Jakarta, CNN Indonesia --
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo angkat bunyi usai Moody's memangkas outlook ranking angsuran RI dari stabil menjadi negatif pada Kamis (5/2).
Menurut Perry, penyesuaian outlook itu tak mencerminkan esensial perekonomian Indonesia nan dinilai tetap solid. Namun, revisi outlook itu dipengaruhi oleh pandangan lembaga pemeringkat internasional itu bakal akibat dari penurunan kepastian kebijakan, nan andaikan bersambung dapat berimplikasi terhadap keahlian perekonomian.
"Penyesuaian outlook diyakini tidak mencerminkan pelemahan esensial perekonomian Indonesia. Di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian global, keahlian ekonomi domestik tetap solid," ujar Perry dalam keterangan resmi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kinerja solid itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi nan mencapai 5,39 persen kuartal IV 2025, sehingga laju secara keseluruhan 5,1 persen tahun lalu. Inflasi juga tetap terjaga sebesar 2,9 persen dan berada di kisaran sasaran. Selain itu, BI juga bakal menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
"Stabilitas sistem finansial juga tetap terjaga baik, ditopang likuiditas nan memadai, permodalan perbankan nan terjaga pada level tinggi, serta akibat angsuran nan rendah. Selain itu, digitalisasi sistem pembayaran nan tetap terjaga ditopang oleh prasarana nan stabil dan struktur industri nan sehat turut mendukung pertumbuhan ekonomi," ujar Perry.
Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah bakal tetap solid dengan tren meningkat, didukung oleh inflasi nan terkendali.
Bank sentral memperkirakan laju ekonomi meningkat di kisaran 4,9-5,7 persen pada 2026, ditopang kenaikan permintaan domestik sejalan beragam kebijakan Pemerintah dan berlanjutnya akibat positif dari bauran kebijakan Bank Indonesia. Kinerja positif tersebut diprakirakan bakal terus meningkat pada 2027, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,1-5,9 persen, serta inflasi nan bakal tetap terkendali.
Ketahanan eksternal perekonomian Indonesia juga tetap kuat di tengah gejolak global. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) terjaga sehat, ditopang oleh keahlian neraca perdagangan nan solid. Neraca perdagangan pada Desember 2025 mencatat surplus sebesar US$2,51 miliar, didukung oleh ekspor nonmigas berbasis sumber daya alam maupun manufaktur.
Posisi persediaan devisa Indonesia akhir Desember 2025 meningkat menjadi sebesar US$156,5 miliar, setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor alias 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Kemudian, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) 2026 diperkirakan tetap baik dengan defisit transaksi melangkah nan tetap rendah dalam kisaran defisit 0,9-0,1 persen PDB.
Nilai tukar Rupiah juga diprakirakan bakal tetap stabil dengan kecenderungan menguat, didukung oleh imbal hasil nan menarik, inflasi nan rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia, serta komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas Rupiah.
"Bank Indonesia bakal terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem finansial serta mendorong pertumbuhan ekonomi nan berkepanjangan di tengah ketidakpastian dunia nan meningkat, bersinergi erat dengan KSSK dan Program Asta Cita Pemerintah, serta terus berkoordinasi dengan Pemerintah untuk memperkuat komunikasi kebijakan dalam rangka memelihara kepercayaan pasar," ujar Perry.
Moody's mempertahankan sovereign credit rating Republik Indonesia pada Baa2 dan melakukan penyesuaian outlook menjadi negatif.
Dalam laporannya, lembaga pemeringkat internasional itu menyatakan bahwa afirmasi rating Indonesia pada Baa2 mencerminkan ketahanan ekonomi nan tetap kuat.
Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi nan stabil dan solid, serta didukung oleh kekuatan struktural termasuk sumber daya alam dan demografi nan menguntungkan, nan menopang prospek pertumbuhan jangka menengah.
[Gambas:Video CNN]
(sfr)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·