slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Asal-usul Wayang Kulit Dan Tokoh Semar Asli Indonesia

Sedang Trending 1 jam yang lalu

CNN Indonesia

Rabu, 29 Apr 2026 19:10 WIB

Menelaah asal-usul wayang kulit, terutama tokoh Semar, nan sempat disebut PM Singapura sebagai pembentuk budaya Melayu Singapura. Menelaah asal-usul wayang kulit, terutama tokoh Semar, nan sempat disebut PM Singapura sebagai pembentuk budaya Melayu Singapura. (iStockphoto/Royaax)

Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dirujak netizen Indonesia gara-gara menyebut wayang kulit ikut membentuk budaya Melayu Singapura. Ia memainkan wayang kulit Semar di Pusat Warisan Budaya Melayu, Singapura.

"Temukan seni wayang kulit dan saksikan langsung di Pusat Warisan Budaya Melayu," demikian tulis Wong dalam caption unggahan video singkatnya.

"[Salah satu pameran terbaru di Pusat tersebut, mencerminkan gimana pengaruh dari seluruh nusantara telah menyatu untuk membentuk budaya Melayu Singapura kita]," lanjut Wong.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Unggahan tersebut langsung dihujani kritik netizen nan kebanyakan berasal dari Indonesia. Mereka menekankan wayang kulit terutama tokoh Semar merupakan seni nan berasal dari Indonesia, terutama dari budaya Jawa.

Lakon-lakon dalam wayang kulit seperti Mahabarata dan Ramayana sebenarnya disadur dari folklor peradaban Hindu India nan kemudian diadopsi lagi dengan mencampur budaya lokal nusantara.

Dari mana asal-usul wayang kulit, terutama tokoh Semar?

Wayang kulit tak hanya dikenal sebagai tontonan seni tradisional Jawa, tapi juga artefak budaya nan menyimpan kedalaman nilai hidup dalam setiap lekuk tokoh dan narasi nan dimainkan.

Terkait asal-usulnya, seperti diberitakan detikcom, bumi akademis mempunyai beberapa perspektif.

Namun, pendapat nan cukup kuat di kalangan peneliti lokal maupun mancanegara, seperti Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, hingga Kruyt-meyakini bahwa wayang lahir dan berakar di tanah Jawa, tepatnya Jawa Timur.

[Gambas:Video CNN]

Keyakinan itu berangkat dari kebenaran bahwa wayang mempunyai ikatan jiwa nan sangat kuat dengan tradisi serta spiritualitas masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, nan terpancar jelas melalui kehadiran tokoh-tokoh Punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.

Senada, Universitas Negeri Surabaya menjelaskan bahwa Semar merupakan tokoh original Jawa, nan terwujud dari produktivitas lokal untuk menyebarluaskan pandangan hidup masyarakat Nusantara.

Sebagai pemimpin para Punakawan, Semar dipandang sebagai simbol kebijaksanaan, pelindung, sekaligus gambaran nilai-nilai etis masyarakat Jawa.

Dalam beragam pakem pewayangan, sosok ini diyakini sebagai penjelmaan Sang Hyang Ismaya, kakak dari Sang Hyang Manikmaya alias Batara Guru. Peran krusialnya adalah menjadi kompas moral dan penasihat bagi para ksatria, terutama family Pandawa.

Meski turun ke bumi dengan bentuk rakyat jelata nan tambun, berhidung pesek, dan jenaka, karakter Semar justru memikul nilai luhur nan mendalam seperti kejujuran, kesabaran, kerendahan hati, serta keluhuran budi nan apa adanya.

Secara historis, para peneliti menilai bahwa tradisi wayang telah tumbuh subur seiring dengan kejayaan kerajaan di Jawa Timur, khususnya pada masa pemerintahan Prabu Airlangga dari Kerajaan Kahuripan di antara tahun 976 hingga 1012.

Jauh sebelum itu, ialah sekitar abad ke-10 di masa pemerintahan Raja Dyah Balitung, para pujangga Indonesia tercatat sudah mulai menuangkan kisah-kisah wayang ke dalam corak karya sastra.

Salah satu buktinya adalah naskah kakawin dalam bahasa Jawa Kuna nan diadaptasi dari Kitab Ramayana karya Walmiki dari India.

Menariknya, pujangga Jawa tidak sekadar menerjemahkan naskah Mahabharata maupun Ramayana secara mentah, melainkan melakukan gubahan imajinatif dengan menyisipkan falsafah lokal ke dalamnya, sebagaimana terlihat dalam kakawin Arjunawiwaha karya Empu Kanwa.

Seiring berjalannya waktu, kegunaan wayang pun mengalami evolusi, dari nan awalnya sekadar media penghormatan arwah nenek moyang, sekarang beralih bentuk jadi sarana intermezo sekaligus instrumen pendidikan nan terus relevan bagi generasi ke generasi.

(van/chri)

Add as a preferred
source on Google

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru