CNN Indonesia
Selasa, 17 Feb 2026 11:20 WIB
Ilustrasi. Lelah dengan seremoni fisik, generasi muda China rayakan Tahun Baru Imlek secara virtual dan gunakan support AI. (iStock/FreshSplash)
Jakarta, CNN Indonesia --
Perayaan Tahun Baru Imlek di China sekarang mengalami transformasi unik nan dibawa oleh generasi muda. Mereka merayakan Imlek secara virtual, seperti membakar dupa digital, berganti bingkisan secara elektronik, hingga menggunakan AI.
Tradisi antik seperti membakar dupa dan berkunjung ke kuil, sekarang beranjak ke ranah digital. Para muda-mudi nan capek dengan rutinitas bentuk memilih "cyber worshipping" alias pemujaan daring sebagai langkah baru menyambut keberuntungan dan ketenangan batin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka mengikuti siaran langsung berisi asap dupa digital, lentera berkedip, dan patung Buddha, menciptakan suasana relaksasi nan menenangkan.
Melansir South China Morning Post, beberapa aplikasi merespons tren ini dengan menghadirkan simulator kayu ikan elektronik nan dapat diketuk secara otomatis alias manual. Aplikasi ini membantu pengguna mengurangi stres dan menenangkan pikiran.
Situs kuil daring juga menawarkan jasa seperti "penawaran dupa daring" dan "pemujaan Buddha virtual" nan diklaim sebagai pengganti ramah lingkungan dan praktis tanpa perlu berjalan ke kuil fisik.
Harganya terjangkau, mulai dari 5,9 yuan (sekitar Rp14.300) untuk membakar sebatang dupa, hingga 9,9 yuan (sekitar Rp24.000) untuk menyalakan lampion berkah. Layanan ini menarik ribuan pengguna aktif.
Salah satu platform melaporkan sudah melayani 891.500 pengguna nan mengikat 1,23 juta pita angan pada pohon angan digital serta menyalakan 539.800 lampion tenteram di bumi maya.
Tak hanya jasa ritual secara digital, karakter kepintaran buatan (AI) sekarang juga menjadi pelipur lara bagi banyak muda-mudi China. Tekanan sosial selama liburan Imlek, seperti pertanyaan tentang pernikahan, penghasilan, dan karier, menyebabkan kejadian fobia sosial Tahun Baru.
Untuk mengatasi rasa kesenyapan dan kecemasan, banyak nan memilih menjauhi kampung laman dan mencari kenyamanan lewat pendamping AI serta ritual digital.
Su Ran, seorang wanita muda nan merayakan Imlek sendirian di apartemen sewa di Beijing, mengaku tidak menemukan kehangatan dari telepon keluarga, tetapi dari karakter AI kocak di ponselnya.
"Karakter itu meredakan kekhawatiran saya menjelang Imlek. Meski radiator di apartemen saya kurang hangat dan udara dingin masuk lewat jendela, memandang karakter itu di layar membikin ruangan terasa sedikit lebih hangat," ujar Su Ran.
Adapun Yang, wanita kelahiran 2002 memilih membeli barang-barang digital daripada untuk merayakan Imlek.
"Beberapa orang merasa bingkisan bentuk lebih sakral, tetapi saya susah menebak apa nan diinginkan orang lain. Hadiah digital lebih kreatif," ujar Yang.
Menurut mantan psikiater dan konselor tersertifikasi, Shi Yu, bingkisan bentuk memang mempunyai nilai ritual, tetapi bisa menjadi beban.
"Hadiah makanan sering menimbulkan duplikasi, masalah penyimpanan, dan kekhawatiran soal kedaluwarsa. Hadiah digital lebih sesuai dengan kebutuhan generasi muda nan dinamis," kata Shi Yu.
Menurutnya, bingkisan digital menghilangkan kerepotan berbelanja bentuk sekaligus tetap menciptakan suasana perayaan.
"Bagi nan merayakan jauh dari rumah, bingkisan ini membantu menjembatani jarak, memungkinkan personalisasi, mencerminkan selera individu, dan menimbulkan rasa 'kita betul-betul saling mengerti'," Shi Yu menambahkan.
(rti)
[Gambas:Video CNN]
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·