CNN Indonesia
Rabu, 15 Apr 2026 05:59 WIB
Ilustrasi. Soft living disebut dapat membantu mengurangi stres dan menjaga kesehatan mental. Benarkah demikian? Simak penjelasan psikolog. (iStockphoto/ViewApart)
Jakarta, CNN Indonesia --
Gaya hidup soft living kerap dianggap sebagai solusi untuk menurunkan stres di tengah tekanan kerja dan tuntutan hidup nan semakin tinggi.
Konsep ini menekankan hidup nan lebih pelan, tidak memaksakan diri, serta memberi ruang untuk kesehatan mental.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, pendekatan ini tidak selalu bisa diterapkan secara penuh, terutama bagi mereka nan berada di fase awal karier.
Psikolog klinis, Mira Amir menjelaskan bahwa soft living tidak boleh disalahartikan sebagai hidup tanpa tanggung jawab.
Ia menekankan bahwa konsep ini muncul sebagai respons terhadap style hidup nan terlalu memaksakan diri seperti workaholic, nan justru berisiko merusak kesehatan mental.
"Jangan sampai disalahartikan bahwa boleh bermalas-malasan. Ini muncul sebagai respons dari kondisi nan terlalu ekstrem misalnya orang nan terlalu memaksakan diri dalam bekerja," kata Mira saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (7/4).
Menurut Mira, efektivitas soft living sangat berjuntai pada, konteks terutama lingkungan dan fase kehidupan seseorang. Bagi pekerja kantoran dengan sasaran ketat, menerapkan soft living secara penuh justru bisa menimbulkan bentrok baru.
"Kalau dipaksakan tanpa memandang lingkungan, bisa jadi tidak cocok. Akhirnya justru menimbulkan masalah lantaran nggak match sama tuntutan pekerjaan," ujarnya.
Ia menilai konsep ini lebih ideal diterapkan pada pekerjaan nan elastis alias mandiri, seperti di bagian kreatif. Sementara di lingkungan korporat dengan sistem target, pendekatan ini perlu disesuaikan.
Selain itu, dia menyarankan pendekatan nan lebih adaptif ialah mengombinasikan soft living dengan tuntutan nan ada.
"Manusia nan sehat itu adaptif. Tidak menelan mentah-mentah lingkungan, tapi juga tidak memaksakan kehendak pribadi," ujarnya.
Ia menyarankan untuk melakukan negosiasi dengan lingkungan baik secara terbuka maupun secara internal dengan diri sendiri, untuk menentukan pemisah nan realistis.
Safira (25) tenaga kerja swasta di Jakarta mengaku merasakan faedah dari soft living terutama dalam mengatur ekspektasi diri.
"Aku jadi lebih sadar jika nggak semua perihal kudu dipaksain. Dulu mudah banget stres lantaran ngerasa kudu selalu produktif. Sekarang lebih bisa ngatur jam kerja," katanya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (9/4).
Berbeda dengan Safira, Dana (24) seorang fresh graduate nan sedang mencari kerja, justru merasa konsep ini belum sepenuhnya relevan dengan kondisinya saat ini.
"Sebagai fresh graduate, saya sendiri tetap di fase butuh banget kerja. Jadi rasanya belum bisa terlalu santuy alias pilih-pilih. Kalau terlalu soft living, saya takut malah jadi nggak berkembang," ujar Dana saat dihubungi, Kamis (9/4).
Salah satu tantangan utama dalam menerapkan soft living adalah keahlian menentukan pemisah diri, terutama saat menghadapi atasan. Banyak pekerja merasa tidak lezat untuk menolak tugas, nan pada akhirnya berakibat pada kelelahan mental.
Menurut Mira, perihal ini tidak lepas dari budaya nan membentuk langkah seseorang bersikap sejak kecil.
"Bahwa kan kita besar di lingkungan family terutama menanamkan bahwa ya apa nan diberikan oleh nan tua, nan lebih senior, nan lebih punya otoritas, gitu ya Anda jalankan itu. Akibatnya tidak ada ruang untuk menyuarakan aspirasi," ujarnya.
Sebagai solusi, dia menyarankan pengembangan sikap asertif dalam berkomunikasi.
"Yang kami sarankan adalah seseorang bisa mengembangkan sikap asertif dan kemudian dituangkan dalam komunikasi asertif," ujarnya.
Dengan langkah ini, seseorang tetap bisa menyampaikan keberatan tanpa menimbulkan konflik. Mira juga mengingatkan bahwa konsep pemisah diri tidak boleh disalahgunakan sebagai argumen untuk menghindari tanggung jawab.
"Ada juga nan semua ditolak jadi mau namanya kerjanya apa," ujarnya.
Ia menilai krusial untuk membedakan antara menjaga kesehatan mental dan tidak mau bekerja.
Soft living bisa membantu menurunkan stres jika diterapkan secara tepat dan sesuai konteks. Kuncinya bukan sekadar mengikuti tren, tetapi memahami kondisi diri dan lingkungan.
"Jadi buat teman-teman nan mau mengangkat prinsip soft living ini saya sarankan adalah untuk bermusyawarah dengan lingkungannya," kata Mira.
Dengan pendekatan nan seimbang, soft living dapat menjadi salah satu langkah menjaga kesehatan mental tanpa mengabaikan tanggung jawab.
(nga/fef)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·