Jakarta, CNN Indonesia --
Tunjangan Hari Raya (THR) sering menjadi momen nan dinanti pekerja menjelang Lebaran.
Namun, tanpa perencanaan nan baik, biaya tambahan ini bisa sigap lenyap untuk memenuhi beragam kebutuhan hari raya mulai dari mudik, belanja, hingga zakat.
Perencana finansial mengingatkan pentingnya mengatur THR dengan bijak agar tetap bisa memenuhi tanggungjawab ibadah sekaligus menjaga kondisi finansial setelah Lebaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut beberapa langkah menyisihkan THR untuk mudik dan amal agar tidak 'boncos', menurut perencana keuangan:
1. Dahulukan Kewajiban Zakat
Perencana Keuangan Andi Nugroho menjelaskan bahwa amal nan wajib dibayarkan saat Ramadan adalah amal fitrah.
Besaran amal fitrah setara dengan 2,5 kilogram alias 3,5 liter beras per orang, alias dapat dikonversi ke dalam corak duit sesuai nilai beras nan biasa dikonsumsi.
Sebagai contoh, jika nilai beras Rp20 ribu per kilogram, maka amal fitrah per orang sekitar Rp50 ribu.
"Atau jika mau dikonversi dalam corak uang, maka juga bisa nominal sama dengan besaran kilogram alias liter makanan pokok tadi. Jadi semisal per kilogram berasnya adalah Rp20 ribu, maka total per perseorangan amal fitrahnya adalah Rp50 ribu. Bila satu family ada ayah ibu dan dua anak, maka total amal fitrahnya adalah Rp100 ribu," kata Andi.
Karena sifatnya wajib, biaya amal sebaiknya menjadi salah satu alokasi pertama dari THR.
2. Amankan Kebutuhan usai Lebaran
Sebelum mengalokasikan THR untuk mudik alias shopping Lebaran, Andi memandang krusial untuk menyisihkan terlebih dulu kebutuhan setelah libur Idulfitri.
Menurut Andi, kebutuhan tersebut bisa berupa tagihan bulanan, cicilan, hingga biaya makan dan transportasi sehari-hari setelah Lebaran. Dengan langkah ini, kondisi finansial tetap stabil dan tidak terganggu setelah masa libur panjang selesai.
"Agar tidak boncos, maka nan perlu dilakukan adalah justru mengamankan dan menyisihkan dulu kebutuhan-kebutuhan pasca libur lebaran semisal ada tagihan alias angsuran nan kudu dibayar. Termasuk juga untuk makan dan biaya transportasi kita sehari-sehari pasca lebaran. Bila sudah disisihkan semua, baru deh selebihnya bisa kita gunakan untuk mudik berlebaran," terangnya.
3. Sesuaikan Anggaran Mudik dengan Kemampuan
Menurut Andi, mudik sering menjadi pengeluaran terbesar dari THR, terutama jika perjalanan jauh alias melibatkan banyak personil keluarga. Kebutuhan biaya mudik bisa berbeda-beda tergantung destinasi dan jumlah orang nan ikut.
Bahkan kata Andi, dalam beberapa kasus, THR saja tidak cukup untuk menutupi biaya mudik sehingga perlu ditopang dengan tabungan nan disiapkan sejak beberapa bulan sebelumnya.
"Untuk pengalokasian THR sendiri sebenarnya tergantung pada situasi dan kondisi masing-masing. Karena itu, biaya mudik sebaiknya disesuaikan dengan keahlian finansial agar tidak mengganggu kebutuhan lain," katanya.
4. Pisahkan THR dan Bonus dalam Rekening Berbeda
Perencana Keuangan OneShildt Consulting Budi Rahardjo menyarankan agar biaya THR dan bingkisan dipisahkan dalam rekening nan berbeda. Cara ini dinilai dapat membantu memantau penggunaan duit dan mencegah bujukan shopping impulsif.
Menurutnya, biaya nan besar dalam satu rekening sering membikin seseorang lebih mudah mengeluarkan duit tanpa perencanaan.
"Mudah sekali bagi kita untuk tergoda dalam mengkonsumsi duit andaikan tetap tergabung dalam 1 rekening nan sama," ujar Budi.
5. Buat Daftar Rinci Pengeluaran Lebaran
Langkah berikutnya adalah menyusun daftar kebutuhan hari raya berasas prioritas. Dengan perencanaan rinci, penggunaan THR menjadi lebih terkontrol.
Daftar tersebut dapat mencakup:
* Zakat fitrah dan amal mal
* Biaya mudik
* Belanja kebutuhan Lebaran
* Uang THR untuk keluarga
* Bantuan sosial alias sedekah
* Biaya open house alias silaturahmi.
"Mulai dari kebutuhan untuk bayar amal fitrah dan mal, shopping kebutuhan hari raya, biaya mudik, support kerabat, open house dan sebagainya," imbuhnya.
6. Gunakan Rumus Sederhana 40-30-20-10
Budi juga menyarankan pembagian sederhana dalam mengalokasikan THR, yaitu:
-40 persen untuk kebutuhan utama seperti zakat, busana Lebaran, dan biaya mudik
-30 persen untuk kebaikan dan sosial seperti support family alias sampulsurat THR
-20 persen untuk biaya darurat selama perjalanan mudik
-10 persen untuk tabungan, investasi, alias melunasi utang.
"Alokasi ini hanyalah referensi sederhana, setiap family dapat menentukan sendiri alokasinya nan krusial tetap merujuk kepada prioritas kebutuhan," sebut Budi.
7. Jangan Langsung Habiskan Sisa THR
Menurut Budi, jika tetap ada sisa biaya setelah semua kebutuhan terpenuhi, sebaiknya tidak langsung dihabiskan untuk konsumsi.
Dana tersebut bisa digunakan untuk menambah biaya darurat, melunasi angsuran konsumtif, menambah investasi alias menyiapkan kebutuhan tahunan seperti pajak dan kurban.
Dengan pengelolaan nan tepat, THR tidak hanya menjadi duit tambahan sesaat, tetapi juga dapat membantu memperkuat kondisi finansial setelah Lebaran.
[Gambas:Video CNN]
(sfr/bac)
Add
as a preferred source on Google
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·