slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Review Film: The Devil Wears Prada 2

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Endro Priherdityo | CNN Indonesia

Jumat, 01 Mei 2026 20:00 WIB

 movie ini tak sepenuhnya sama dari nan 20 tahun lalu, tapi lebih baik. Review film: The Devil Wears Prada 2 bukan hanya sebagai momen reuni dan selebrasi legasi sebuah movie di budaya populer, (20th Century Studios)

img-title Endro Priherdityo

This is how a sequel should be done. That's all.

Jakarta, CNN Indonesia --

Gird your loins. The Devil Wears Prada 2 bukan hanya sebagai momen reuni dan selebrasi legasi sebuah movie di budaya populer, nan mana itu jarang terjadi, tapi juga menunjukkan: this is how a sequel should be done.

The Devil Wears Prada 2 melangkah lebih jauh dari sekadar movie soal jurnalis, fashion, perempuan, golongan pekerja industri, dan komedi, tetapi menyentuh hingga aspek paling sederhana dari kemauan manusia: passion.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Api antusiasme sangat terlihat dari gimana Aline Brosh McKenna kembali menulis perkembangan karakter karya Lauren Weisberger, 20 tahun setelah dirinya menyelesaikan naskah The Devil Wears Prada (2006).

McKenna bukan hanya menulis dengan menggunakan karakter nan sama, tetapi juga melengkapinya dengan perkembangan karakter nan manusiawi, logis, dan relevan bukan hanya di bumi Runway berada, tetapi juga bumi penonton menyaksikannya.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya Miranda Priestly nan dingin, kejam, dan mempunyai kehidupan pribadi acak-acakan 20 tahun lampau bakal terlihat seperti seorang ibu berumur lanjut, kenyang dengan segala jenis obsesi pekerjaan, tetapi tetap mempunyai gairah nan sama.

Bukan hanya itu. Salah satu karakter paling ikonis dalam sejarah perfilman tersebut juga mempunyai tatapan wisdom nan belum pernah ada sebelumnya, serta senyuman nan lebih banyak nan membikin The Dragon Lady jadi lebih manusiawi dibanding sebelumnya.

Perkembangan juga bukan hanya terjadi pada karakter Miranda, tetapi pada seluruh karakter dalam movie ini, Andy Sachs, Emily Charlton, Nigel Kipling, termasuk pada karakter sampingan seperti Lily.

Perkembangan inilah nan mungkin semula dimaksudkan sebagai fan service kepada para fans movie pertama, tetapi menghasilkan perihal nan jauh lebih baik dari nan direncanakan.

The Devil Wears Prada 2 (2026)Review The Devil Wears Prada 2 (2026): Api antusiasme sangat terlihat dari gimana Aline Brosh McKenna kembali menulis perkembangan karakter karya Lauren Weisberger, 20 tahun setelah dirinya menyelesaikan naskah The Devil Wears Prada (2006). (20th Century Studios)

McKenna juga terlihat perkembangannya dalam aspek penulisan naskah, nan tercermin dari pilihan kalimat-kalimat pandai dalam movie ini. Mulai dari ledekan, satir, hingga kalimat sederhana nan bisa langsung menusuk ke relung penonton.

Taraf passion nan sama juga ditampilkan oleh David Frankel nan kembali menggarap kisah ini setelah membungkusnya 20 tahun lalu. Bila dua dasawarsa lampau Frankel terlihat menggarap ini seperti pada movie komedi-drama lainnya, kali ini dia memberikan sentuhan lebih.

Frankel terlihat menggarap The Devil Wears Prada 2 dengan lebih matang. Ia terlihat memikirkan dengan perincian apa nan bakal datang di layar, mulai dari segmen dan komposisinya, vibe nan dibawa, hingga persoalan tone warna nan sempat menjadi kekhawatiran.

Bila memandang hanya dari trailer, memang tone warna sekuel ini jadi lebih suram dan tidak segemerlap movie pertama. Namun ternyata, Frankel melakukan itu dengan maksud tersirat. Frankel mau menghadirkan segala ketidakpastian nan dirasakan saat ini, bukan hanya oleh para karakter di dalam cerita, tetapi juga penonton di depan layar.

