CNN Indonesia
Senin, 27 Apr 2026 15:00 WIB
Ilustrasi. Personal color analysis kembali jadi tren berkah AI. Kamu bisa mendapatkan kajian warna individual hanya dengan mengunggah foto. (Bella Refsy Monica)
Jakarta, CNN Indonesia --
Beberapa hari belakangan, topik personal color analysis kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Tanpa kudu berkonsultasi dengan ahlinya, orang bisa mendapatkan kajian warna dengan support AI. Kamu sudah pernah coba?
Kehadiran tes individual color berbasis AI membuat orang bisa mendapatkan hasil instan hanya dari unggahan foto. Hal ini pun membikin personal color analysis kembali jadi bahan obrolan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, tren ini sebenarnya bukan perihal baru. Analisis warna untuk menentukan warna paling cocok sudah lama terkenal di bumi kecantikan dan fashion, apalagi sempat jadi tren beberapa tahun lalu.
Personal color analysis adalah metode untuk mencari palet warna nan dianggap paling cocok dengan karakter alami seseorang. Penilaian ini biasanya melibatkan warna kulit, rambut, mata, undertone, hingga tingkat kontras wajah.
Tujuannya bukan sekadar soal estetika, tapi membantu wajah terlihat lebih segar, cerah, dan selaras saat menggunakan warna tertentu.
Dalam studi Personal Colour between Perceptual Space and Social Practice, individual color dijelaskan sebagai langkah menemukan warna nan secara alami meningkatkan tampilan kulit sehingga terlihat lebih sehat dan jelas.
Dalam praktiknya, personal color sering dibagi ke dalam kategori musiman seperti spring, summer, autumn, dan winter. Kategori ini kemudian diturunkan lagi berasas warm alias cool undertone, tingkat kecerahan, dan kontras.
Meski tidak sepenuhnya berbasis sains nan pasti, konsep individual color tetap punya dasar dalam persepsi visual.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa orang condong memilih warna tertentu untuk jenis kulit tertentu. Warna biru nan masuk dalam golongan warna 'dingin', misal, lebih sering dianggap cocok untuk kulit terang, sementara warna 'hangat' seperti oranye alias merah condong dianggap lebih pas untuk kulit nan lebih gelap.
Kenapa banyak orang semakin peduli?
Ilustrasi. Personal color analysis kembali diminati tak hanya soal estetika tapi juga berangkaian dengan gambaran dan kepercayaan diri. (Nazwa Yuliana)
Kembalinya tren personal color tidak lepas dari beberapa perubahan style hidup, terutama di era digital.
1. Lebih praktis di era shopping online
Meningkatnya shopping online membikin orang tidak selalu bisa mencoba busana secara langsung. Personal color kemudian jadi semacam pedoman agar tidak salah pilih warna.
2. Membantu mengurangi trial-and-error
Studi yang diterbitkan di Journal of The Korean Society of Cosmetology, individual color dan perilaku membeli kosmetik menunjukkan bahwa kajian warna bisa memengaruhi keputusan pembelian. Banyak orang merasa lebih percaya saat memilih produk lantaran punya referensi nan jelas.
3. Berkaitan dengan gambaran dan kepercayaan diri
Riset juga menunjukkan bahwa individual color dapat membantu membangun gambaran diri nan lebih positif. Warna nan tepat bisa membikin seseorang terlihat lebih segar dan rapi, nan pada akhirnya berakibat pada rasa percaya diri.
Personal color bisa menjadi perangkat bantu nan berguna, terutama dalam memilih busana alias makeup bakal tetapi bukan patokan absolut nan kudu diikuti.
Analisis warna semestinya membantu memaksimalkan penampilan, bukan membatasi pilihan. Warna nan cocok tidak hanya ditentukan oleh teori, tapi juga oleh rasa nyaman dan kepercayaan diri seseorang saat memakainya.
(anm/els)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·