Jakarta, CNN Indonesia --
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono meminta produsen pestisida menahan rencana kenaikan nilai meski terjadi kelangkaan bahan baku akibat bentrok di Timur Tengah (Timteng).
Ia berencana memanggil asosiasi produsen untuk meminta penjelasan sekaligus mencari solusi agar biaya produksi petani tidak semakin meningkat.
Sudaryono mengatakan pihaknya belum menerima laporan resmi mengenai rencana kenaikan nilai pestisida tersebut. Namun dia menegaskan pihaknya bakal segera meminta penjelasan kepada asosiasi produsen untuk memahami persoalan nan terjadi di lapangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Belum, saya belum dapet laporannya. Mungkin kelak asosiasi pestisida saya panggil aja dulu ya. Kan pasti kita selalu mau dengar masalahnya apa, terus kita telaah solusinya, kan kita mesti cari solusinya kan? Apapun kan pestisida itu kan komponen krusial bagi pertanian," ujar Sudaryono di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Kamis (12/3).
Ia menilai kenaikan nilai pestisida sebaiknya dihindari lantaran dapat langsung berakibat pada biaya produksi petani. Menurutnya, nilai nan sudah terlanjur naik biasanya susah untuk kembali turun.
"Kalau bisa sih jangan naik nilai lah ya, itu kan nambah biaya produksi gitu. Karena jika udah naik tuh susah turun," ujarnya.
Sudaryono menambahkan dirinya bakal terlebih dulu mendengar penjelasan dari asosiasi produsen sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
Isu kenaikan nilai pestisida mencuat setelah beredar notulen rapat Asosiasi Produsen Pestisida Indonesia (APROPI) tertanggal 9 Maret 2026.
Dalam arsip tersebut disebutkan para personil asosiasi sepakat mempertimbangkan kenaikan nilai jual sebesar 20 persen - 30 persen untuk seluruh produk.
Rapat itu membahas akibat situasi geopolitik dunia terhadap industri pestisida. Dalam notulen disebutkan kondisi geopolitik saat ini menyebabkan kelangkaan bahan aktif dan bahan pendukung formulasi pestisida serta diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah.
Selain rencana penyesuaian harga, rapat tersebut juga mencatat kesepakatan untuk memperpendek waktu pembayaran hingga menjadi pembayaran tunai bagi produk-produk pestisida, termasuk peralatan dengan perputaran penjualan lambat.
Gangguan pasokan bahan baku industri juga dikaitkan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di area Timur Tengah nan berakibat pada jalur perdagangan global.
Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) sebelumnya memperingatkan bentrok di area tersebut berpotensi mendorong kenaikan biaya logistik dunia lebih dari 30 persen jika berjalan dalam waktu lama.
Kenaikan biaya tersebut dipicu oleh melonjaknya nilai minyak bumi serta perubahan rute pelayaran akibat meningkatnya akibat keamanan di sejumlah jalur perdagangan penting, termasuk Selat Hormuz.
Selat tersebut merupakan salah satu jalur perdagangan daya paling vital di dunia. Sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia alias sekitar 20 juta barel per hari melewati jalur tersebut sehingga gangguan di area ini berpotensi mempengaruhi biaya pengedaran beragam komoditas, termasuk bahan baku industri pertanian seperti pestisida.
[Gambas:Video CNN]
(del/sfr)
Add
as a preferred source on Google
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·