartal I-2025 bertambah menjadi 17,50 persen.
"Tren peningkatan kontribusi industri pengolahan nonmigas ini adalah sinyal positif bahwa upaya pemerintah dalam memperkuat struktur industri terus berjalan, lantaran untuk menciptakan industri nan terintegrasi dari hulu sampai hilir dan menghasilkan nilai tambah tinggi bagi perekonomian serta penyerapan tenaga kerja," ujar Agus dalam keterangan, Senin (5/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Agus, salah satu strategi utama nan terus dipacu untuk lebih menguatkan rantai pasok dan meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri, antara lain melalui kebijakan hilirisasi industri dan optimasi program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).
Peningkatan itu antara lain diwujudkan dalam kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
"Kami telah memulai reformasi kebijakan TKDN sejak awal Januari 2025 lalu. Hal ini menjadi krusial untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri, mengurangi ketergantungan pada impor, dan pembuatan lapangan kerja," jelasnya.
Selain itu, Agus menekankan hilirisasi adalah kunci untuk mengubah paradigma ekonomi berbasis komoditas mentah menjadi produk nan berbobot tambah tinggi. Kebijakan ini terbukti memberikan pengaruh nan luas bagi perekonomian nasional di antaranya membuka lapangan kerja, memperluas investasi, dan meningkatkan nilai ekspor.
"Dengan kombinasi kebijakan hilirisasi, peningkatan TKDN, serta transformasi industri berbasis teknologi dan riset, kami optimistis keahlian dan kontribusi ekonomi sektor industri manufaktur bakal terus meningkat dan menjadi pondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi nasional berkelanjutan," imbuhnya.
Bahkan, menurut info World Bank, terjadinya peningkatan Manufacturing Value Added (MVA) juga turut berakibat pada posisi Indonesia masuk ke dalam negara manufaktur global. Pada 2023, Indonesia sukses masuk di posisi 12 besar dalam Manufacturing Countries by Value Added di dunia.
"Tren MVA selalu naik sejak 2019-2023 selain pada masa pandemi covid-19 melanda Indonesia. Untuk terus memacu value added ini perlu kebijakan nan strategis, pro-bisnis dan pro-investasi sehingga industri manufaktur kita semakin berkekuatan saing di kancah global," pungkasnya.
Secara rinci, dalam rilis BPS hari ini, tercatat industri pengolahan nonmigas tumbuh sebesar 4,31 persen pada kuartal I-2025. Adapun sektor-sektor nan menjadi penopang keahlian industri manufaktur pada periode tersebut adalah industri makanan dan minuman nan tumbuh sebesar 6,04 persen lantaran permintaan nan cukup tinggi selama Ramadan dan Idulfitri.
Selanjutnya, disokong oleh keahlian industri logam dasar nan tumbuh sebesar 14,47 persen, sejalan dengan peningkatan permintaan luar negeri untuk logam dasar, khususnya besi dan baja.
Selain itu, industri kulit, peralatan dari kulit dan dasar kaki nan tumbuh sebesar 6,95 persen lantaran didorong oleh peningkatan peningkatan permintaan domestik pada momen Ramadan dan Idulfitri, serta peningkatan ekspor.
[Gambas:Video CNN]
(ldy/agt)
9 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·