slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Review Film: A Normal Woman

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

img-title Endro Priherdityo

Drama Korea The Penthouse (2020) lebih seru untuk ditonton dibanding A Normal Woman.

Jakarta, CNN Indonesia --

A Normal Woman menjadi bukti bahwa movie nan bagus itu bukan hanya sekadar punya bujet dan produksi mentereng, tetapi nan paling utama adalah cerita dan penuturan nan kuat dan membikin penonton ikut di dalamnya.

Namun sayangnya movie nan digarap oleh Lucky Kuswandi ini hanya punya separuh awal kalimat nan saya tulis di atas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

A Normal Woman sebenarnya punya niat nan saya bilang mulia, ialah mengangkat topik kesehatan mental dengan langkah nan populer, membahas stigma-stigma soal kesehatan mental, dan dibalut dengan visual estetik.

Akan tetapi, saya menyaksikan segala topik itu dalam movie ini serasa masuk ke sebuah ruangan nan berisi aktivitas berjudul "sosialisasi". Hampa, menjemukan, dan tak menggugah.

Padahal secara konsep movie ini sudah sesuai dengan apa nan dimaksud sebagai movie drama psikologis, apalagi thriller. Ada teror psikis, ada segmen bentrok antar karakter, ada juga segmen nan sebenarnya bisa jadi trigger bagi sebagian orang.

Sayangnya saya tidak terpicu dengan beragam sajian dari Lucky Kuswandi dan Andri Cung nan menulis movie ini, walaupun A Normal Woman sudah mengandung beragam simbolisme nan terlihat edgy. Entah lantaran saya terlalu "zen" alias memang kedua penulis mungkin tidak mengalami sendiri bentrok emosi nan mereka tulis?

A Normal Woman. (L to R) Widyawati as Liliana, Marissa Anita as Milla, Mima Shafa as Angel, Dion Wiyoko as Jonathan in A Normal Woman. Cr. Courtesy of Netflix © 2025Review A Normal Woman: A Normal Woman tidak sepenuhnya buruk. Kalau ditanya apa nan paling bagus dari movie ini, saya tidak ragu bakal menjawab: Widyawati. (Courtesy Of Netflix/Tri Ratna)

Saya sebenarnya sangat mendukung keberadaan movie nan berani membahas kesehatan mental dan stigma nan kerap diberikan oleh masyarakat pada mereka penyintas gangguan kesehatan mental.

Saya juga mengakui bahwa A Normal Woman mempunyai itu semua. Mulai dari meremehkan gangguan mental nan dialami penderita, hingga beragam tindakan nan sebenarnya membikin penderita gangguan mental semakin sakit dan jauh dari kata sembuh.

Namun kembali lagi, Lucky dan Andri membikin A Normal Woman bagai movie tugas kuliah, sesuai dengan syarat tetapi tidak berakibat terhadap orang lain nan dalam perihal ini adalah saya sebagai penonton.

Meski begitu, A Normal Woman tidak sepenuhnya buruk. Kalau ditanya apa nan paling bagus dari movie ini, saya tidak ragu bakal menjawab: Widyawati.

Akting Widyawati dalam movie ini nan saya rasa hanya secuil dari kemampuannya itu saja sudah overpower. Gaya intimidasi dari karakter mertua nyebelin nan dia mainkan sudah bisa menembus layar hanya dengan mata mendelik.

A Normal Woman. Gisella Anastasia as Erika in A Normal Woman. Cr. Courtesy of Netflix © 2025Review A Normal Woman: Gisella Anastasia tak diduga lebih bisa menjadi scene stealer dibanding dua pemeran utama. (Courtesy Of Netflix/Tri Ratna)

Belum lagi dengan kalimat-kalimat menyebalkan dikte orang tua nan merasa paling tahu segalanya kepada anak mereka. Widyawati adalah trigger sesungguhnya dalam movie ini. Jempolan.

Sayangnya, para pemain nan lain tak bisa mengimbangi aura dan akting Widyawati. Marissa Anita apalagi kurang bisa menjadi scene stealer meski sudah merobek wajahnya sendiri dengan gunting, apalagi Dion Wiyoko nan perannya sebagai suami di bawah ketek ibunya.

Gisella Anastasia tak saya duga lebih bisa tampil lebih menarik dibanding dua pemeran utama. Gisel apalagi tak perlu berbicara apa pun saat pertama kali masuk layar dan penonton sudah bisa menebak dirinya akan menjadi perusak rumah tangga.

Gisel juga terlihat bisa memainkan karakter itu dengan mulus. Namun saya merasa peran karakternya sebagai pengkhianat sahabat berpotensi tetap bisa dieksploitasi oleh kedua penulis, dan bisa menambah unsur emosi nan sangat kurang dalam movie ini.

[Gambas:Video CNN]

Hal lain nan terlihat bagus dari movie ini adalah aspek produksinya. Menyewa sebuah rumah nan sangat mewah dan estetik, visual pengaruh dan komputerisasi nan mulus, hingga kamera nan bening nan memuluskan sinematografi elok bisa jadi nilai positif dari movie ini.

Meski begitu, semua itu tak bisa menghalangi saya untuk mengatakan drama Korea The Penthouse (2020) lebih menyenangkan untuk ditonton dibanding A Normal Woman.

Padahal jika dipikir secara logika, cerita The Penthouse sangat absurd. Namun drama itu mempunyai karakter nan kuat dan sakit mental, penuturan nan emosional, serta mengerti gimana memainkan emosi penonton. Hal nan tak dicapai oleh A Normal Woman.

Hingga akhirnya, A Normal Woman menjadi movie nan secukupnya normal saja. Tak ada aspek unik untuk bisa dikenang penonton, dan menambah katalog movie Netflix nan lagi-lagi perlu lebih ketat dalam mengakurasi proyek nan bakal mereka naungi.

[Gambas:Youtube]

(end)

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru