Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menargetkan harga cabai rawit mulai kembali normal pada pekan ketiga Ramadan seiring masuknya masa panen raya di sejumlah sentra produksi di Pulau Jawa.
"Minggu ketiga puasa ini sudah mulai panen raya (cabai rawit). Itu info dari Ditjen Hortikultura. Panennya wilayah Jawa, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat," kata Sekretaris Bapanas Sarwo Edhy di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Selasa (3/3).
Ia menyebut nilai cabe rawit saat ini sebenarnya sudah mulai turun dibandingkan pekan sebelumnya lantaran panen mulai berjalan di beberapa daerah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Cabai rawit itu sekarang sudah mulai turun (harganya) lantaran di beberapa sentra ada panen. Harga pangan lain secara umum relatif stabil," ujarnya.
Berdasarkan paparan perkembangan Indeks Perkembangan Harga (IPH) Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Minggu keempat Februari 2026, rata-rata nilai cabe rawit nasional tercatat Rp70.036 per kilogram (kg).
Secara umum, nilai cabe rawit naik 21,82 persen dibandingkan Januari 2026 dan berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) nan ditetapkan pemerintah sebesar Rp57 ribu per kilogram.
Kenaikan IPH cabe rawit terjadi di 61,39 persen wilayah Indonesia, dengan 221 kabupaten/kota mengalami kenaikan harga. Dalam catatan tersebut, nilai tertinggi mencapai Rp200 ribu per kg, sementara nilai terendah Rp26.111 per kg.
Sejumlah wilayah dengan lonjakan signifikan antara lain Kabupaten Lombok Tengah ialah menjadi Rp98.861 per kg, Kabupaten Pamekasan menjadi Rp90.370 per kg, dan Kabupaten Sidoarjo Rp83.333 per kg.
Sarwo menjelaskan salah satu hambatan nan membikin nilai sempat melonjak adalah aspek cuaca. Petani condong menunda panen saat musim hujan lantaran akibat kerusakan produk.
"Para petani kan biasanya enggan memanen ketika musim hujan. Karena jika musim hujan dipanen, itu biasanya busuk. Nah, itu kendalanya. Sehingga para petani jika misalnya hari ini tidak hujan, itu panen sampai malam hari. Kemudian langsung di-drop ke pasar-pasar induk biasanya, alias pasar-pasar langganan mereka," katanya.
Ia mengakui nilai di sejumlah wilayah sempat menembus di atas Rp100 ribu per kg. Namun sekarang nilai mulai bergerak turun.
"Kalau minggu depan mungkin ada nan di atas Rp100 ribu (per kg), sekarang sudah Rp90 ribu. Saya dengar tadi pagi sekitar Rp70 ribu di pengecer. Mungkin jika di Kramat Jati sekitar Rp65 ribu alias Rp60 ribu (per kg(. Harga referensi pemerintah Rp57 ribu. Memang untuk cabe rawit merah ini agak tinggi," ujarnya.
Bapanas, lanjut Sarwo, terus berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) serta para petani Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI) untuk menjaga suplai ke pasar tradisional, terutama menjelang Lebaran.
Fasilitasi pengedaran bakal tetap dilakukan berasas permintaan pemerintah wilayah agar nilai di wilayah sentra dan wilayah defisit bisa lebih seimbang.
[Gambas:Video CNN]
(del/ins)
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·