CNN Indonesia
Jumat, 13 Feb 2026 13:52 WIB
Ilustrasi. Universitas Terbuka (UT) mendorong hasil riset para pengajar masuk pada tahap hilirisasi dan komersialisasi melalui perlindungan paten. (iStock/appledesign)
Jakarta, CNN Indonesia --
Universitas Terbuka (UT) mendorong hasil riset para pengajar tak berakhir sebagai tanggungjawab akademik, melainkan masuk pada tahap hilirisasi dan komersialisasi melalui perlindungan paten.
Sejak 2025, UT telah mengusulkan 42 permohonan paten, 22 di antaranya telah memperoleh sertifikat dari Dagang Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum RI.
Sementara 20 paten lainnya tetap berada dalam beragam tahapan proses, mulai dari tanggapan substansi hingga menunggu pengumuman dan persetujuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Capaian tersebut diungkapkan dalam aktivitas Penyerahan Sertifikat dan Sosialisasi Pengajuan Paten nan digelar di Ruang Rasamala, Wisma 2 Universitas Terbuka, Rabu (28/1).
Kegiatan itu menegaskan perubahan arah besar UT bahwa riset kudu berujung pada penemuan nan terlindungi, berbobot ekonomi, dan berakibat langsung bagi masyarakat.
Direktur Direktorat Paten, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, dan Rahasia Dagang Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum RI Andrieansjah membujuk sivitas akademika UT untuk memandang paten sebagai aset strategis.
"Sertifikat ini tidak hanya untuk dipajang, tetapi kudu dimanfaatkan secara ekonomi alias dikomersialisasikan. Dan komersialisasi itu tidak kudu menyasar industri besar, bisa juga melalui industri mini dan UMKM," ujar Andrieansjah dalam kesempatan tersebut.
Menurutnya, paten dapat dilisensikan, menghasilkan royalti, dan menjadi sumber pendapatan berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Keilmuan LPPM UT Mery Noviyanti menjelaskan bahwa peningkatan pengajuan paten tak terlepas dari support sistematis nan dimulai sejak tahun lalu.
"Awalnya dari nol. Karena itu kami menyelenggarakan konsinyering untuk mendorong pengajuan paten di UT," ujar Mery.
Beragam penemuan nan dilahirkan meliputi beragam sektor, mulai dari kesehatan, pangan, pertanian, lingkungan, hingga UMKM. Semua ini mencerminkan ragam penemuan nan lahir dari kebutuhan nyata masyarakat.
Di bagian pangan dan kesehatan, Eko Yuliastuti Endah Sulistyawati berbareng tim mengembangkan komposisi bihun berbahan pati resisten dari beras hitam dan sagu, serta bihun berbahan beras merah kaya pati resisten sebagai pangan pengganti bagi penderita hiperkolesterolemia.
Inovasi pangan lain datang melalui metode pembuatan tepung parijoto nan berpotensi dikembangkan menjadi produk berbobot ekonomi.
Pada sektor lingkungan dan pertanian, Nurhasanah berbareng para inventor lainnya menghasilkan proses pembuatan pupuk organik cair dari ekstrak jagung sebagai pemacu pertumbuhan tanaman, teknologi pembakaran batu bata menggunakan limbah sekam padi, serta proses pengolahan limbah cair industri pengolahan daging secara biologis menggunakan bio-starter dan kuman probiotik.
Inovasi ini menjawab tantangan keberlanjutan lingkungan sekaligus mendukung sektor pertanian dan industri kecil.
Kemudian Etty Puji Lestari berbareng tim mengembangkan mesin Agricubesmart hidroponik untuk meningkatkan ketahanan pangan. Sementara itu, Rahmad Purnama dan kolega menghadirkan sistem lampu penerangan berbasis panel surya dengan stabilitas nan dioptimalkan.
Alat perontok lada, kompor batik dengan wajan pegas, hingga perangkat peminjaman dan pengamanan kitab berdikari melengkapi deretan paten nan menyasar kebutuhan UMKM, industri kreatif, dan sektor pendidikan.
Dengan puluhan paten nan telah tersertifikasi dan tetap terus diproses, Universitas Terbuka menunjukkan bahwa pendidikan tinggi berbasis jarak jauh bisa melahirkan penemuan nan membumi.
Dari pangan, lingkungan, energi, hingga pendidikan, paten-paten UT menjadi jembatan antara kampus dan masyarakat.
Selaras dengan SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 8 tentang pertumbuhan ekonomi, dan SDG 9 tentang penemuan dan industrialisasi berkelanjutan, UT menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi nan tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan akibat nyata bagi Indonesia.
(fef)
[Gambas:Video CNN]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·