Jakarta, CNN Indonesia --
Orang tua biasanya mengisahkan cerita fabel kepada anaknya sebagai pengantar tidur. Cerita nan dituturkan pun beragam, mulai dari kisah si kancil, tentang kura-kura nan pantang menyerah, dan lain sebagainya.
Cerita-cerita tersebut termasuk ke dalam fabel. Untuk lebih memahami apa itu fabel, Anda bisa mempelajari karakter serta contoh ceritanya berikut ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fabel alias cerita fabel sering kali memuat tokoh-tokoh hewan, misalnya singa, rubah, buaya, dan tetap banyak lagi. Tokoh-tokoh nan dipilih biasanya mewakili karakter dari cerita keseluruhan.
Dalam pelajaran bahasa Indonesia, cerita fabel tak jarang dikisahkan oleh guru. Siswa harus memahami inti dari cerita lantaran umumnya terdapat pesan moral nan dapat diambil.
Pengertian fabel
Apa itu fabel? Fabel adalah cerita nan menggambarkan watak dan budi manusia nan pelakunya diperankan binatang, berisi pendidikan moral dan budi pekerti, seperti dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Ditambahkan dari buku Fabel karya Dra. Rosmawati, M.Pd, fabel berasal dari bahasa latin, ialah fabula nan aslinya mempunyai makna nyaris sama dengan mitos dalam bahasa Yunani.
Fabel adalah corak narasi nan biasanya menampilkan hewan dengan perilaku dan berbincang sebagai manusia.
Dalam cerita fabel, terdapat pelajaran moral dan sering kali dirumuskan secara definitif pada bagian akhir. Tokoh utama dalam fabel adalah hewan nan jinak dan hewan liar.
Ciri-ciri teks alias cerita fabel
Setelah memahami pengertian apa itu fabel, mengetahui ciri-cirinya juga penting. Mengutip buku Fabel dan Legenda, berikut adalah ciri-ciri fabel.
- Tokoh nan berkedudukan adalah binatang.
- Tema nan digunakan dalam cerita fabel biasanya berasosiasi dengan kondisi sosial.
- Perwatakan nan digambarkan pada fabel menyerupai karakter manusia, misalnya baik, buruk, egois, sombong, serakah, dan lain sebagainya.
- Tokoh fabel bisa berpikir, melakukan komunikasi dan berkelakuan laku layaknya manusia.
- Sudut pandang dalam cerita fabel adalah perspektif pandang orang ketiga.
- Alur cerita fabel menggunakan alur maju.
- Di dalam fabel ada pula bentrok nan mencakup persoalan dalam bumi hewan nan mirip dengan bumi manusia.
- Cerita fabel juga komplit dengan latar belakang, latar waktu, latar sosial hingga latar emosional.
- Bahasa nan digunakan pada fabel sifatnya naratif dan condong informal layaknya kehidupan sehari-hari.
- Dalam cerita fabel selalu mengandung pesan moral untuk pembacanya.
Contoh fabel
Untuk lebih memahaminya, simak contoh cerita fabel berjudul Kancil nan Licik berikut ini nan dikutip dari buku Kumpulan Fabel Nusantara nan ditulis Astri Damayanti.
Kancil nan Licik
Seekor kancil berlari-lari mini di jalanan setapak di pinggir hutan. Dengan riangnya, dia menyanyi dan menyapa setiap hewan nan ditemui di sepanjang perjalanan.
Sampailah dia di sebuah ladang nan ditumbuhi pohon mentimun. Hari nan sangat terik membikin kancil tergoda untuk menyantap mentimun nan segar itu. Namun, kancil kudu bersabar lantaran Pak Tani tetap berada di tengah ladang.
Menjelang sore, Pak Tani akhirnya meninggalkan ladang. Karena rasa lapar nan ditahannya sejak siang, kancil langsung masuk ke ladang dan menyantap mentimun nan ada di sana hingga kenyang. Kancil baru kembali ke rimba saat hari menjelang malam.
"Besok, saya bakal datang ke sini lagi," pikir si kancil.
Esok harinya, Pak Tani terkejut memandang ladang mentimun miliknya rusak.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Dari jejak gigitannya, pasti hewan bergerigi kecil. Aku bakal memberinya pelajaran."
Pak Tani berkeliling ladang mencari tahu jenis hewan dan dari mana hewan itu masuk ke dalam ladang. Setelah cukup lama menyusuri ladang, Pak Tani menemukan jejak jejak kaki hewan. Akhirnya, di dekat tempat itu, dibuat sebuah lubang jebakan nan ditutupi dengan dedaunan.
"Malam ini, hewan itu pasti kembali. Namun, kali ini dia tidak bakal lolos," kata Pak Tani sembari melangkah pulang.
Dugaan Pak Tani benar. Malam itu, kancil datang lagi melewati jalan nan sama. Tanpa rasa curiga, dia melangkah melenggang sembari sesekali berlari-lari kecil. Ketika sampai di pinggir ladang, tiba-tiba tubuhnya terjerembab ke dalam sebuah lubang.
"Bruuk!"
Sejenak kancil tertegun. Mau tak mau dia kudu berpikir panjang, otak kancil segera mencari akal. Ia pun melantunkan mantra dari dalam lubang.
"Pat-terempat besok hari bakal kiamat, masuklah ke lubang agar selamat!" seru kancil dengan lantang dari dalam lubang.
Seekor tikus nan lewat mendengar mantra itu langsung saja menceburkan diri ke dalam lubang tersebut. Tak hanya itu, kelinci, monyet, kambing, dan ular juga mempercayai mantra tersebut dan ikut masuk ke dalam lubang. Mereka percaya nan berada dalam lubang bakal selamat saat hari kiamat.
Menjelang pagi, lubang mini itu sudah penuh. Tiba-tiba mereka mencium aroma nan banget busuk.
"Teman-teman, siapa di antara kalian nan kentut hingga baunya sangat mengganggu. Lubang ini terlalu sempit untuk kita. Jadi, nan kentut kudu dilempar keluar!" seru si kancil.
Semua nan ada di situ terdiam dan memandang satu sama lain.
"Kalau tidak ada nan mengaku, mari kita periksa," usul kambing nan disetujui semua hewan. Setelah diperiksa rupanya kancil nan kentut. Akhirnya dengan terpaksa dia dilempar ke luar lubang.
Setelah berada di luar lubang, kancil mengucapkan selamat tinggal pada teman-temannya.
"Sampai bertemu lagi, kawan-kawan. Maafkan saya nan telah menipu kalian semua. Hari ini hariakhir rupanya tidak terjadi. Jangan lupa juga sampaikan salamku untuk Pak Tani," kata kancil sembari berlari kencang menuju hutan.
Pesan moral dari cerita fabel di atas adalah kecerdikan rupanya dapat dimanfaatkan untuk menipu mereka nan bodoh.
Demikian penjelasan mengenai apa itu fabel, dilengkapi karakter dan contoh ceritanya. Selamat belajar.
(hdr/juh)
9 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·