Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto melempar wacana larangan ritel modern seperti masuk desa. Ia menilai keberadaan ritel modern berpotensi menjadi ancaman bagi keberlangsungan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih).
Menurutnya, kekuasaan Alfamart Cs dapat menghalang perputaran ekonomi di desa dan menekan pelaku upaya lokal.
Tak lama, Yandri meluruskan pertanyaannya melalui IG @yandri_susanto. Ia menegaskan maksud dari wacana tersebut, ialah ekspansi ritel modern nan kudu disetop lantaran cemas bakal menakut-nakuti kelangsungan upaya di daerah, termasuk Kopdes Merah Putih. Sedangkan bagi ritel modern nan terlanjur datang di desa, dipersilakan lanjutkan operasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indomaret, Alfamart nan sudah ada silahkan jalan, saya tidak pernah mengusulkan untuk ditutup. nan disetop itu izin baru. Jangan sampai minimarket-minimarket ini sampai ke desa-desa dan bisa mematikan usaha-usaha rakyat di desa," ungkap Yandir dalam unggahannya, Rabu (25/2).
Menteri Koperasi Ferry Juliantono ikut bersuara merespons wacana larangan Alfmart Cs masuk desa. Ia menegaskan tidak berencana menghentikan ekspansi ritel modern, melainkan mengatur keberadaannya di wilayah pedesaan.
Menurutnya, pemerintah mau memastikan perputaran ekonomi desa lebih banyak dinikmati masyarakat setempat melalui koperasi, sekaligus tetap membuka kesempatan kemitraan antara kopdes dan pelaku upaya lainnya.
Lantas, gimana agar Kopdes Merah Putih bisa bersaing dengan ritel minimarket modern di desa?
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Deswin Nur menjelaskan tujuan utama kebijakan desa bukan menciptakan perlindungan berlebihan, tetapi memastikan terciptanya ekosistem upaya nan sehat, kompetitif, dan berkelanjutan.
"Dalam konteks tersebut, Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih tidak semestinya diposisikan sebagai musuh ritel minimarket modern, tetapi sebagai pelaku upaya nan mempunyai karakter dan pedoman kekuatan nan berbeda," ujar Deswin kepada CNNIndonesia.com, Rabu (25/2).
Deswin menilai Kopdes Merah Putih sebetulnya punya tiga modal kuat. Pertama, kedekatan sosial dan pedoman anggota. Kopdes Merah Putih lahir dari organisasi desa itu sendiri, sehingga mempunyai captive market berbasis keanggotaan dan solidaritas sosial.
Kedua, elastisitas dalam model usaha. Kopdes Merah Putih tidak semata-mata mengejar keuntungan maksimal, tetapi kesejahteraan anggota, sehingga margin alias untung upaya bisa lebih adaptif, serta pengedaran faedah lebih merata. Ketiga, potensi integrasi hulu dan hilir dengan produk lokal desa.
"Jika dikelola dengan baik, Kopdes dapat menjadi agregator produk UMKM desa sekaligus pemasok kebutuhan pokok, sesuatu nan seringkali tidak menjadi konsentrasi utama ritel modern," ucapnya.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·