Makassar, CNN Indonesia --
Keluarga Bripda DP (19) nan tewas usai dianiaya seniornya di pondok Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) meminta agar kasus tersebut diusut secara transparan dan mendesak tersangka dijatuhi balasan pemecatan dengan tidak hormat alias PTDH.
"Kami meminta penegakan norma secara transparan. Kalau bisa pelaku dihukum seumur hidup dan PTDH, itulah angan kami selaku orangtua dan family korban," kata ayah korban, Aipda Muhammad Jabir, Selasa (24/2).
Dalam penyelidikan kasus tersebut, interogator Polda Sulsel telah menetapkan Bripda P sebagai tersangka. Pihak family menyambut baik adanya tersangka nan menewaskan Bripda DP nan merupakan Bintara lulusan 2025 tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sangat berterima kasih Propam dan interogator Polda Sulsel sudah menetapkan satu tersangka terhadap penganiayaan anak kami Bripda Dirja Pratama," ungkapnya.
Meski telah ada nan bertanggung jawab atas kejadian tersebut, Jabir meminta pihak kepolisian tetap mengusut tuntas orang-orang nan terlibat.
"Kami sebagai orangtua meminta kepada interogator agar transparan dan mengungkap lebih dalam, tidak berakhir pada satu tersangka saja," pungkasnya.
Sebelumnya, Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro menuturkan bahwa dugaan penyebab kematian Bripda DP (19) akibat membenturkan kepalanya sendiri setelah menerima laporan awal.
"Laporan awal nan kami terima nan berkepentingan meninggal, membentur-benturkan kepala. Itu pertama kami mendengar laporan," kata Djuhandhani di Polres Pinrang, Senin (23/2).
Korban sempat dibawa ke rumah sakit oleh sejumlah rekannya, setelah mengalami tindakan kekerasan dari seniornya di barak Samapta Polda Sulsel. Namun, nyawa korban tidak dapat tertolong.
"(Korban dibawa ke rumah sakit) tetap dalam keadaan sadar," jelasnya.
Sementara itu polisi telah menetapkan satu senior korban, Bripda P sebagai tersangka mengenai dugaan penganiayaan Bripda DP.
"Kita juga tetap melakukan pemeriksaan terhadap 5 personil ini, ada kawan satu angkatan korban, dia tidak melaporkan dan berupaya mengaburkan," ungkapnya.
Meski demikian, Djuhandhani mengaku belum mengetahui pasti motif dari tindakan kekerasan di dalam barak Samapta Polda Sulsel.
"Motifnya tetap kita lakukan penyelidikan dan kita berupaya menjawab pertanyaan publik mengenai kasus ini dengan menetapkan satu senior korban sebagai tersangka, Bripda DP," pungkasnya.
(mir/dal)
[Gambas:Video CNN]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·