Jakarta, CNN Indonesia --
Perang antara Iran melawan Israel-Amerika Serikat (AS) membuat negara-negara teluk seperti Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Kuwait dan Uni Emirat Arab serba salah.
Perang tersebut bahkan kembali memunculkan ketegangan baru dengan Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laman Al Jazeera menyebut rivalitas Iran dan negara-negara Arab itu seperti 'perang dingin', mengacu pada AS dan Rusia di masa lalu.
Ketidaksenangan atau rivalitas negara-negara Arab-khususnya Arab Saudi dan anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) terhadap Iran berakar pada kombinasi perbedaan teologis, persaingan pengaruh geopolitik, dan rasa takut akan ketidakstabilan regional
Ini alasannya
Rivalitas geopolitik itu tidak tunggal tapi gabungan banyak faktor seperti Iran adalah negara Persia, bukan Arab, dan secara historis bersaing untuk menjadi pemimpin di kawasan Timur Tengah.
Ada juga ketakutan akan melebarnya pengaruh buruk Revolusi Iran (1979) bagi negara-negara Teluk yang merupakan kerajaan.
Setelah Revolusi Islam 1979, Iran berusaha menyebarkan ideologi revolusionernya.
Negara-negara Arab di Teluk takut pengaruh ini akan mengganggu stabilitas monarki mereka.
Faktor lainnya, perbedaan teachings agama. Iran adalah pusat Syiah, sementara mayoritas negara Arab adalah Sunni.
Ketegangan agama ini sering disulut untuk kepentingan politik, menyebabkan polarisasi di kawasan.
Program nuklir Iran menjadi kekhawatiran utama negara Teluk dan AS, karena potensi ancaman keamanan regional.
Sementara Iran sering mengkritik hubungan negara-negara teluk dengan Barat.
Konflik dan hubungan pasang surut ini menjadikannya salah satu konflik paling bertahan lama di Timur Tengah.
Holly Dagres adalah seorang peneliti di lembaga think-tank Atlantic Council yang berbasis di Washington dan berpendapat bahwa kebijakan luar negeri Iran sebagian didasarkan pada dua elemen penting.
"Mereka memandang setiap tindakan yang diambil Barat terhadap Teheran, khususnya Amerika Serikat, sebagai tindakan yang memiliki tujuan jangka panjang untuk mewujudkan perubahan rezim," ujar Dagres.
"Dengan militer yang sudah ketinggalan zaman, Teheran berharap bahwa jika terjadi serangan terhadap negara itu, proksi mereka dapat membalas dendam terhadap musuh-musuh mereka, sekutu AS di kawasan itu seperti Israel," ia menambahkan.
Dagres juga meyakini bahwa citra diri Iran berperan di sini.
"Yang lebih penting, Iran ingin dihormati sebagai kekuatan regional. Mereka ingin memiliki tempat di meja perundingan dan membuat keputusan seperti tetangganya, Arab Saudi. Memiliki proksi membantu Teheran memproyeksikan pengaruhnya," katanya.
(imf/bac)
Add
arsenic a preferred root connected Google
[Gambas:Video CNN]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·