Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa buka bunyi mengenai rencana pemerintah Amerika Serikat melakukan investigasi perdagangan terhadap Indonesia. Ia menilai langkah tersebut merupakan perihal nan lazim dalam dinamika hubungan jual beli antarnegara.
"Saya pikir nggak apa-apa itu investigasi, perihal nan biasa," kata Purbaya saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (13/3).
Purbaya menjelaskan salah satu aspek nan kerap memicu ketegangan perdagangan adalah perbedaan biaya produksi antarnegara. Menurutnya, produk Indonesia condong lebih kompetitif dibandingkan produk AS lantaran biaya tenaga kerja nan lebih rendah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kita sama Amerika, peralatan kita lebih murah dibanding peralatan Amerika lantaran tenaga kerja kita lebih murah. Jadi kita mempunyai relative advantage dibanding Amerika," ujarnya.
Ia menambahkan kondisi tersebut membikin Indonesia berpotensi mencatatkan surplus perdagangan dengan AS. Namun, menurutnya perihal itu merupakan kejadian umum dalam hubungan jual beli global.
"Jadi kita mempunyai relative advantage dibanding Amerika. Itu nyaris pasti bakal terjadi, kita surplus dibanding mereka," katanya.
Meski demikian, Purbaya mengakui potensi akibat tetap ada andaikan pemerintah AS memutuskan untuk menerapkan tarif nan lebih tinggi terhadap produk Indonesia.
Menurutnya, akibat kebijakan tersebut bakal lebih terasa jika tarif nan dikenakan terhadap Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara lain.
"Selama kenaikan tarifnya sama dengan negara-negara pengekspor barang-barang sejenis ke Amerika, kita nggak ada masalah lantaran secara relatif sama saja," ujarnya.
Namun, dia mengingatkan situasi bisa berbeda jika Indonesia dikenakan tarif lebih tinggi dari negara lain.
"Kalau kita dikenakan tarif lebih tinggi, misalnya dibedakan 10 persen, sudah susah kita," katanya.
Meski begitu, Purbaya menilai prospek perdagangan Indonesia tetap relatif terjaga. Pemerintah, kata dia, tetap mempunyai ruang untuk melakukan penyesuaian andaikan kebijakan perdagangan AS berubah.
"Kita bakal lakukan upaya efisiensi nan lain jika memang terpaksa. Tapi harusnya prospeknya ke depan nggak terlalu buruk, apalagi dengan investigasi dari US trade," ujarnya.
Sebelumnya, instansi perwakilan jual beli AS alias United States Trade Representative (USTR) memulai penyelidikan terhadap sejumlah negara mengenai dugaan praktik perdagangan nan dinilai merugikan industri domestik AS.
Investigasi tersebut menyasar kebijakan alias praktik industri nan dianggap berangkaian dengan kelebihan kapabilitas produksi serta kebijakan nan dinilai berpotensi membebani dan membatasi perdagangan AS.
Sejumlah negara nan menjadi subjek penyelidikan antara lain China, Uni Eropa, Singapura, Swiss, Norwegia, Indonesia, Malaysia, Kamboja, Thailand, Korea Selatan, Vietnam, Taiwan, Bangladesh, Meksiko, Jepang, dan India.
Utusan Perdagangan AS Jamieson Greer mengatakan langkah tersebut diambil sebagai bagian dari upaya pemerintah AS melindungi pedoman industri dalam negeri serta mengembalikan rantai pasok strategis ke negaranya.
Penyelidikan ini juga muncul setelah kebijakan tarif resiprokal nan sebelumnya diumumkan Presiden Donald Trump pada April 2025 dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS.
Sebagai respons, pemerintah AS kemudian menerapkan tarif dunia sementara nan bertindak bagi seluruh negara selama 150 hari, sekaligus memulai investigasi terhadap dugaan pelanggaran perdagangan oleh sejumlah mitra dagang.
[Gambas:Video CNN]
(lau/ins)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·