CNN Indonesia
Rabu, 28 Jan 2026 12:20 WIB
Ilustrasi. Mengganti puasa Ramadhan nan ditinggalkan hukumnya wajib bagi setiap Muslim. Begini tata langkah puasa qadha Ramadhan. (iStockphoto/seksanwangjaisuk)
Jakarta, CNN Indonesia --
Puasa qadha dilakukan untuk menggantikan hari-hari puasa Ramadhan nan tertinggal lantaran argumen tertentu nan dibenarkan syariat.
Agar ibadah ini diterima, pastikan Anda sudah memahami tata langkah puasa qadha Ramadhan yang benar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasalnya, tidak sedikit orang nan tetap bingung kapan waktu pelaksanaannya, gimana niatnya, serta apa saja ketentuan nan kudu diperhatikan. Simak penjelasan lengkapnya dalam tulisan ini.
Dalil tentang qadha puasa Ramadhan
Mengganti puasa Ramadhan nan ditinggalkan hukumnya wajib bagi setiap Muslim. Kewajiban ini ditegaskan langsung dalam Al-Qur'an sebagai corak keringanan sekaligus tanggung jawab.
Melansir penjelasan dalam kitab Fiqih Sunnah 2 karya Sayyid Sabiq, Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 184 bahwa siapa pun nan sakit alias berjalan sehingga tidak berpuasa, maka wajib menggantinya di hari lain.
"...Maka siapa saja di antara Anda sakit alias dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari nan lain...,"(QS al-Baqarah:184).
Dalam istilah fiqih, mengganti puasa nan ditinggalkan disebut dengan qadha. Qadha berfaedah mengerjakan ibadah di luar waktu nan telah ditentukan sebelumnya.
Nabi Muhammad saw. juga pernah berfirman mengenai puasa qadha, ialah sebagai berikut:
"Jika dia (orang nan meninggalkan puasa) ingin, hendaklah dia menggantinya secara tidak beruntun; dan jika dia ingin, hendaklah dia menggantinya secara beruntun."(HR Ibnu Umar)
Waktu penyelenggaraan qadha puasa Ramadhan
Qadha puasa Ramadhan dapat dilaksanakan sejak bulan Syawal hingga sebelum masuk Ramadhan berikutnya. Rentang waktu ini memberikan kelonggaran bagi umat Islam untuk menunaikan kewajibannya.
Apabila seseorang belum sempat mengqadha puasa hingga datang Ramadhan berikutnya, maka dia tetap wajib berpuasa Ramadhan nan sedang berlangsung. Setelah itu, dia bertanggung jawab mengganti puasa Ramadhan nan ditinggalkan sebelumnya.
Lalu, menurut penjelasan dalam laman NU Online, dalam ajaran Syafi'i nan dianut kebanyakan Muslim Indonesia, qadha puasa Ramadhan tetap diperbolehkan meskipun telah melewati tanggal 15 Sya'ban. Larangan puasa setelah pertengahan Sya'ban hanya bertindak untuk puasa sunnah tanpa sebab.
Riwayat dari Sayyidah Aisyah RA menjadi penguat perihal tersebut. Beliau menunda qadha puasa Ramadhan hingga bulan Sya'ban lantaran kesibukannya berbareng Rasulullah SAW.
Hadis ini menunjukkan bahwa menunda qadha hingga Sya'ban diperbolehkan. Meski demikian, menyegerakan qadha puasa tetap lebih dianjurkan agar tanggungjawab segera tertunaikan.
Tata langkah puasa qadha Ramadhan
Secara umum, tata langkah puasa qadha Ramadhan sama seperti puasa wajib di bulan Ramadhan. Perbedaannya terletak pada niat nan secara unik menyebut qadha puasa.
Agar lebih mudah dipahami, berikut tahapan tata langkah puasa qadha Ramadhan nan dapat diikuti:
- Menetapkan niat pada malam hari
- Melaksanakan sahur sebelum fajar
- Menahan diri dari perihal nan membatalkan puasa
- Memperbanyak ibadah kebaikan
- Berbuka puasa ketika mentari tenggelam
Adapun referensi niat puasa qadha adalah sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ للهِ تَعَالَى
Artinya: Aku beriktikad untuk mengqadha puasa bulan Ramadhan besok hari lantaran Allah Swt.
Apabila lafal tersebut terasa susah dihafalkan, diperbolehkan menggunakan niat nan lebih ringkas. nan terpenting adalah kesadaran dalam hati untuk mengganti puasa Ramadhan.
Demikian tata langkah puasa qadha Ramadhan serta dalil nan mengaturnya. Semoga bermanfaat.
(han/fef)
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·