slot gacor hari ini gampang menang manut88 slot dana manut88 link manut88 manut88 login manut88 manut88 link manut88 slot server thailand manut88 manut88 manut88 manut88 link alternatif manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 manut88 login manut88 login GampangJP

Bisakah Populasi Mobil Listrik Selamat Tanpa Insentif?

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menyatakan bukan tidak mungkin pasar kendaraan listrik di Indonesia tumbuh tanpa dorongan insentif pemerintah asalkan didukung strategi tepat mulai dari sisi harga, infrastruktur, dan ekosistem.

Ia menyebut terdapat sejumlah aspek nan dapat menggantikan peran insentif fiskal dalam menarik minat konsumen kendaraan listrik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pertama, kata Yannes, mengenai kelebihan biaya kepemilikan alias total cost of ownership (TCO) kudu lebih ekonomis dibanding kendaraan berbahan bakar minyak (BBM).

Kemudian kesiapan prasarana pengisian daya nan memadai, termasuk stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di beragam letak strategis. Hal tersebut dinilai berkedudukan krusial menciptakan ekosistem kendaraan listrik nan dimanfaatkan pengguna.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Faktor ketiga ialah stabilitas nilai jual kembali kendaraan listrik, di mana itu perlu didukung agunan baterai jangka panjang.

Berikutnya, Yannes bilang kudu didukung skema pembiayaan inovatif seperti leasing unik EV alias battery-as-a-service. Lainnya, mengenai diferensiasi produk melalui teknologi dan fitur nan tidak dimiliki kendaraan konvensional sehingga menjadi daya tarik konsumen.

"Lalu nan paling esensial adalah nilai BEV kudu masuk area Rp150 juta-200 jutaan agar menyentuh kelas menengah nan sesungguhnya," katanya melansir Antara, Jumat (24/4).

Selain itu, dia menilai kenaikan nilai BBM dapat menjadi momentum pendorong alami bagi mengambil EV di Indonesia.

"Setiap kenaikan Pertalite alias Pertamax Rp1.000/liter berpotensi mempercepat titik lunas BEV satu sampai dua tahun," ujarnya.

Namun demikian, dia menekankan pentingnya kesiapan prasarana sebagai aspek krusial. Ia mencatat rasio SPKLU di Indonesia tetap tertinggal dibanding standar internasional.

"Tanpa prasarana nan matang, range anxiety tetap jadi halangan utama mengambil BEV ini," katan Yannes.

Untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan, Yannes juga mendorong pengembangan kendaraan listrik dengan nilai terjangkau melalui peningkatan kandungan lokal serta produksi massal di dalam negeri.

Dengan langkah tersebut, pertumbuhan EV di Indonesia dinilai tetap dapat bersambung secara lebih sehat dan berkepanjangan tanpa ketergantungan pada insentif fiskal.

"Strateginya paling baik adalah segera mendorong EV segmen Rp150 juta-200 jutaan via TKDN tinggi dan skala produksi massal di dalam negeri," ucapnya.

(ryh/fea)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Berita Hari Ini

Berita Terbaru

Berita Indonesia

Cerita Horor

Pesona indonesia

Kabar Tempo

Liputan berita

Berita Indonesia Terbaru