slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Tragedi Kereta Bekasi Timur, Railvolution Dan Strategi 'sdg'

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Bambang Susantono

Guru Besar UNDIP, Pendiri Intelligent Transportation System Indonesia

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi

CNNIndonesia.com

Jakarta, CNN Indonesia --

Sekitar satu dasawarsa lalu, kita menyaksikan perubahan mendasar dalam bumi perkeretaapian di Indonesia. Praktik penumpang di atap kereta api sudah tidak lagi terlihat, nomor kecelakaan mengalami penurunan signifikan seiring pembangunan jalur dobel dan dwi ganda, serta penerapan sistem persinyalan elektrik. Modernisasi sistem tiket dan beragam penemuan lainnya turut memperkuat transformasi tersebut. Dalam kitab Revolusi Transportasi (2014), saya menyebut kejadian ini sebagai "Railvolution", sebuah fase krusial dalam kemajuan perkeretaapian Indonesia.

Peristiwa kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026 menjadi pengingat bahwa di tengah kemajuan teknologi transportasi, tetap ada pekerjaan rumah nan sifatnya mendesak. Kejadian ini menunjukkan bahwa sistem nan semakin modern tetap memerlukan pertimbangan berkelanjutan, terutama dalam memastikan integrasi dan keandalan seluruh komponennya.

Pengalaman dunia menunjukkan bahwa kecelakaan kereta api umumnya bukan disebabkan oleh satu aspek tunggal, melainkan kombinasi dari beberapa aspek. Faktor manusia sering kali menjadi kontributor utama, termasuk dalam perihal kepatuhan terhadap prosedur, tingkat kelelahan, serta konsistensi dalam pengambilan keputusan operasional. Di sisi lain, aspek eksternal seperti perlintasan sebidang dan hubungan dengan masyarakat juga menjadi tantangan nan tidak sederhana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, aspek prasarana dan sarana juga memerlukan perhatian berkelanjutan. Kondisi rel, sistem kelistrikan, serta kesiapan armada kudu selalu berada dalam standar optimal melalui pemeliharaan nan konsisten dan berbasis data. Hal ini krusial untuk memastikan bahwa peningkatan kapabilitas diikuti oleh peningkatan keandalan sistem.

Berbagai negara telah mengembangkan pendekatan nan berbeda dalam meningkatkan keselamatan. Jepang, misalnya, menekankan pada teknologi presisi dan sistem fail-safe berbasis kepintaran buatan (AI). Pada jalur commuter (Yamanote Line), Jepang mengintegrasikan kamera dan kepintaran buatan untuk memantau pantograf secara real-time. Langkah tersebut dapat memangkas waktu penemuan masalah secara tepat dan akurat. Selain itu, Jepang juga menggunakan armada drone untuk melakukan inspeksi jalur agar lebih sigap dan akurat.

Sementara itu, India lebih pragmatis dan konsentrasi pada pengelolaan hubungan antara manusia dan jalur kereta melalui pemagaran serta pembangunan akomodasi penyeberangan nan lebih aman. Pemisahan bentuk dan perilaku manusia menjadi konsentrasi pendekatan keselamatan utama. Fenomena trespassing menjadi ancaman terbesar nan dihadapi.

India melakukan kampanye pemagaran nasional secara masif dengan panjang lebih dari 16.000 km. Upaya tersebut juga dikombinasikan dengan pembangunan jalur penyeberangan bawah tanah agar lebih ramah pejalan kaki. Strategi unik lainnya nan diambil adalah dengan mengoleskan pelumas industri (grease) pada pagar untuk mencegah masyarakat nan mau memanjat.

Kedua pendekatan di dua negara nan berbeda ini menunjukkan bahwa solusi keselamatan perlu disesuaikan dengan karakter sosial budaya masyarakat dengan pemanfaatan teknologi tepat guna berbasis kepintaran buatan nan tetap humanis.

Dalam konteks Indonesia, krusial untuk memandang sistem perkeretaapian secara menyeluruh melalui tiga dimensi utama: hardware, software, dan brainware. Pada aspek hardware, diperlukan agunan bahwa prasarana bentuk dan sistem pendukungnya telah memenuhi standar keselamatan nan tinggi. Pada aspek software, integrasi sistem pengendalian, pemantauan real-time, serta keahlian penemuan awal menjadi sangat krusial. Sementara itu, pada aspek brainware, penguatan kompetensi, disiplin, dan budaya keselamatan di seluruh lini organisasi menjadi fondasi utama.

Ketiga aspek tersebut saling mengenai dan tidak dapat dipisahkan. Oleh lantaran itu, pendekatan nan integratif dan sistemik menjadi kunci dalam memperkuat sistem secara keseluruhan. Upaya nan telah dilakukan selama ini merupakan langkah penting, dan ke depan perlu terus disempurnakan agar bisa menjawab tantangan nan semakin kompleks.

Rencana pemerintah untuk memperluas jaringan kereta api ke beragam pulau di luar Jawa merupakan langkah strategis nan patut diapresiasi. Pengembangan transportasi berbasis rel mempunyai potensi besar dalam mendukung efisiensi logistik nasional serta memperkuat konektivitas antarmoda. Integrasi antara transportasi jalan, kereta api, laut, dan udara menjadi agenda krusial dalam mewujudkan sistem transportasi antar moda nan lebih efisien dan berkelanjutan.

Karenanya dalam perihal tata kelola (governance) perlu pembagian tugas secara jelas dan tegas mengenai tugas dan tanggung jawab antara regulator dan operator. PT Kereta Api Indonesia sebagai operator utama diharapkan dapat terus melanjutkan transformasi menuju perusahaan berbasis teknologi pandai nan humanis. Penguatan digitalisasi, pemanfaatan data, serta peningkatan kapabilitas sumber daya manusia bakal menjadi aspek penentu keberhasilan ke depan.

Di sisi lain, peran Kementerian Perhubungan sebagai regulator sangat strategis. Penguatan standar keselamatan, peningkatan kualitas pengawasan berbasis teknis, serta koordinasi lintas sektor dengan kementerian dan pemerintah wilayah menjadi bagian penting. Ini merupakan komponen utama untuk memastikan keselamatan dan keandalan sistem secara menyeluruh, termasuk dalam penghapusan perlintasan sebidang.

Ke depan, Railvolution dapat dimaknai sebagai proses berkepanjangan nan memerlukan peta jalan nan adaptif terhadap perkembangan zaman. Pendekatan nan mengedepankan strategi "SDG", Sustainable, Digitalize, dan Governance, menjadi relevan dalam konteks saat ini dan untuk menjawab tantangan di masa depan.

Penguatan teknologi nan humanis, tata kelola nan baik, serta keterlibatan seluruh pemangku kepentingan bakal menjadi kunci dalam mewujudkan sistem perkeretaapian Indonesia nan semakin andal, aman, dan efisien.

(sur)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru