Jakarta, CNN Indonesia --
Rektor IPB University Alim Setiawan Slamet merespons positif permintaan Badan Gizi Nasional (BGN) agar perguruan tinggi membangun dan mengelola dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) alias Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurut Alim, langkah tersebut menunjukkan keterbukaan pemerintah dalam melibatkan kampus untuk mendukung program MBG.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kira itu perihal nan sangat positif dan patut diapresiasi atas keterbukaan dari BGN lantaran kampus juga mau berkontribusi untuk mensukseskan program (MBG)," kata Alim di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu (2/5).
Ia menilai peran kampus tidak hanya sebatas mengoperasikan dapur, tetapi juga membangun ekosistem terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Jadi, SPPG nan dibangun oleh kampus bisa menjadi satu ekosistem nan terintegrasi melibatkan petani, serta rantai pasok nan disuplai dari sekitarnya.
Ia menjelaskan keterlibatan kampus juga membuka kesempatan pemanfaatan SPPG sebagai sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa.
Menurut dia, akomodasi tersebut dapat menjadi laboratorium hidup alias living lab, sekaligus wadah experiential learning dan penelitian bagi pengajar secara real time.
Berbagai penemuan kampus juga bisa diterapkan, mulai dari efisiensi daya dapur, pengembangan menu, hingga peningkatan standar keamanan dan mutu pangan, termasuk pengelolaan limbah.
Alim mengatakan IPB saat ini tengah membangun SPPG melalui yayasan mereka. Satu unit ditargetkan rampung dibangun pada Mei, disusul satu unit lainnya pada Juni. Keduanya berlokasi di Bogor.
Ia menambahkan sejak tahun lampau IPB telah ditugaskan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sebagai center of excellence dalam pemenuhan pangan dan gizi untuk program MBG.
"Kita bekerjasama dengan beragam kementerian dan juga didukung oleh UNICEF dan juga BGN," ujar Alim.
Melalui peran tersebut, IPB terlibat dalam pelatihan, penyusunan modul, serta pedoman penyelenggaraan MBG. Selain itu, kampus juga menjadi mitra BGN dalam melakukan kajian dan riset mengenai program tersebut.
Kepala BGN Dadan Handayana meminta langsung I perguruan tinggi membangun dan mengelola dapur SPPG secara berdikari untuk mendukung program MBG.
"Saya kira kampus perlu memahami ini, lantaran ini kesempatan besar. Minimal punya satu SPPG dulu, dan jika bisa pasokannya berasal dari civitas akademika sendiri," ujar Dadan dalam keterangan resmi di Makassar, Selasa (28/4).
Dadan mengatakan satu unit SPPG memerlukan support pasokan bahan pangan dalam jumlah besar. Untuk kebutuhan beras, satu SPPG memerlukan sekitar 8 hektare lahan sawah.
Sementara untuk kebutuhan pakan ternak dibutuhkan sekitar 19 hektare lahan jagung. Selain itu, kebutuhan telur harian untuk satu SPPG juga memerlukan sekitar 3.700 hingga 4.000 ayam petelur.
"Kalau mau telurnya dipasok sendiri, maka kudu ada sekitar 3.700 sampai 4.000 ayam petelur untuk satu SPPG," katanya.
Menurut Dadan, kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui keterlibatan civitas akademika maupun kerja sama dengan petani, peternak, dan pelaku upaya di sekitar kampus.
Ia menyebut kampus dapat menjadikan pengelolaan SPPG sebagai bagian dari aktivitas praktik lapangan mahasiswa, mulai dari pertanian, peternakan, pengolahan pangan, hingga distribusi.
Dengan demikian, kata dia, SPPG tidak hanya berfaedah sebagai dapur penyedia makanan bergizi, tetapi juga menjadi tempat penerapan aktivitas akademik nan mengenai dengan rantai pasok pangan.
(dhz/bac)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·