Akan tetapi, suasana suram nan datang juga bukan lantaran mau mendegradasi kebahagiaan penggemar. Justru dengan cerita nan dibawa McKenna soal gimana perkembangan nan terjadi pada masing-masing karakter kunci, keputusan Frankel soal tone warna ini seolah sebagai pernyataan tegas: di kembali ketidakpastian nan membikin masa depan seolah suram, ada perihal sederhana dalam hidup nan sepatutnya disyukuri nan mungkin sebelumnya tidak didapat.

Frankel jelas mengerti tugasnya sebagai sutradara movie nan mempunyai banyak fans ini. Hal-hal sederhana sebagai tribut kisah original The Devil Wears Prada kembali dihadirkan. Mungkin sebagian dimodifikasi, sebagian lainnya hanya sebagai aksen, tapi jelas fan service itu membikin fans kembali mengingat argumen mereka mencintai movie ini.

Segala keputusan Frankel itu jelas tidak bakal muncul jika dirinya tidak mempunyai kadar passion nan sama dengan Florian Ballhaus nan kembali memegang kendali atas kamera. Ballhaus juga mengerti angle-angle kamera seperti apa nan jadi karakter unik kisah ini, dan sukses membawakannya dengan baik.

Meski begitu, Frankel dan Ballhaus juga tak mau keglamoran bumi fashion nan identik dengan The Devil Wears Prada menghilang hanya lantaran naskah McKenna nan berlatar bumi nan suram. Art passion dari fashion people nan gemerlap jelas dirayakan dalam movie ini, meski soal pemilihan wardrobe The Devil Wears Prada 2 bisa jadi perdebatan di luar arena.

Kapan lagi memandang fashion show dengan iringan Lady Gaga menyanyi secara live? Sayang Lady Gaga tak membawakan lagu Fashion dari era Poker Face (2008) nan sangat ikonis. Namun lagu Runway nan dia buat berbareng Doechii, dan Shape of Woman, sudah cukup untuk mengiringi gemerlap fashion show nan kurang dirasa di movie pertama.

The Devil Wears Prada 2 (2026)Review The Devil Wears Prada 2 (2026): Bila movie pertama bola jiwa sepenuhnya berada di tangan Miranda, kali ini bola berada di empat karakter, sebuah pembagian tugas nan juga menjadi tanda kedewasaan seorang pemimpin setaraf Miranda Priestly. (20th Century Studios)

Namun dari semua kerja penuh passion ini, buket kembang terbesar tetap kudu diberikan kepada Meryl Streep, Anne Hathaway, Emily Blunt, dan Stanley Tucci, nan kali ini menjadi kuartet inti jiwa dari The Devil Wears Prada 2.

Bila movie pertama bola jiwa sepenuhnya berada di tangan Miranda, kali ini bola berada di empat karakter, sebuah pembagian tugas nan juga menjadi tanda kedewasaan seorang pemimpin setaraf Miranda Priestly.

Mereka berempat bukan hanya tetap bisa membawakan perannya dengan mulus, tetapi juga menampilkan perkembangan dan jawaban dari harapan-harapan fans The Devil Wears Prada. Memang ada sebagian perihal nan terasa berbeda dan baru, tetapi semua tetap dalam pemisah wajar dan manusiawi.

Satu perihal lainnya nan mungkin bisa disyukuri dari The Devil Wears Prada 2 adalah kemunculan Kenneth Branagh sebagai suami baru Miranda, Stuart, dan Patrick Brammall sebagai kekasih Andy, Peter.

Dua karakter itu semula mungkin adalah jawaban pertanyaan fans selama 20 tahun, tetapi kemudian menjadi 'kado indah' nan tak disangka untuk dua karakter paling dicintai fans movie ini.

Dengan semua sajian nan ada, tak heran jika Meryl Streep dengan pongah menantang fans untuk datang menyaksikan The Devil Wears Prada 2 dengan ekspektasi tinggi, lantaran semuanya bakal terlampaui. Well, in Miranda we trust. That's all.

[Gambas:Youtube]

(end)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru