CNN Indonesia
Jumat, 10 Apr 2026 00:30 WIB
Ilustrasi. Sejumlah penelitian melaporkan bahwa semakin lama anak terpapar layar, semakin besar pula akibat terjadinya speech delay alias keterlambatan bicara. (Istockphoto/ LDProd)
Jakarta, CNN Indonesia --
Era digital seperti sekarang, gadget sudah menjadi bagian dari keseharian, termasuk bagi anak-anak. Mulai dari menonton video, bermain game, hingga belajar lewat layar.
Di kembali kemudahannya, paparan screen time nan berlebihan rupanya bisa berakibat pada perkembangan anak, terutama pada keahlian bicara.
Sejumlah penelitian melaporkan bahwa semakin lama anak terpapar layar, semakin besar pula akibat terjadinya speech delay alias keterlambatan bicara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengacu pada penelitian nan dipublikasikan National Institutes of Health (NIH), dari 192 anak nan diteliti,sekitar 25,5 persen mengalami speech delay.
Risiko ini meningkat seiring lama screen time. Pada anak nan terpapar layar lebih dari 4 jam per hari, sekitar 40 persen di antaranya mengalami keterlambatan bicara.
Speech delay juga lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki, ialah sekitar 32,7 persen, dibandingkan wanita sekitar 17 persen.
Penelitian ini menunjukkan bahwa lama screen time menjadi aspek penting, apalagi lebih berpengaruh dibandingkan jenis konten nan ditonton.
Sederhananya, keahlian bicara pada anak berkembang lewat hubungan langsung, seperti ngobrol, bermain, alias membaca bersama. Saat anak terlalu sering menatap layar, waktu untuk berinteraksi ini jadi berkurang.
Selain itu, layar sifatnya satu arah, anak hanya menerima info bukan berlatih merespons alias berkomunikasi secara aktif.
Temuan serupa terlihat dalam jurnal The Relationship of Screen Time to the Incidence of Speech Delay in Children Aged 2-5 Years. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pada golongan anak dengan intensitas screen time tinggi, sekitar 52,8 persen mengalami keterlambatan bicara.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan golongan anak dengan paparan layar nan lebih rendah.
Kemudian, secara keseluruhan, lebih dari separuh responden dalam penelitian tersebut tercatat mengalami keterlambatan perkembangan bahasa.
Peneliti juga mencatat bahwa penggunaan gadget dengan lama lebih dari 60 menit per harinya dan dilakukan secara rutin nyaris setiap hari dapat meningkatkan akibat gangguan perkembangan bahasa pada anak.
Tak hanya lama layar, penelitian NIH juga menyoroti pentingnya hubungan orang tua. Anak nan lebih sering diajak berbincang dan berinteraksi langsung condong mempunyai perkembangan bahasa nan lebih baik.
Sebaliknya, screen time nan tinggi tanpa pendampingan bisa memperbesar akibat speech delay.
Menariknya, anak nan tumbuh dalam lingkungan multilingual (lebih dari satu bahasa) justru menunjukkan akibat speech delay nan lebih rendah.
Tidak kudu anti-gadget, tapi perlu dibatasi
Meski begitu, bukan berfaedah anak sama sekali tidak boleh menggunakan gadget. Kuncinya ada pada pengaturan lama dan pendampingan.
Orang tua tetap perlu memastikan anak mendapatkan cukup waktu untuk berinteraksi langsung, bermain aktif, dan berkomunikasi.
Speech delay sendiri biasanya ditandai dengan keahlian bicara anak nan tidak sesuai dengan usianya. Misalnya, anak belum bisa mengucapkan kata sederhana, susah menyusun kalimat, alias jarang merespons saat diajak bicara.
Jika mulai muncul tanda-tanda tersebut, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter ahli anak.
Teknologi memang tidak bisa dihindari, bakal tetapi penggunaan nan bijak tetap jadi kunci agar tumbuh kembang anak, termasuk keahlian bicaranya tetap optimal.
(anm/fef)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·