Jakarta, CNN Indonesia --
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi mengatakan tingkat kepercayaan publik terhadap media arus utama tetap lebih tinggi dibanding dengan media sosial alias medsos.
Hal itu dia sampaikan dalam aktivitas Outlook Media 2026 nan diselenggarakan Dewan Pers, Kamis (5/2).
"Pertama adalah tingkat kepercayaan publik terhadap pers itu tetap lebih tinggi dibanding terhadap media sosial. Tapi, trennya turun," Ujar Burhanuddin dikutip dari YouTube resmi Dewan Pers.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penjelasannya, penurunan tren itu dikarenakan audiens nan lebih muda lebih berjuntai ke sosial media.
"Jadi semakin muda, penduduk alias pemilih muda itu, jagoan mendapatkan beritanya itu sudah medsos ya, TikTok terutama di situ. TikTok kemudian WhatsApp. TV ada di ranking ketiga di segmen pemilih 24 tahun ke bawah. Tapi di atas 24 tahun, TV berada di ranking pertama," jelasnya.
Namun, Burhanuddin menjelaskan meskipun penggunaan sosial media meningkat, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap medsos justru rendah.
"Medsos meskipun aksesnya mengalami peningkatan eksponensial, tadi sudah dijelaskan panjang lebar, tapi trust terhadap buletin alias rumor di medsos tetap sangat rendah,"
Ini seharusnya, kata Burhanuddin, jadi kesempatan untuk media arus utama untuk terus mengangkat integritas, kredibilitas, dan verifikasi.
"Jadi, nah ini jadi krusial untuk mengangkat kembali apa nan tadi disebut dengan integritas, kredibilitas, verifikasi, sesuatu nan mungkin lenyap dan semestinya itu menjadi kekuatan mainstream media," katanya.
Terlebih, dia juga mengatakan semestinya perihal ini juga dapat dijadikan kesempatan upaya bagi media arus utama dengan memanfaatkan sosial media.
"Nah sekarang gimana ilustrasi itu bisa diturunkan secara nyata untuk hal-hal lain dan itu punya implikasi terhadap upaya mainstream media," katanya.
"Jadi medsos aksesnya meningkat tapi tidak berbanding terbalik dengan tingkat kepercayaan. Jadi orang mengakses medsos justru tidak memulihkan kepercayaan terhadap buletin alias konten nan dibawa oleh medsos," sambungnya.
Meski begitu, Burhanuddin mengatakan halangan media arus utama sekarang adalah independensi. Hanya sedikit media arus utama nan memang menganut objektivitas.
Ia menilai banyak media arus utama saat ini nan terjebak echo chamber, ialah suatu kejadian ketika orang-orang hanya mau menerima info nan bisa menguatkan pendapat alias perspektif mereka sendiri.
"Dulu ada dugaan media bakal mempengaruhi preferensi orang. Sekarang preferensi orang mempengaruhi pilihan media nan apa bakal mereka pilih," ujarnya.
"Seharusnya ada media nan beyond dari urusan partisan. nan ukurannya itu bukan sikap partisan tapi fakta, ukuran objektif nan bisa dihitung gitu ya. Nah, ini kelemahan mendasar dari media," sambungnya.
(fam/dal)
[Gambas:Video CNN]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·